Ketika Kapolres Pandangpanjang Dimutasi

Ketika Kapolres Pandangpanjang Dimutasi

Getar terdengar.

Luluh-lantah jiwa tersentuh.

Bukan sekadar pelepasan dan penyambutan. Tak pula sekadar tradisi institusi yang biasa terlaksana. Deru batin dengan mata berkaca serta sedihnya jiwa, hadir karena kuatnya ikatan yang telah terbina di batin seorang abdi Bhayangkara.

Suasana haru biru sontak menyelimuti langit Mapolres Padangpanjang. Sambut dan pisah berikut untaian selamat datang dan selamat jalan, membahana ke seluruh penjuru.

Tak hanya prajurit berseragam Bhayangkara semata yang merasakan khidmat dan harunya perjalanan abdi negara itu. Tetumbuhan hingga gedung-gedung yang berdiri kokoh di Mapolres Padangpanjang itupun tak ayal menjadi saksi perjalanan silih berganti pemimpin mereka.

Mutasi dan rotasi memang tak bisa dihindari.

Cepat atau lambat, suka ataupun tidak, tradisi organisasi itu multak menjadi ketentuan yang tak bisa diganggu-gugat.

Rotasi dan mutasi bukan semata-mata datang dan pergi. Tradisi itu terjadi untuk menyegarkan organisasi agar lebih berkembang, bersumber daya manusia, dan pembelajar untuk menjadi manusia berkepemimpinan.

Mutasi dan rotasi bukan akhir segalanya.

Tak ada yang datang dan tak ada pula yang pergi. Kendati raga tak kentara, bukan berarti yang pergi hilang tak kembali. Mereka yang datang dan pergi, akan tetap ada di hati masyarakat. Besar atau kecil kiprah yang telah dijalankan, mereka tetaplah abdi negara, prajurit Bhayangkara, yang dilahirkan untuk melaksanakan tugas bakti sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat.

Keharuan dan  ketidakrelaan berpisah dengan sosok yang dikagumi, tak pelak terjadi saat abdi Bhayangkara menerima tugas baru dari institusi.

Mungkin, kalau yang bersedih personel-nya, tentu sudah mafhum adanya. Siapa sih yang tak sedih ditinggal pimpinnnya? Apalagi, bila pimpinan sosok yang baik hati.

Haru dan ketidakrelaan ditinggal akan sosok yang dikagumi, tak pelak terjadi di Padangpanjang, saat seorang Kapolres hendak melanjutkan tugas di tempat yang baru.

Ia bukan anggota Polres Padangpanjang. Ia adalah seorang anak berusia sepuluh tahun dan penjual onde-onde di wilayah hukum Cepi Noval.

Laras

Begitulah gadis penjual onde-onde itu dikenal. Gadis itu tak rela bila Cepi Noval harus pindah tugas. Saat sedang dihantarkan anggotanya ke luar gerbang Mapolres Padangpanjang, Laras—yang telah menunggu di luar—langsung menerbos barisan polisi begitu melihat sosok yang ditunggunya.

Laras langsung menghampiri Cepi Noval.

Melihat kedatangan Laras, Cepi Noval langsung memeluk gadis penjual onde-onde itu. Apa yang dirasakan Laras, tentu dirasakan mantan Kapolres Padangpanjang itu. Batinnya, tentu tak ingin meninggalkan Padangpanjang yang telah dicintainya. Namun, ia pun tak bisa berbuat lebih.

Surat Telegeram dari institusi yang memutuskan dirinya melanjutkan tugas, tidak bisa ditolak. Apapun yang terjadi, kendati Padangpanjang telah dicintai, ia harus melaksanakan tugas dari institusi; melanjutkan tugas di Pesisir Selatan.

“Saya minta maaf, ya, kalau ada salah.” ucap Cepi Noval sembari memeluk Laras yang telah berlindang airmata. “Kamu harus terus sekolah, ya. Terus usaha, ya.” sambung Mantan Kapolres Padangpanjang, yang tak kalah haru dengan Laras.

Tak ada jawaban dari Laras.

Gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu hanya sibuk mengusap airmatanya yang telah berlinang deras.

“Bapak pamit. Kamu rajin belajar. Banyak sabar ya, Nak. Jangan takut, ada Kapolres baru,” ucap Cepi Noval seraya mengusap kepala Laras.

Kesedihan Laras ditinggal Cepi Noval bukan tanpa sebab. Keduanya, telah terjalin perkenalan yang cukup lama.

Pertemuan Laras dengan Cepi Noval berawal tatkala Kapolres Padangpanjang sedang bermain badminton di GOR Bancahlaweh.

Saat melihat penjual onde-onde itulah—yang kemudian diketahui bernama Laras—Cepi Noval langsung memborongnya. Dikarenakan itu terjadi kali pertama, Laras sangat senang. Hingga, di keesokan harinya, Laras datang ke Mapolres Padangpanjang untuk menawarkan dagangan.

Cepi Noval tak hanya sebagai pelanggan setia yang selalu memborong dagangannya.  Bagi Laras, Cepi Noval sudah dianggap seperti ayah angkatnya. Itulah mengapa, saat Cepi Noval pindah tugas, Laras sangat sedih dan kehilangan sosok yang selama ini telah dianggap sebagai orangtuanya.

