Melindungi Generasi Bangsa dari Jerat Narkoba

Melindungi Generasi Bangsa dari Jerat Narkoba


AKBP. Ichsan Nur tak bisa menyembunyikan keterkejutaannya. Orang nomor satu di Polres Lebong, Polda Bengkulu, tak menduga sama sekali jika di wilayah hukumnya terdapat kebun ganja. Padahal, yang menjadi pengetahuannya selama ini, kebun ganja banyak terdapat di Provinsi Aceh. Namun, siapa sangka, keberhasilan pengungkapan ganja hasil dari kebun itu, telah menyemburatkan sepengetahuannya selama ini; kebun ganja tak hanya di Aceh, tetapi juga di wilayah hukumnya.

“Sumbernya, berasal dari kebun di wilayah Rejang Lebong. Selanjutnya, kami berkoordinasi dengan Polres Rejang Lebong untuk melakukan pengembangan.” ujar Ajun Komisaris Besar Polisi itu saat mengadakan press release.

Keberhasilan ungkap peredaran narkotika jenis ganja berikut diamankan tiga tersangka, bermula saat Satnarkoba Polres Lebong mendapatkan informasi ada transaksi  di Jembatan Desa Sungai Grong, Kecamatan Amen. 

Begitu mendapat informasi, Satnarkoba Polres Lebong pun tak membuang waktu. Mereka langsung otewe ke te-ka-pe, guna memastikan informasi yang diterima.

Informasi terverifikasi.

Transaksi benar terjadi di tempat yang diinformasikan. Pun, dengan pelakunya, cocok seperti yang telah disampaikan informan. EZ—pelaku—kemudian disergap dan digeledah Satnarkoba. Mereka menemukan satu paket ganja di saku celana EZ.

Tersangka kemudian digelandang ke Mapolres Lebong. Di ruang Satnarkoba, EZ—tujuh  belas tahun—kemudian ‘diinterview’ Satnarkoba.

“Kamu mau transaksi, ya?!” tanya salah satu anggota Satnarkoba

“Ti-tidak, Pak.” Jawab EZ, sedikit terbata.

“Lalu ini apa?!” ujar salah satu anggota Satnarkoba itu sembari memperlihatkan satu paket ganja yang berhasil diamankannya. “Ini buktinya. Kamu mau transaksi, kan?”

“Ti-tidak, Pak.”

“Lalu?”

“Itu …, mau saya pakai sendiri.”

“Kamu beli?”

EZ mengangguk lirih.

“Dari siapa?”

Ez yang sedari tadi di-‘interview’, akhirnya mengakui muasal benda haram itu. Menurut pengakuannya, satu paket ganja itu dibeli dari AS.

Setelah mendapatkan informasi itu, Satnarkoba langsung otewe menjemput sosok yang dimaksud EZ. Tersangka kedua itupun berhasil diamankan Satnarkoba saat  berada di kawasan wisata Danau Picung, Kecamatan Pelabai.

Tak jauh berbeda dengan EZ, AS— delapan belas tahun—juga mendapatkan ‘interview’ yang sama dari Satuan Narkoba Polres Lebong. Dari penuturan AS, berkembanglah informasi baru, bahwa ia mendapat ganja dari IH.

Tak ingin membuang waktu. Satnarkoba segera otewe untuk kali ketiga guna menjemput IH, sebagaimana dimaksud oleh AS.

IH—dua puluh lima tahun—berhasil ditangkap saat berada di desa Lokasari, Kecamatan Lebong Utara.

Ketiga tersangka  itupun dipersatukan untuk kemudian dilakukan pengembangan lebih lanjut.  Selain satu paket ganja, barang bukti lain yang berhasil diamankan  adalah satu unit sepeda motor Scoopy dan dua handphone.

**

Zaman bergulir dengan cepat dan pesat. Berbagai kemajuan telah mengisi pelbagai pelosok penjuru dunia tanpa terkecuali Indonesia. Namun, sungguh sangat disayangkan, di tengah kecanggihan teknologi, tak pelak mengiringi kemirisan tersendiri atas masuknya musuh negara bernama narkoba.

