Budaya Jahiliyah di Abad 21

kapolresiana.com_

Jika zaman dulu perempuan dihinakan dan direndahkan, zaman sekarang perempuan menghinakan dan merendahkan dirinya sendiri

Dunia pernah mengalami masa kelam sebelum datangnya Islam. Kebobrokan terjadi di mana-mana, kerancuan moral, dan gelapnya adab telah membutakan masyarakat pada waktu itu.

Memperdagangkan manusia untuk dijadikan budak, kesewenang-wenangan merajalela, tindakan asusila dan amoral sudah menjadi hal biasa. Sangat mengerikan, manusia sudah seperti hewan, yang kuat menang dan yang lemah kalah tersingkir. Tidak ada prikemanusiaaan sama sekali.

Perkawinan menjadi kacau. Tak peduli itu keluarga, istri orang atau yang lainnya. Satu diantara sikap tak berprikemanusiaan lainnya ialah tradisi mengubur hidup-hidup bayi perempuan. Baik itu dari hasil pernikahan ataupun zina. Saat itu, kondisi perempuan dianggap tidak berguna, lemah dan dihinakan, sehingga seorang ayah malu jika punya anak perempuan. Ironisnya, mereka lupa kalau dirinya—ayah dari bayi perempuan itu—juga terlahir dari seorang perempuan.

Hingga kedatangan Islam membawa tatanan baru, agama yang dibawa nabi Muhammad ini mengubah dan mengajarkan akhlak pada manusia. Mengenenalkan Tuhan pada manusia dam meluruskan moral yang masih kacau.

Manusia dengan hewan tidaklah sama. Akal, ilmu dan akhlak menjadi pembedaantara manusia dan hewan. Tuhan mengkaruniai manusia  akal agar bisa berpikir dan membedakan mana yang baik dan buruk. Jika tidak digunakannya degan benar, lalu apa bedanya dengan makhluk lain?.

Berangsur-angsur kejahiliahan mulai memudar. Sebagian dari kamun jahiliyah menyadari atas kebodohannya, mereka menyesal lalu mengikuti ajaran Islam yang damai. Walau tetap saja ada yang membangkang.

**

Di era sekarang ini, sisa-sisa kejahiliyahan nampaknya mulai tercium lagi. perzinaan kerap dianggap hal biasa, hamil di luar nikah, kasus ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri, pembunuhan, penindasan, dan Kelakuan-kelakuan lain yang hampir mirip dengan zaman dulu.

Seperti yang terjadi di Probolinggo, kedua orang tua melapor bahwa anaknya yang berusia 15 tahun disetubuhi oleh seorang pria setelah diajak kabur selama satu bulan. Setelah diselidiki dan atas pengakuan pelaku, ternyata mereka melakukan persetubuhan atas dasar suka sama suka. Tidak ada paksaan, bahkan si anak perempuan yang memintanya dulu.

Jika pengakuan ini benar, bahwa persetubuhan dilakukan atas dasar suka sama suka, sungguh sangat miris sekali. Jika zaman dulu wanita dihinakan dan direndahkan, zaman sekarang wanita menghinakan dan merendahkan dirinya sendiri.

Lelaki yang berusia 35 tahun ini mengaku telah menggagahi pacarnya sebanyak dua kali. Suatu kelakuan yang menyimpang dari norma-norma kehidupan.

Melakukan hubungan seks di luar nikah sangatlah tidak baik, apalagi jika dilakukan oleh anak di bawah umur. Akan sangat berbahaya bagi keadaan mental dan fisiknya, masa depan mereka masih panjang, dan perlu waktu lama untuk mematangkan mental agar stabil.

Menanamkan nilai-nilai keagamaan dan norma kehidupan haruslah dilakukan sejak dini. Mengingat pergaulan saat ini sangat rawan akan penyelewengan. Jika anak-anak tidak dibekali dengan pemahaman agama yang kuat, mereka akan mudah terbawa kejamnya arus pergaulan.

Di sini peran orangtua sangat dibutuhkan, agar tidak menyesal di kemudian hari, karena tidak selamanya anak berada di samping mereka. Membekali ilmu dunia saja tidak cukup, harus diimbangi dengan iman yang kuat dan akhlak yang baik.

Terkadang orang melanggar norma bukan karena ketidaktahuan, sedikit banyak pasti mereka paham mana yang baik dan mana yang tidak. Namun nafsu dan keinginanlah yang menjadikannya buta.

Jika zaman dahulu kejahiliahan dikarenakan tidak adanya pemahaman agama yang benar, sehingga kehidupan masyarakatnya tidak terarah dan tidak berprikemanusiaan. Namun sekarang? Agama telah hadir, hanya saja manusianya yang tak mau mendekat.

 

Tinggalkan Balasan