Dien Albanna : Penulis Pengabdian Perwira Polri

Dien Albanna

 

Mungkin, ia dulu memang bukan bukan siapa-siapa. Hanya seorang lelaki tamatan SMP dan pejuang literasi. Tetapi, karena kegigihannya dalam belajar, lelaki beruntung itupun bisa membuka banyak kesempatan dan peluang seperti sekarang ini. Ia bisa hasilkan karya sebuah buku bentuk Novel Teenlit, hingga memoar para Perwira Polri, Menteri, hingga menuliskan kisah Tokoh Perjuangan Kemerdekaan, dengan salah dua dari karyanya adalah Sang Pedjoang dan Bhayangkara di Garis Van Mook.

Siapa lelaki itu?

Saat saya tengok dan kepoin lelaki yang saya maksud ini, lelaki dengan nama pena Dien Albanna di akun IG-nya. Di album IG-nya bertebaran foto buku-buku dengan cover kapolres yang mendominasi. Semua itu, adalah hasil karya nya. Siapa yang tidak penasaran dengannya? Dan, bagaimana cara ia dapat menghasilkan karya-karya tersebut?

Namanya adalah Dien Albanna. Pengalaman menulis kisah atau memoar pengabdian para pewira polri—kapolres hingga Kapolda—banyak dihasilkan olehnya. Genre buku yang dihasilkan pun beragam. Ada yang mengangkat kisah terorisme di Tuban dan adapula yang menulis tentang kisah kepahlwanan agen polisi saat bertugas di Garis Van Mook, tahun 1947.

Dien Albanna kedua kata itu tentu memiliki arti baginya. Nama ‘Dien’ diambil dari nama panggilan sehari-harinya. Atau, bisa juga dimaknai agama (dien). Sedangkan nama ‘Albanna’, diambil dari asal kelahirannya, Banten. Sehingga, bila digabungkan, maka nama Dien Albanna mewakili nama asli dan kelahirannya. Mungkin, maksudnya, ia tidak ingin dibilang seperti kacang lupa kulitnya kali ya. Jadinya, ia tetap mencantumkan tanah kelahirannya di setiap karya-karya yang dihasilkannya.

Karena banyak hal, termasuk nugas (nulis, maksudnya), Dien Albanna selalu pindah-pindah tempat tinggal. Terkahir, ia tinggal di Jember, Jawa Timur. Tidak disangka, ia juga pernah tinggal di Ponorogo dan menghabiskan masa remajanya di kota Reog itu. Terlepas dari kedua kota yang disebutkan, saya yakin telah banyak kota yang pernah disinggahi Dien Albanna.

Jika menelisik karya-karyanya, dahulu ia juga suka menulis novel dengan nama pena Putra Alam. Itu kira-kira pada sejak tahun 2012, ia menjadi penggila karya teenlit. Karya Novel genre Teenlit pun berjajaran di rak buku milik toko buku seperti halnya Gramdia, Togamas, Gunung Agung dan sejumlah toko buku lainnya. Anak Sekolah Paling Dodol, Cinta Kamseupay, Cinta ½ Monyet, Love is Kepo, Unit Galau Darurat, Brondong vs Janda, dan Jomblo Kebelet Cinta adalah karya Dien Albanna saat dirinya menjadi novelis dengan nama Putra Alam.

Di antara karyanya, Anak Sekolahan Paling Dodol, Kamseupay, Love Is Kepo, Mandalawangi, Ksatria Idiot, Jomblo Kebelet Cinta, Janda VS Berondong, Cinta ½ Monyet. Ini semua adalah karya Dien dengan nama pena Putra Alam.

Sebagai seorang penulis Novel, tentu berkisah, sudah menjadi hari-harinya. Menceritakan kejadian, dan setting lokasi serta membawa pembaca dalam suasana yang ia inginkan. Sebagai seorang penulis, ternyata Dien Albanna tidak hanya memiliki rasa tanggungjawab menulis saja, ia juga ingin dirinya menularkan semangat menulis dan membawa orang-orang di sekitarnya cinta akan literasi.

Writing Class

Adalah sebuah wadah menulis yang sempat didirikan Dien Albanna di Perpustakan Daerah Jember. Di sanalah ia berkeinginan untuk menciptakan para penulis muda. Anak SMP, SMA, dan beberapa mahasiswa, juga pernah belajar bersama Dien Albanna. Dikarenakan jumlah peserta Writing Class yang kian hari kian banyak, Dien Albanna pun dipinang untuk menjadi staff di Perpustakaan Daerah Jember itu. Selama delapan bulan, Dien Albanna menjadi bagian di Perpusda Jember, hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan meneruskan petualangannya di dunia literasi.

Menghasilkan karya sebuah buku, merupakan menjadi kebanggaan tersendiri bagi manusia yang mempunyai pekerjaan menulis, atau jika ia sudah dikatakan sebagai seorang penulis, tentu dengan adanya karya tulis, terutama sebuah buku merupakan hal yang luar biasa.

