Suara Sumbang di Tengah Persatuan

suara sumbang di tengah persatuan

Fenomena semacam taklid  buta memang sedang marak di sosial media. Padahal, suara di sosial media suara liar yang belum tentu kebenarannya.

Seolah tak pernah ada habisnya, negeri ini terus dikoyak oleh orang maupun kelompok yang ingin menggoyahkan keutuhan dan kedaulatan bangsa. Memang, perkembangan zaman telah membuat pergerakan arus globalisasi begitu cepat dan sulit dibendung. Kebebasan bersuara dan berpendapat yang telah dilindungi undang-undang, seolah menjadi bebas tanpa batas di tengah teknologi yang semakin canggih. Terlebih lagi, kebebasan bersuara itu diimbangi atas dasar negara demokrasi yang tak jarang dijadikan tameng ketika mengeluarkan suara. Padahal, suara itu sangat rentan memecah persatuan bangsa.

Di negara demokrasi seperti Indonesia, memang tak salah mengeluarkan pendapat dan berserikat. Bahkan, hal itu mendapat perlindungan negara yang termaktub dalam undang-undang. Namun, yang kemudian menjadi permasalahan selanjutnya adalah kebebasan bersuara yang sudah tanpa filter. Padahal, meski negara memberikan jaminan bersuara, berpendapat, dan berserikat, tetap saja harus berada pada koridor yang telah ditentukan.

Bukan lepas tanpa batas.

Faktanya, di era teknlogi seperti saat ini—menjamurnya berbagai macam media sosial—yang memudahkan bersuara dan berpendapat, tak jarang ditemukan suara memperihatinkan. Ironisnya, suara berindikasi memecah persatuan itu dilontarkan oleh mereka yang ditasbihkan sebagai publik figur. Naasnya lagi, apa yang disuarakan tokoh idolanya, diikuti oleh mereka. Jika idolanya membenci seseorang atau kelompok, maka mereka pun membencinya. Begitu seterusnya, sampai Nobita satu kampus sama Upin-Ipin.

Semua yang terjadi—masa lampau maupun saat ini, pasti terdapat asbabul-nya. Tapi, sayangnya, masih banyak dari bangsa ini yang malas berpikir dan membaca.

Sehingga, setiap terjadi suatu fenomena atau lontaran suara tokoh idola, mereka langsung memakannya. Kalau lontaran itu menyehatkan sih tak masalah. Tapi, bagaimana kalau lontaran tokoh idola itu justru menggiring perpecahan? Harusnya kan mereka mikir, yak? Bukan taklid buta, gitu. Bagi orang semacam itu, yang penting bersuara. Tak peduli benar atau salah.

Fenomena semacam taklid  buta memang sedang marak di sosial media. Padahal, suara di sosial media suara liar yang belum tentu kebenarannya.

Mungkin, sebagian orang berpendapat, issu yang berkembang hingga mencuat ke permukaan sosial media, bukan hal yang perlu ditanggapi. Tetapi, faktanya, mencuat issu di sosial media telah menggoyahkan kehidupan berbangsa di dunia nyata.

Lihat saja, bagaimana ujaran kebencian yang dilayangkan di sosial media yang kemudian berujung aksi di dunia nyata. Toh, bukan rahasia lagi. Di zaman seperti ini, apa yang tertulis dan ter-rekam, akan cepat menyebar dan menimbulkan reaksi masyarakat.

Kecanggihan teknologi telah menjadi konsumsi sehari-hari di era globalisasi. Namun, ironisnya, perkembangan zaman yang berbalut teknologi, tidak diimbangi dengan karakter manusia yang mumpuni.

Dampaknya?

Ketidakseimbangan terjadi di sana-sini. Seharusnya, seiring perkembangan zaman, karakter bangsa semakin maju. Nyatanya, justru sebaliknya. Kecanggihan teknologi justru dijadikan alat adu domba, menjatuhkan, hujat-maki, yang semua itu bermuara pada pembunuhan karakter dan fitnah yang keji.

Apa yang terjadi di negeri ini, tentu tak bisa dianggap sebelah mata. Ujaran kebencian, hujat dan maki yang terjadi setiap hari, harus segera diantisipasi. Meski terjadi di sosial media, bukan berarti diabaikan dan dianggap tidak ada.

Di manapun itu—sosial media atau dunia nyata—selagi berindikasi mengganggu keamanan dan ketertiban, sudah selayaknya segera ditindaklanjuti agar tidak berujung retaknya persatuan dan kesatuan bangsa.

Banyak hal yang membuat goyahnya kerukunan berbangsa. Namun, secara garis besar, goyahnya kerukunan itu bisa disebabkan rendahnya toleransi, fanatik berlebihan, dan kepentingan politik.

Tinggalkan Balasan