Segitu Susahkah Merawat Kamtibmas?

Segitu Susahkah Merawat Kamtibmas?

Kapolresiana.comMenjadi pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat, tentu tidaklah mudah. Tanggungjawab itu berat. Terlebih lagi, tugas dan tanggungjawab itu dilayangkan kepada masyarakat, yang notabene beragam pola-pikirnya.

Pro dan kontra, pasti selalu ada di setiap kehidupan yang notabene menghendaki kondusifitasnya kamtibmas. Ini tidak hanya berbicara mengenai Tangerang semata. Selagi di situ ada masyarakat, maka di situ akan banyak kepala, yang beragam dengan pola-pikirnya—tidak menampik akan menghadirkan suatu konflik—besar ataupun kecil.

Namun, semua harus dijalankan. Amanat sebagai pengemban pelayan, pelindung dan pengayom masyarakat, tidak boleh ditanggalkan kendati untuk mewujudkan hal itu membutuhkan proses sangat panjang dan tidak ringan.

Selama dunia belum kiamat, selama itupula konflik akan terus melanda. Begitupun dengan tugas yang diemban, tak akan purna sebelum mata terpejam selamanya. Memelihara keamanan dan ketertiban, harus terus dilakukan. Bukan hanya tugas abdi Bhayangkara, tugas menjaga dan memelihara Harkamtibmas sejatinya tugas bersama.

Indonesia adalah negeri begitu mempesona.Tak hanya keindahan, kekayaan alamnya pun membuat banyak iri mancanegara. Penjajah demi penjajah yang silih berganti, merupakan bukti Indonesia adalah negeri berparas cantik dan layak untuk diperebutkan.

Meski telah melakukan penanganan dengan berbagai upaya secara preventif dan pre-emtif, rasanya konflik tidak bisa dibumihanguskan. Yang mereka bisa lakukan adalah mencegah dan menekan.

Selama matahari masih terbit dari Timur dan terbenam di Barat serta bumi masih dihuni manusia, selama itupula konflik itu akan tetap ada. Selama manusia masih hidup, konflik tak mungkin meninggalkan manusia. Kendati tak diinginkan, konflik tak ubah seperti udara yang senantiasa ada di mana-mana.

Konflik adalah sebuah perselisihan. Konflik bisa terjadi antar satu pihak dengan pihak lain ketika di dalamnya terdapat pertentangan maupun perbedaan dalam mencapai suatu kesepakatan. Di lain sisi, konflik juga bisa terjadi dikarenakan ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Faktor pemicu konflik beragam. Perbedaan tujuan, pendapat, karakter individu, dan permasalahan komunikasi—semua tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari sebagai makhluk sosial.

Untuk menyamakan tujuan, tentu tidak mudah. Terkadang dan bahkan, acap kali dalam menyamakan suatu tujuan, terjadi pertentangan antara satu dengan lainnya, yang kemudian dari pertentangan itu berbuah menjadi konflik.

Begitupun faktor perbedaan pendapat dan permasalahan komunikasi, memiliki kekuatan yang sama dengan faktor perbedaan tujuan, dalam memicu terjadinya konflik di tengah masyarakat. Mungkin, jika faktornya masih perbedaan tujuan, perbedaan pendapat dan kesalahan komunikasi, masih bisa diluruskan atau dicari jalan tengahnya.

Namun, beda lagi apabila menyangkut faktor karakter individu. Pada faktor tersebut, sangat sukar untuk dicarikan jalan keluarnya. Faktor pemicu konflik karena karakter individu memang sukar diobati. Bahkan, saking sukar diobati, terdapatlah sebuah pepatah: jika watuk mudah diobati, jika watak sukar diobati. Oleh karenanya, tak ayal bila kejahatan dimuka bumi terus lahir bahkan berkembang dikarenakan adanya karakter yang dibawa sejak lahir.

Karakter keras, pemarah, culas dan dengki tak menampik dapat melahirkan kejahatan. Pembunuhan, misalnya. Kejahatan semacam itu banyak terjadi karena pelaku marah, dendam, dengki atau ketidakterimaan atas kesenjangan sosial.  Pun, dengan faktor komunikasi, yang notabene alat perekat keharmonisan bermasyarakat dan berbangsa, tak pelak dapat memicu terjadinya konflik dikarenakan komunikasi yang kurang baik, hingga pada akhirnya menyebabkan perseteruan.

Persetruan atau konflik sosial yang terjadi, juga bisa dimaksudkan dengan adanya upaya manusia untuk berlaku curang terhadap pihak lain. Biasanya, konflik sosial terjadi dalam bertetangga. Kesalahpahaman maupun komunikasi kurangbaik adalah faktor konflik sosial yang sering dijumpai dalam bertetangga. Bahkan, dalam ranah organisasi, konflik sosial akibat kurangbaiknya komunikasi, jugasering –terjadi.

Tentunya, semua manusia sepakat, bahwa dirinya merupakan mahluk sosial, yang selalu membutuhkan orang lain. Namun, dalam perjalanan menjadi ‘manusia’, ternyata tidak mudah. Selain itu, perbedaan ras, suku, budaya, agama, politik, juga dapat menyebabkan konflik sosial yang skalanya jauh lebih besar daripada konflik sosial yang dipicu perbedaan pendapat atau ketidaksamaan dalam bertujuan.

Indonesia adalah negeri yang sangat luas. Tak hanya sumber daya alam, di negeri berideologi Pancasila ini, juga terdapat beragam perbedaan. Agama, suku, budaya, hingga ras, adalah khasanah Indonesia yang sudah semustinya dirawat dan dijaga. Memang, tak mudah menjaga perbedaan. Namun, sudah semustinya menjadi kesadaran sebagai bangsa, bahwa dengan perbedaan yang dimiliki, Indonesia kini bisa merdeka. Bersatu dalam Bhineka Tunggal Ika, mengangkat senjata untuk mengusir kaum penjajah. 

Namun, seiring pergerakan zaman, perbedaan yang dulu disatukan leluhur bangsa, kini mulai terkoyak. Sesama anak bangsa saling bertikai. Perebutan tahta dan kuasa yang hingga akhirnya berujung petaka adalah suatu fenomena yang acap kali disaksikan di zaman Indonesia telah merdeka.

Indonesia memang telah merdeka. Namun, bukan berarti bangsa ini bisa beristirahat dengan lega. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, termasuk menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan persatuan dan bukan sibuk mengetengahkan perbedaan.

Tinggalkan Balasan