Misteri Pesan Perenggut Nyawa

Misteri Pesan Perenggut Nyawa

LANGIT menghampar jingga diufuk Timur. Angin semilir tak mau kalah dengan senja yang mempesona. Sore itu, senja dan semilir angin, seolah sedang  membelai dua anak manusia yang tengah  di atas dua roda; menyusuri jalan menuju tempat tinggal salah satu di antara mereka.

“Kenapa lama?!”

“Macet,”

“Hah? Masak sih?!”

“Serius …,”

Suasana hening.

Tak ada percakapan antara dua anak manusia yang masih duduk di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Negeri itu. Hanya deru motor dan sesekali dengusan gadis berambut lurus, terdengar dipenuhi kekesalan atas keterlambatan pacarnya yang telah berjanji menjemput tepat waktu.

“Kamu nggak macam-macam, kan?”

“Maksudnya?”

“Kamu nggak selingkuh kan, Dan?”

“Please, Ta,” Ucap Daniel. “Kamu itu kenapa sih?”

“Kok, jadi aku?!” balas Ita tak kalah sewot. “Harusnya aku yang nanya ke kamu. Kamu itu kenapa? Akhir-akhir ini kamu berubah. Buktinya, tadi aja kamu telat jemput. Kamu ke mana dulu? Kamu ada cewek lain, ya?” lanjut Ita penuh cerca.

Mendapat cercaan dari Ita, Daniel menghempaskan napas panjang. Laki-laki berambut pendek itu kesal  atas perlakuan pacar satu sekolahnya. Ia pun segera mengarahkan setir kuda besinya ke pinggir jalan, untuk mengajak bicara baik-baik kekasihnya itu.

“Kamu kenapa sih, Ta? Salah aku apa?” tanya Daniel, setelah turun dari motor. “Aku sudah berusaha jemput kamu, tapi kok malah nuduh yang nggak-nggak?!” lanjut Daniel sembari menatap Ita yang masih duduk di motor penuh kekesalan.

“Siapa yang nuduh?!” Ita turun dari motor. “Aku kan cuma nanya! Kok, kamu malah jadi sensi! Harusnya aku yang marah karena kamu udah telat jemput!” Sambung Ita sembari melipat tangan di dada.

Daniel meremas rambutnya keras-keras. Ia berusaha menghempaskan omelan Ita sejak perjalanan pulang dari lembaga kurus yang terletak di kawasan Semanggi Meski begitu—dipenuhi kekesalan—Daniel berusaha menahan diri dan mengajak Ita bicara baik-baik.

“Oke, mungkin ini saatnya kita bicara baik-baik.” Kata Daniel, setelah sedikit tenang. “Ta, aku mau tanya sesuatu ke kamu. Boleh?” lanjut Daniel sembari menatap mata lentik Ita.

Enam puluh detik Daniel menunggu. Namun, tak ada jawaban atas pertanyaan yang diajukannya. Ita masih seperti sedia kala. Berdiri sembari menyilangkan tangannya.

“Siapa pengirim pesan itu?” tanya Daniel setelah sekian lama menunggu jawaban, tapi tak berbuah hasil. “Aku baca semuanya, Ta. Aku ingin kamu jujur sama aku. Ada apa kamu sama dia?”

“Maksud kamu?!”

“Whatsapp di-hape kamu.”

“Itu teman aku!” jawab Ita ketus.

“Teman?!” tandas Daniel. “Se-romantis itu?”

“Memangnya, salah?!” bentak Ita. “Makanya jadi cowok yang romantis!”

**

27 Februari 2016

Dusun Gumukkarang diselimuti kehebohan karena disuguhi pemandangan yang tak diinginkan oleh siapapun.

“Astagfirulloh, kok ada manusia tega melakukan ini.”

“Cepat angkat, Kang.”

“Ayo, dulur-dulur, dibantu.”

Mendapat ajakan dari Dodik, beberapa warga Gumukkarang yang berada di lokasi, lekas berbondong-bondong mengangkat hasil penemuan Yopi.

Astagfirulloh, iki sopo, Kang?”

“Mbuh, mana aku tahu. Aku aja baru lihat, terus kabur ke sampean. “ ujar Yopi dengan napas memburu saat mengangkat hasil penemuannya di hari Sabtu itu.

“Sampean itu aneh. Harusnya lapor polisi, kok malah laporan ke Dodik.”

“Aneh gundulmu!” sembur Yopi. “Kamu pikir aku ndak takut?

Haduhh …!! Sudah, sudah, kok malah bertengkar. Ayo cepat dibawa ke atas, terus lapor polisi, biar mereka yang nangani.” ucap Dodik menengahi pertengkeran kecil Yopi dan Kardiman.

Setiba keluar pesawahan, mereka langsung mendaratkan hasil penemuan Yopi di pinggir jalan. Begitupun dengan laki-laki  sang penemu itu, menarik tangan Dodik, menuju kantor polisi untuk memberikan laporan atas apa yang tengah menyelimuti desa Gumuk Karang.