21 Sepetember 2019

Merupakan hari di mana masyarakat Padangpanjang sontak. Mereka tak mengira, jika sosok yang dekat dengan masyarakat itu, harus meninggalkan kota hujan untuk menjalankan titiah institusinya.

Ajun Komisaris Besar Polisi itu sangat dikenal. Tak hanya tokoh setempat, masyarakat di akar rumput, juga sangat mengenal Cepi Noval sebagai sosok yang akrab dengan mereka.

Selama bertugas di Padangpanjang, Cepi Noval merupakan sosok yang telah mengubah stigma masyarakat—polisi yang menakutkan, menjadi polisi humanis. Mapolres Padangpanjang yang tadinya ditakutkan masyarakat, disulap menjadi tempat yang ramah dengan masyarakat.

Terobosan-terobosan semacam itulah yang kemudian mendekatkan Cepi Noval dengan masyarakat Minangkabau. Padahal, seperti diketahui, tidak semua tokoh bisa melekat di hati masyarakat dikarenakan masyarakat Minangkabau itu religius dan kritis, sehingga tak sedikit tokoh dari luar Sumatra Barat, yang kesulitan membaur dengan ‘Urang Awak’.

Beda halnya dengan Cepi Noval. Ia terbilang tokoh yang justru sangat dikenal dapat membaur dengan masyarakat. Laras, gadis penjual onde-onde, misalnya. Haru tangis saat kepergiaan Cepi Noval dari Padangpanjang adalah salah satu bukti bahwa Cepi Noval bisa diterima oleh masyarakat Minangkabau.

Salah satu bukti lagi bahwa Kapolres Padangpanjang itu diterima masyarakat ‘Urang Awak’ adalah dengan diberikannya gelar Sako Sutan Bagindo Rajo dari suku Sikumbang KAN Laren Nan Panjang Kota Padangpanjang.

AKBP. Cepi Noval saat dinobatkan sebagai Sutan Bagindo Rajo dari Kanagarian Lareh Nan Panjang suku Sikumbang.

 

Tentu pemberikan gelar itu bukan tanpa sebab. Cepi Noval dinilai mampu membangun silaturahmi yang baik dengan masyarakat dan terobosan saat menahkodai Polres Padangpanjang mendapat kesan positif dari masyarakat di wilayah hukumnya.

Sholat berjamaah di dalam sel, patroli nagari, pembangunan mushola di perumahan bersubsidi, yasinan keliling ke polsek-polsek, I’tikaf untuk anggota bermasalah, pengamanan Jumat, hingga larangan pelajar mmebawa kendaraan ke sekolah, semua itu merupakan terobosan ayah dengan tiga buah hati itu. Tujuan terobosan itu sangat jelas. Ia ingin menciptakan dan memelihara ketertiban dan kemanan di Padangpanjang.

Cepi Noval mempersilakan masyarakat membicarakan beragam hal di institusinya. Terobosan lain yang dilakukan Cepi Noval juga telah menyulap ruang tahanan—yang tadinya tempat pesakitan menjadi tempat bernuasa religi—bila waktu sholat tiba, adzan akan berkumandang di penjuru Mapolres Padangpanjang, tanpa terkecuali di ruang tahanan. Pun, dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, selalu didengar masyarakat yang berkunjung ke Mapolres Padangpanjang.

Siapa mengira, berkat terobosan religi-nya, satu tahanan yang beragama non muslim, mendapatkan hidayah dan ia menjadi mualaf.

Selain menciptakan tahanan bernuasan religi, program lain yang berhasil digenderangkan Cepi Noval adalah program Satu RT, Satu Polisi, yang merupakan upaya dirinya untuk memelihara dan menjaga kamtibmas di wilayah hukumnya. Penindakan terhadap jajaran dan anggotanya, yang melakukan pelanggaran tak pelak ditindak tegas oleh Cepi Noval dengan prinsip clean and clear.

Dengan penindakan itu, Cepi Noval tak ingin jajaran dan anggotanya terindikasi maupun terlibat tindak pidana bentuk apapun.

Alumnus AKPOL tahun 1999 itu ingin Polres Padangpanjang dihuni Bhayangkara yang mumpuni menjalankan tugas. Itulah mengapa, Cepi Noval acap kali melakukan tes urine di waktu tak terduga.

Semua dilakukan untuk memastikan bahwa jajaran dan anggotanya tidak terlibat benda haram; sebagai pemakai atau pengedar.Dikarenakan ketegasannya memimpin institusi dan humanis kepada masyarakat, Cepi Noval mendapat anugerah gelar adat dari ninik mamak.

Kini, sosok Kapolres yang dikenal kharismatik itu telah pindahtugas ke Pesisir Selatan. Ia pergi meninggalkan sejuta kenangan untuk masyarakat Padangpanjang.

Cepi Noval memang sudah tidak bertugas di Padangpanjang. Namun, kepergiaannya dari Padangpanjang tidak dengan tangan hampa.

Ia membawa doa tulus dari masyarakat Padangpanjang, agar dirinya senantiasa diberikan perlindungan, bimbingan, dan petunjuk oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menjalankan pengabdiannya sebagai abdi negara berseragam Bhayangkara.

***

Tinggalkan Balasan