Narkoba telah menjadi istilah populer di masyarakat. Istilah itu biasa digunakan aparat penegak hukum, seperti : Polri, BNN, Jaksa, Hakim, dan Petugas Pemasyarakatan. Selain narkoba sebutan lain yang menunjuk ketiga zat tersebut adalah Napza, yaitu: narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Istilah ini lebih banyak dipakai praktisi kesehatan dan rehabilitasi.

Peredaran narkoba terbilang cukup alus. Awalnya, pengedar memberikan secara cuma-cuma. Selanjutnya, bila pemakai telah ketagihan, pengedar akan menawarkan untuk membeli. Bahkan, tak hanya itu saja. Selain membeli, pengedar juga menawarkan si pemakai—yang tadinya coba-coba, kemudian turut bersamanya; menjadi pengedar.

Tak dipungkiri, saat ini penyalahgunaan narkoba telah menjangkit remaja. Faktanya, ketiga tersangka yang diamankan AKBP. Ichsan Nur merupakan bukti nyata bahwa peredaran narkoba tak  menganal bulu. Mereka menyasar siapa saja tanpa terkecuali generasi bangsa seperti halnya ketiga pelaku itu. Secara usia,  mereka terbilang masih remaja—seharusnya bergelut dengan pelajaran, bukan menjadi pemakai atau pengedar ganjar.

Apa yang dikhawatirkan AKBP. Ichsan Nur, tentu sangat beralasan. Pasalnya, narkoba mengakibatkan ketergantungan. Pemakai akan mengalami gangguan fisik dan psikologis dikarenakan syaraf dan organ tubuhnya mengalami kerusakan. Otak yang terkontaminasi narkoba, juga dapat berdampak terhadap ingatan yang menurun, sulit konsentrasi, berhalusinasi, tidak rasional, menimbulkan perasaan berkhayal, kemampuan belajar merosot, prestasi menurun, hingga berujung perlakuan tindak kekerasan karena otaknya tidak berfungsi  optimal.

Nah, kalau sudah terjadi, siapa yang rugi?

Pastinya, semua rugi, bukan?

Pemakai rugi, karena fungsi otaknya tidak optimal. Orangtua mereka rugi, karena anaknya menjadi rusak atau cacat. Dan, bangsa serta negara, juga mengalami kerugiaan karena  sumber daya manusia-nya telah rusak karena narkoba.

Jika sudah demikian?

Generasi bangsanya  rusak, lantas bagaimana kelangsungan bangsa dan negara? Bukankah kelak menjadi tanggungjawab mereka?

Inilah yang menjadi komitmen AKBP. Ichsan Nur untuk memberantas peredaran narkoba di Lebong. Ia ingin wilayah hukumnya menjadi tempat tumbuhkembang generasi bangsa yang sehat, sebagaimana mereka merupakan aset bangsa yang berharga.

“Dengan terungkap peredaran ganja dari hasil kebun di wilayah Rejang Lebong, orangtua harus mewaspadai anak-anaknya. Terutama bagi mereka yang berada di wilayah Kapahiang, Rejang Lebong dan Lebong. Pengungkapan ganja yang telah berhasil kami lakukan, berasal dari kawasan Palak Curup, Rejang Lebong.” ujar Alumnus AKPOL tahun 1999, saat melangsungkan press release terkait keberhasilan ungkap narkotika jenis ganja di bulan September 2019.

Pastinya, bangsa dan negara membutuhkan generasi penerus yang sehat secara jasmani maupun rohani, bukan? Dan, salah satu upaya merawat kelangsungan bangsa dan negara adalah dengan melindungi generasi bangsa dari jeratan narkoba.

Bukan hanya tugas Polri, BNN, atau lembaga narkotika, tugas melindungi generasi bangsa dari jerat narkoba adalah milik bersama, sebagaimana hal itu merupakan turut menjadi bagian dari merawat keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tinggalkan Balasan