**

AKP. Parmin menghadap. Ia memenuhi panggilan dari komandannya. Nampak, AKBP. Billy, pimpinannya, sedang duduk di ruang kerjanya sembari membuka berkas-berkas untuk segera ditindaklanjuti.

“Ada perkembangan?”

“Siap, Ndan! Untuk sementara korban masih di-autopsi. Dari hasil olah TKP, korban mengalami luka di bagian bibir, sedangkan posisi korban telungkup di sawah dalam keadaan menggunakan helm!”

AKBP. Billy masih membubuhi tandatangan di berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Sesekali ia menatap Kasatreskrim yang baru saja memberikan keterangan dengan sigap. AKBP. Billy  menatap Kasatreskrim dengan tajam, seolah siap melontarkan berondongan pertanyaan untuk mengorek informasi di lapangan dari anggotanya yang kini duduk tepat di hadapannya.

“Bagaimana?”

“Siap, Ndan! Untuk sementara diduga pembegalan.”

“Pembegalan?!” dahi AKBP. Billy mengernyit.

“Siap! Dugaan sementara.” tandas AKP. Parmin, Kasatreskrimnya.

Mendapat keterangan yang belum memuaskan, AKBP. Billy  segera menutup berkas merah dan segera mengarahkan posisi duduknya.

AKBP. Billy  menatap Kasatreskrim-nya untuk kemudian ia pun  memberikan pengarahan atas kejadian di wilayah hukumnya.

“Selidiki apapun dan siapapun yang berhubungan dengan korban tanpa terkecuali. Lebarkan pengolahan. Jangan berpusat pada motif pembagalan saja.

“Siap, Ndan!

“Kalau memang korban masih remaja, motifnya tak jauh seputar sekolah, orangtua, teman, atau teman spesial korban.” ungkap AKBP. Billy mantap.

“Siap, Ndan!”

Pak Kasat!” ujar AKBP. Billy, begitu AKP. Parmin hendak membuka pintu keluar. “Setelah autopsi keluar, langsung lakukan pelebaran kasus seperti yang saya perintahkan.”

“Siap, Ndan!”

 **

Hasil otopsi keluar.

Sesuai intruksi pimpinannya, Kasatreskrim segera bergerak melakukan pelebaran olah perkara.

“Dia anak berprestasi. Tidak hanya di sekolah, bahkan di luar sekolah, Ita adalah anak baik dan mudah berteman,” kata Wakil Kepala Sekolah, ketika dimintai keterangan mengenai korban yang diketahui  Ita adalah siswi Sekolah Menengah Atas Negeri.

AKP. Parmin manggut-manggut.

Dari keterangan yang didapat mengenai korban, Kasatrerskirim sepakat dengan dugaan awal atas kejadiaan yang menimpa Ita. Pun, dari keterangan teman dekat korban, tak jauh seperti apa yang telah disampaikan Pak Sholah, Wakil Sekolah Menengah Atas Negeri itu.

“Bagaimana, Ndan?” tanya salah satu anggota reskrim.

“Lanjutkan penyidikan.”

“Siap, Ndan!”

 **

Mobil Reskrim diarahkan ke rumah korban. Penyelidikan terus dilakukan untuk mendapat titik terang dalang di balik pembunuhan.

Orangtua korban sontak histeris begitu mendengar kabar yang disampaikan Kasatreskrim. Begitupun dengan warga setempat, sangat menyayangkan kejadian malang yang menimpa anak tetangganya. Namun, takdir telah berkata lain, kematian Ita telah resmi ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.

Entah berapa kali orangtua korban jatuh pingsan saat berada di kamar mayat. Begitupun dengan teman sekolahnya, tangis histeris menyelimuti suasana duka di kamar mayar rumah sakit.

Tak ada yang bisa dilakukan oleh kepolisian  saat menyaksikan potret kesedihan dan terpukulnya orangtua yang ditinggal pergi seorang anak dalam keadaan mengenaskan. Pun, dengan teman-teman korban yang kini berada di kamar mayat, merasakan apa yang dirasakan orangtua korban, Pak Rofi’I dan Bu Sumiati

“Bagaimana, Ndan?” tanya anggota reskrim, setengah berbisik.

“Oke. Tapi, saat ini, biarkan orangtua dan teman korban melepaskan duka.”

“Siap, Ndan!”

AKP. Parmin mengendari pandangannya ke segala penjuru. Suasana histeris penuh tangis, nampak begitu mencekam di depan tubuh yang telah terbujur kaku. Satu per satu pembesuk yang ada di kamar mayat,  tak luput dari pengawasan Kasatreskrim itu. Orangtua, teman, bahkan pacar korban yang tengah berdiri tak jauh dari hadapan Kasatreskrim, tak luput dari pengawasan mata AKP. Parmin

**

“Saya tidak tahu, Pak,”

“Bukankah kamu pacarnya?”

“Tapi, saya benar-benar tidak tahu.”

