Fenomena Pengendara di Bawah Umur

kapolresiana

Waspadalah! Kendaraan bermotor bisa menjadi mesin pembunuh bagi orang yang belum siap secara fisik dan mental apabila diperbolehkan mengendari

Pengendara di bawah umur, bukanlah pemandangan asing untuk disaksikan. Tak hanya di permukiman penduduk, fenomena pengendara di bawah umur, marak disaksikan di jalan raya.

Ironisnya, selain menyalahi aturan, mereka juga menyalahi aturan keselamatan berkendara; tidak memakai helm dan berboncengan lebih dari dua orang.

‘Jarak yang dekat’, ‘tidak ada polisi’, ‘agar lebih cepat sampai tujuan’, adalah alasan pembenaran yang acap kali ditemukan bila orangtua pengendara di bawah umur itu ditegur.

Padahal, andaikan mereka tahu, selain melanggar aturan, kendaraan bermotor itu tentu tidak dirancang untuk fisik anak-anak.

Ironisnya lagi, dengan pembenaran tersebut, mereka tidak sadar bahwa hal itu menumbuhkan mentalitas pelanggar hukum yang bisa saja terbawa hingga anak-anak tumbuh dewasa

Bila ditelaah dengan bijak, orangtua yang memberikan hak mengendarai kendaraan bermotor pada anak di bawah umur, sama saja dengan mendukung pelanggaran hukum. Lantas, jika sudah demikian, bukankah mendukung pelanggaran hukum, juga bisa dihukum?

Seharusnya, orangtua memberikan kesadaran hukum kepada anaknya sejak dini. Bukan lantas malah mendorong mereka ke jurang bahaya dengan memberikan keleluasaan mengendarai kendaraan.

Orangtua seharusnya menjadi agent kesadaran hukum bagi anakanya. Mengajarkan kepatuhan terhadap peraturan dan bukan sebaliknya; bangga melihat anaknya pandai berkendara kendati masih di bawah umur.

Soal korban hingga pelaku laka-lantas disebabkan anak di bawah umur, tentu sudah bukan rahasia lagi. Siapa yang perlu disalahkan? Tentu, selain pelaku, orang yang memberikan keleluasaan pelaku mengakses kendaraan, seharusnya juga perlu dihukum.

Ini bukan perihal mampu membelikan atau tidak. Namun, memberikan sepeda motor kepada anak yang masih di bawah umur adalah perbuatan mencelakakan anaknya.

Orangtua bijaksana yang memahami peraturan lalu-lintas, tentu tidak akan membiarkan anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor.

Namun, jika hal itu terjadi—ada orangtua yang membiarkan anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor, bisa dipastikan orangtua itu tidak memahami aturan hukum. Ironisnya orangtua semacam itu mendukung anaknya untuk menemui bahaya.

Ini bukan tentang gaya dan kebanggaan. Membiarkan anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor, sama dengan mendukung peraturan dilanggar dan menanamkan mentalitas pelanggar hukum pada anak

Waspadalah! Kendaraan bermotor bisa menjadi mesin pembunuh bagi orang yang belum siap secara fisik dan mental apabila diperbolehkan mengendari

Sayangi mereka dengan tidak memberikan keleluasan mengendarai kendaraan bermotor bila belum tiba saatnya.

Menurutmu, fenomena pengendara di bawah umur itu suatu kebanggaan atau kelalaian orangtua?

Tinggalkan Balasan