Namun tidak semua penulis merasa bangga dan lega jika hanya hasilkan satu karya saja. Penulis yang profesional berikut memiliki rasa tanggungjawab terhadap bangsa dan generasi muda, tentu akan terus berkarya dengan maksud dirinya mampu memberikan sumbangsih berupa karya-karya untuk kemajuan bangsa dalam dunia literasi maupun kesusastraan. Dan, itulah yang menjadi pemikiran seorang Dien Albanna, penulis kelahiran Banten, yang besar di Ponorogo.

Seiring berjalannya waktu, Dien Albanna kemudian beralih genre penulisan; dari teelit menjadi penulis memoar atau biografi.

Berawal dari AKBP. Sabilul Alif, yang kala itu  menjabat  Kapolres Jember, Dien Albanna kemudian mendapat kepercayaanmenuliskan pengabdian para Kapolres; Tanjungperak, Bojonegoro, Tuban, Gresik, Banjarbaru, Martapura, Probolinggo, Jember, adalah Kapolres-Kapolres yang telah Dien Albanna tulis kisah pengabdiannya. Bahkan, Kapolda dan kisah pengabdian menteri Rini Soemarno pun ditulis oleh Dien Albanna.

Beberapa tokoh yang pernah ditulis oleh Dien Albanna, di antaranya adalah : Irjen Pol Rudy Sufahriadi, Irjen Pol Rachmat Mulyana, Menteri Rini Soemarno, Kombes Pol Sabilul Alif, Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro, AKBP. Takdir Mattanete, AKBP. Fadly Samad, AKBP. Kelana Jaya, AKBP. Eddwi Kurniyanto, AKBP. Alfian Nurrizal, AKBP. Agus Sudaryatno, AKBP. Christian Tobing, AKBP. Yani Permana, AKBP. Dolly Primanto, dan beberapa Kapolres yang saat ini masih ditulis kisah pengabdiannya oleh Dien Albanna.

Buku-buku yang ditulis tidak hanya bertengger di perpustakaan kampus saja. Buku-bukunya juga bertengger di perpustakaan luar negeri. Heroik: Penumpasan Teroris di Bumi Wali, Operasi Tinombala: Penumpasan Gembong Teroris Santoso, Sang Bhayangkara: Menapak Jejak di Bumi Angling Darma, Nette Boy: Polisi Wangi Sejuta Prestasi, Sasirangan, Jenderal di Garis Promoter, dan masih beberapa karyanya yang telah berada di luar negeri mendahului penulisnya. Berikut adalah judul buku yang pernah Dien Albanna tulis : 

  • From Jember to Our Nation : Never Ending Innovation
  • Operasi Tinombala : Penumpasan Gembong Teroris Santoso
  • Polri Bagi Negeri : Ketika Setitik Nila Merusak Citra
  • Sang Bhayangkara : Menapak Jejak di Bumi Angling Darma
  • Nette Boy : Polisi Wangi Sejuta Prestasi
  • Heroik : Penumpasan Teroris di Bumi Wali
  • Srikandi Banjar Bungas : Satuan Khusus Sahabat Masyarakat
  • Bhayangkara di Garis Van Mook : Heroisme Agen Polisi di Bumi Poedjon
  • Pertempuran Tumpeng : Pilih Republik atau Belanda?
  • Sasirangan : Public Trust Command
  • Jenderal di Garis Promoter : Memoar Irjen Pol Rachmat Mulyana sebagai Agen of Change Tipologi Polda Kalimantan Selatan
  • Manggala : Bhayangkara dari Khatulistiwa
  • Polisi Millenial : Sebuah Aksi Kepedulian
  • Paskot : Bhayangkara di Zona Integeritas
  • Rini Soemarno : Srikandhi Indonesia Hadir untuk Negeri
  • Siharat : Turn Back Crime
  • Siharat : Back to School Mission
  • Polisi Berkah : Humanis Melayani, Santun Mengayomi
  • Bhayangkara di Tapal Batas
  • Mission : Commander in Sunrise of Java
  • Black Panther : Pasukan Penumpas Kejahatan
  • Di Jalan ada Maut : Hati – Hati atau Mati
  • Fadly Samad : Sebuah Catatan Media
  • The Commander : Genderang Bhayangkara di Tanah Jawara
  • Ajegeh Apike Jember : Energy Pengabdian Bhayangkara untuk Indonesia Maju
  • Pengabdianku adalah Ibadahku
  • SiMaRen : Sistem Informasi “Mass React & Notify
  • Manggala : Bhayangkara Perdana di Kubu Raya
  • Satya Haprabu : Kisah Kesetiaan Prajurit untuk Negara

Sebagian buku Dien Albanna terpampang di perpustakaan luar negeri, di antaranya pada tahun 2016, 2017, 2018, dan 2019. Terlacak buku-bukunya juga masuk dalam perpustakaan di kampus ternama, di antaranya University of Melbourne Libraries, National Library of Australia, University of Hawaii at Manoa, University Bibliotheek Leiden, University of Wahington Libraries, University of Wisconsin –  Medison, General Library System, Northwestern University, University of Michigan dan lainnya.

Hiks!

Di sini saya terkadang merasa sedih sama penulisnya, karena lebih duluan bukunya berada di luar negeri.

Yang sabar ya, Mas.

Tinggalkan Balasan