Sudah satu jam lebih, Daniel mendarat di Polres untuk dimintai keterangan lebih lanjut secara intensif oleh AKP. Parmin. Selama itupula, laki-laki berstatus pacar korban, menjawab dengan hal yang sama. Ia tetap bersikeras tidak mengetahui perkara yang dialami oleh pacar sekaligus teman satu sekolahnya itu.

Investigasi  dilakukan bukan semata ke Daniel saja. Orangtua korban, teman, dan guru, tak luput dari pertanyaan intensif Kasatreskrim di waktu yang berbeda.

“Saya memang menjemput Ita,” ujar Daniel, setelah lama terdiam. “Tapi …, soal kejadian itu, saya tidak tahu. Saya sudah antarkan Ita sampai rumah.” sambung Daniel menjelaskan kronologis sore itu.

“Setelah itu?” tandas AKP. Parmin.

“Saya pulang.”

AKP. Parmin terdiam. Ia menghempaskan napas lirih sembari memperhatikan Daniel dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nampak, AKP. Parmin mulai mencari titik terang dari balik jejak pembunuhan itu. Sejauh ini, setiap saksi yang dimintai keterangan, tidak memiliki indikasi dalang di balik  perkara. Semua lancar dan terasa begitu terpukul dengan tewasnya Ita.

“Baiklah, jika memang kamu tidak ada di Tempat Kejadian Perkaran, bagaimana dengan itu?” AKP. Parmin menunjuk benda yang ada di pergelangan Daniel.

“Kenapa jam tangan saya?” Daniel balik bertanya.

Kasatreskrim meghampiri Daniel yang  diselimuti penasaran. Tak ada jawaban sejauh Daniel menunggu. Yang ada hanya suara sepatu AKP. Parmin yang tengah memberikan irama.

“Korban meninggal di area persawahan, Daniel. Kamu pasti tahu. Yang namanya sawah, pasti berlumpur, kan? Lalu, bagaimana kamu menjelaskan sisa lumpur di jam tangan yang sekarang kamu pakai itu?” tandas AKP. Parmin.

“Tempo hari jam tangan saya dipinjam.” Daniel sedikit terbata.“Lalu.., saya ambil di rumah Ita melalui orangtuanya kemarin malam.”

“Tunggu …!” tungkas AKP. Parmin. “Kamu ke rumah korban malam itu?

“Iya, Pak.”

“Kalau kemarin malam ke rumah korban, berarti kamu bertemu korban, kan? Lalu, kenapa kamu mengambil jam tangan itu melalui orangtuanya?”

Perlahan Daniel menunduk.

Matanya berkedip begitu cepat. Kedua tangannya yang diletakan di meja, sudah berubah posisi; berada di jepitan kedua pahanya.

“Saya tidak bertemu Ita. Saya sama dia sedang bertengkar. Jadi, tujuan ke rumah dia, hanya mengambil jam tangan saja. Setelah itu pulang.” ungkap Daniel.

“Owh, begitu.” AKP. Parmin manggut-manggut. “Tetapi, menurut orangtua korban, sejak sore korban belum pulang dari bimbingan belajar. Sedangkan kamu mengatakan kalau kamu menjemput dan mengantarkan sampai rumah. Berarti, ada unsur kebohongan di balik pernyataan yang kamu katakan. Kamu emang menjemput korban, tapi tidak mengantarkan korban sampai rumah. Jam tangan yang menyisakan lumpur, dan korban meninggal di pesawahan adalah bukti keterlibatan kamu atas kejadian ini. Apalagi, kalian sedang bertengkar?” kata AKP. Parmin dengan jelas dan tandas.

“Tapi, Pak!”

“Kamu pelakunya!” tunjuk Kasatreskrim. ” Pembunuh Ita tak adalah pacarnya.  Dan, itu kamu. Motifnya adalah ini ….” ucap AKP. Parmin sembari menunjukan pesan di ponsel Ita  yang berisikan kecemburuan Daniel.

 **

“Benar, Ndan! Tersangka dibonceng oleh korban menuju pesawahan. Di tengah jalan mereka bertengkar hebat disebabkan ponsel korban berisi pesan dari laki-laki lain. Akhirnya, tersangka geram hingga berlanjut menghabisi nyawa korban dengan mencekik dan kepala korban dibenamkan ke kubangan air pesawahan.”

AKBP. Billy manggut-mangut mendengar laporan AKP. Parmin mengenai motif pembunuhan siswi bernama Ita itu. Setelah kepergian Kasatreskrim, seperti biasa, Kapolres  segera  meraih buku yang selalu diperuntukan mencatat hikmah di balik peristiwa untuk dijadikan pembelajaran; untuk dirinya, keluarga, maupun lembaga yang dipimpinnya. Atau, juga untuk masyarakat luas, agar senantiasa belajar dari pengalaman dan peristiwa; dirinya maupun oranglain.

**

 – Cerpen ini diadaptasi dari kisah nyata di tahun 2016

Tinggalkan Balasan