Mengapa Harus Mengusik Orang Beribadah?

Mengapa Harus Mengusik Orang Beribadah?

Menjaga mereka yang sedang menjalankan ibadah, memang pemandangan yang sangat indah. Namun, memberikan nilai-nilai toleransi, tentu menjadi lebih indah.


SELAIN kaya sumber daya alam, Indonesia kaya dengan keragaman masyarakatnya. Suku, agama, rasa dan budaya, begitu ragam di negeri berjuluk nusantara. Alih-alih kaya keragaman masyarakat dan sumber daya alam, maka untuk menjaganya membutuhkan cara-cara unik, kreatif, humanis meski di satu sisi juga harus tegas melakukan penindakan tanpa pandang bulu terhadap mereka yang berupaya menganggu kondusifitas keamanan dan ketertiban dalam berkehidupan.

Begitulah kiranya menjadi pengetahuan lumrah dan dasar yang telah diketahui sejak dahulu kala akan kemajemukan bangsa Indonesia. Suku, agama, ras, maupun budaya, masih—dan harus tetap—menjadi sesuatu privasi bagi masyarakat Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam SARA, seyogyanya dihormati dan dihargai sebagaimana hal tersebut merupakan ranah sensitifitas seseorang, kelompok, maupun masyarakat.

Guna mendapatkan kenyamanan menjalankan privasi, masyarakat membutuhkan semacam sistem yang dapat menjamin kebebasan mereka untuk menjalankan hak azasinya termasuk menjalankan ibadah menurut kepercayaan masing-masing sebagaimana hal tersebut dijamin oleh negara.

Namun, kendati negara telah mengakui serta menjamin kebebasan setiap masyarakat memeluk keyakinan, ironisnya masih ada sekelompok manusia tak bertanggungjawab yang merusak keindahan keberagaman beragama bangsa ini. Faktanya, kejadian demi kejadian perusakan hingga peledakan rumah ibadah, masih terjadi di negeri yang konon sangat menjunjung nilai-nilai ketimuran.

Seperti malam hari raya keagamaan Natal di tahun sebelumnya. Kepolisian melakukan pengecekan di setiap Gereja di wilayah hukumnya. Pengecekan yang dilakukan dengan anjing pelacak itu tentu bukan bermaksud menaruh curiga terhadap Gereja. Akan tetapi, pengecekan yang dilakukan sebelum Natal itu adalah untuk antisipasi kalau ada ulah manusia tak bertanggungjawab yang menaruh peledak atau sesuatu yang membahayangkan jamaat Gereja.

Soal peledakan Gereja, sudah bukan rahasia umum lagi, bukan?

Kongkritnya, kasus Riyanto, anggota Banser Surabaya, adalah salah satu contoh korban atas ulah orang tak bertanggungjawab terhadap peribadataan sesama anak bangsa.

Selain gencar melakukan pengaman agar didapatkannya kepastian perayaan Natal berjalan aman, Kepolisian pun tak hentu melakukan himbauan kepada masyarakat untuk tetap peka terhadap kondisi dan situasi.

Semua dilakukan untuk satu tujuan, memastikan keamanan dan kenyamanan umat Nasrani merayakan Natal.

Menjaga mereka yang sedang menjalankan ibadah, memang pemandangan yang sangat indah. Namun, memberikan nilai-nilai toleransi, tentu menjadi lebih indah.

Namun, di balik jaminan negara itu, tentu melahirkan keironisan tersendiri akan tandatanya besar. Jika memang negara sudah memberikan kebebasan dalam berkeyakinan dan menjalankan peribadatan, mengapa harus ada pengamanan, yang notabene melahirkan persepsi bahwa mereka harus dilindungi dari bahaya yang kemungkinan atau kepastiannya bisa terjadi.

Padahal, kalau mau berpikir lebih dalam, berbahayakan orang yang sedang beribadat, hingga harus dihancurkan atau diledakan? Atau, mereka—orang yang tak bertanggungjawab itu—melakukan karena ambisi semata dan menganggap bahwa manusia lain salah dan yang benar mereka sendiri sehingga harus dimusnahkan?

Ini bukan perihal agama mana yang benar dan salah, sehingga Polri ketat melakukan pengamanan di hari raya keagamaan. Seharusnya, perihal menjalankan agama, tidak perlu pengamanan, yang kesannya justu mencerminkan bahwa menjalankan agama di Indonesia tidak aman. Seharusnya, dengan adanya jaminan negara berikut budaya bangsa yang menjaga nilai toleransi, tidak diperlukan pengamanan untuk masyarakat yang bermaksud menjalankan perintah agamanya. Namun, dikarenakan  menyangkut manusia yang merasa paling benar—kemudian mengganggu orang beribadah—pelayanan pengamanan beribadah harus dilakukan, agar umat beragama yang sedang menjalankan ibadah dan merayakan hari raya keagamaan bisa berjalan dengan damai, kondusif dan tenang sebagaimana negara yang telah membuktikan janjinya; menjamin setiap warga negara untuk memeluk dan menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.

Lantas, jika negara saja sudah menjamin setiap warga negaranya untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing, mengapa harus ada usik di tengah orang yang mau beribadah?

Tinggalkan Balasan