Mengaca dari Tragedi di Irak dan Suriah

Mengaca dari Tragedi di Irak dan Suriah


Hoax dan ujaran kebencian adalah benih perpecahan.


Pandangan, ideologi dan falsafah hidup bangsa Indonesia secara holistik  tercermin dalam sila-sila Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia. Sedangkan kesatuan pandangan, ideologi dan falsafah hidup bangsa Indonesia secara eksplisit tercantum dalam Bhinneka Tunggal Ika, yang mengandung makna beraneka ragam, namun tetap satu. Kesatuan Indonesia didasari atas rasa kepemilikan satu sama lainnya.

Beruntunglah, Indonesia tak bisa di-Suriah dan di-Irak-an oleh kelompok tak bertanggungjawab. Dua negara di semenanjung Timur Tengah itu kerap dilanda konflik. Perang menjadi menu harian. Dentuman bom dan senapan selalu terngiang. Kiranya, sulit menemukan ketenangan dan rasa aman di sana. Rakyat tersiksa di tanah kelahiran sendiri, bahkan korban berjatuhan setiap hari tanpa mengenal waktu dan kondisi.

Apa yang terjadi di sana?

Irak dan Suriah adalah negara yang sedikit keragaman masyarakatnya. Bukan termasuk homogen. Antara suku, adat, ras dan agama tak sebanyak di Indonesia. Meski demikian, keberagaman tidak sebanyak di Indonesia, mengapa dua negara itu selalu saja diliputi konflik yang seolah tak kunjung usai.

Hoax dan ujaran kebencian menjadi salah dua faktornya. Perebutan kekuasaan mengorbankan nyawa tak berdosa. Hoax dan ujaran kebencian menguat saat radikalisme juga mendapatkan tempat.  Dua faktor itu apabila sudah merajalela, akan sulit dibendung dan diantisipasi. Pasalnya, hoax dan ujaran kebencian adalah pusat adanya perpecahan.

Masyarakat yang sudah terkena hoax dan ujaran kebencian, akan mudah dihinggapi aliran radikalisme. Akibatnya, sesama anak bangsa akan saling menyalahkan sehingga perpecahan mudah terjadi. Maka, bila hal itu sudah terjadi—sesama anak bangsa bertikai—bersiaplah penjajah atau kelompok kejahatan masuk dan merusak tatanan negara tersebut.

Indonesia harus mengambil pelajaran dari berbagai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia yang bisa berdampak memecah belah negara. Menurut Mufti Damaskus dan Ketua Dewan Rekonsialisi Nasional Suriah, Syeikh Adnan, konflik dapat dicegah dengan agama untuk mengembangkan pemahaman dan kesamaan bahwa agama harus dijadikan pondasi mempersatukan bangsa.

Oleh karenanya, sudah seharusnya bangsa ini belajar dari Irak dan Suriah agar tidak seperti mereka. Tentunya, sebagai bangsa yang ber-ketuhanan sudah selayaknya bangsa ini menabur harapan agar kiranya Indonesia senantisa dilimpahi keberkahan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa agar menjadi negara yang aman, damai, dan negara yang Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur.

Tinggalkan Balasan