Manggala-Bhayangkara dari Khatulistiwa

Indonesia memang sudah merdeka. Begitupun, kekerasan dan penindasan atas nama penjajahan, sudah dihapuskan dari muka bumi negeri ini. Belanda dan Jepang, yang kala itu menjajah Indonesia, sudah hengkang dan mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, kemerdekaan yang diharapkan memperkuat kesatuan, serta hilangnya kehidupan mencekam dari teror, ternyata masih menghiasi persada negeri. Rongrongan demi rongrongan yang menginginkan Indonesia terbelah, makin terjadi di negeri yang seharusnya merasakan kedamaian atas kemerdekaan yang telah diikrarkan.

Aksi radikalisme, teror bom, dan keinginan mendirikan negara di dalam negara, harus segera dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Lebih baik mencegah daripada mengobati, demikian pepatah itu diberlakukan Manggala di kota Khatulistiwa. Tak hanya radikalisme dan terorisme. Pencurian, perampokan, penjambretan, pembunuhan, sengketa tanah, pembalakan kayu hutan dan segala macam kejahatan di Kalimantan Barat, terus ditumpas para Manggala berseragam Bhayangkara di kota Khatulistiwa itu.

Selepas penjajah hengkang dari muka bumi Indonesia, ternyata perlawanan atas aksi kekerasan dan kekejaman selesai begitu saja. Penjajah yang hengkang, rupanya melahirkan kekejaman baru yang ironisnya dilakukan anak bangsa. Ironisnya lagi, para Manggala berseragam Bhayangkara harus berhadapan dengan manusia-manusia kriminal, yang notabene terlahir dari rahim ibu pertiwi yang sama. Seperti makan buah simalakama; di satu sisi mereka kriminal. Sedangkan di sisi lain, mereka bagian dari saudara sebangsa dan setanah air.

Hilang satu tumbuh seribu. Pepatah itu rupanya tidak hanya berlaku atas aksi heroik kepahlawanan belaka. Kejahatan yang berhasil ditumpas, rupanya berlaku pula atas pepatah tersebut. Kejahatan yang dibumihanguskan, ternyata menumbuhkan seribu gembong kejahatan lainnya.

Tak ada yang menyangsikan betapa indahnya negeri bernama Indonesia. Tak pula menampik atas kecemburuan dunia atas kekayaan alam yang terhampar di negeri berlambang Garuda. Begitulah muasal atas kedatangan mereka ke Indonesia. Berawal niat berdagang, hingga kemudian menjadi menjajah. Rupanya, kekayaan Indonesia tak hanya membuat bangsa asing berupaya mengatur strategi untuk berkuasa dan mengeruk dengan pelbagai cara dan upaya.

Selepas penjajah hengkang, bermunculan kelompok manusia yang tak jauh berbeda memiliki niat layaknya penjajah. Berbagai alasan dihamparkan—alasan ekonomi hingga persoalan agama. Ada sekelompok manusia yang ingin menjadikan Indonesia negeri islam dan ingin menggulingkan pemerintahan yang sah agar bisa memisahkan diri dari negeri yang telah dibingkai Bhineka Tunggal Ika.

Kenyataan telah mencatat, apa yang mereka perjuangkan, belum sepenuhnya menuai harapan atas maksud dan tujuan negara ini merdeka. Buktinya, di tengah arus modernisasi dan globalisasi, bangsa ini masih gaduh dengan sesama. Persatuan dan kesatuan yang telah dicontohkan pejuang dengan tidak membeda-bedakan suku, agama, ras, dan budaya—seolah telah tiada seiring kepergian mereka menghadap Sang Pencipta.

Atas nama bangsa dan  negara serta sebagai tugas yang dipersembahkan kepada masyarakat, para Manggala terus melakukan perlawanan untuk menyelamatkan Indonesia dari tangan-tangan tak bertanggungjawab.

Sejatinya, kegaduhan yang berakibat pada pembangunan nasional itu dilakukan bukan karena mereka tidak perpendidikan. Tidak pula miskin kekayaan. Apa yang mereka lakukan, tidak lebih dari mental manusia yang selalu kurangpuas, meminta hak, dan selalu beralasan apabila dituntut kewajiban. Harusnya, sebagai generasi bangsa, tentu lebih indah apabila bisa memberikan sesuatu daripada meminta kepada negeri, bukan?

Sebagai generasi bangsa sudah seyogyanya memberikan sesuatu kepada ibu pertiwi. Kebanggaan berupa prestasi, harga diri, martabat dan nama baik, merupakan kewajiban anak bangsa untuk diberikan kepada negeri yang telah memberikan air untuk minum dan tanah sebagai tumpah darah.

Melihat kondisi seperti itu, tak ayal apabila negeri ini sangat membutuhkan para Manggala yang militan, professional dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan landasan kebenaran dan kejujuran. Para Manggala itu tak ubah seperti pagar bagi tanaman. Meski selalu diterpa caci-maki dan hujat tiada henti, Sang Manggala harus tetap kuat, kokoh, tegar, dalam setiap cuaca yang menghadang dan campur tangan manusia yang ingin menghancurkan.

Kendati krisis kepercayaan masih menyelimuti. Hujat dan caci maki masih menaungi, Sang Manggala negeri harus membuktikan diri. Berubah, bermetamorfosis, dan memahami strategi membangun manajemen citra positif yang dihamparkan kepada masyarakat dengan memberikan pengarahan dan pembinaan.

Para Manggala itu seperti benteng yang menjaga bangsa. Tak hanya melindungi dan mengayomi lahiriah, tugas Manggala juga merambah masyarakat menjadi aman, damai, tenteram, dan berkesejahteraan secara batiniah.

Mereka adalah Manggala berseragam Bhayangkara yang bertugas menjaga negeri dari hal-hal yang dapat mengganggu terciptanya keamanan dan ketertiban. Mereka adalah pasukan elit yang diciptakan Patih Gajah Mada dan kini telah bermetamorfosis menjadi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan