Kenalan dengan Kapolres Probolinggo, Yuk?

Kenalan dengan Kapolres Probolinggo, Yuk

Ia adalah alumnus Akademi Kepolisian tahun 2000.  Sanika Setyawada adalah nama angkatannya di Akademi Kepolisian. Eddwi Kurniyanto, demikianlah perwira menengah Polri itu bernama.

Perwira dengan dua melati di pundak itu kini ditugaskan markas besar Bhayangkara untuk menahkodai Polres Probolinggo.

Sebelum menjabat sebagai orang nomor satu di Polres Probolinggo, Eddwi Kurniyanto pernah menjabat Kasat PJR Ditlantas Polda Jatim dan Kabagops Polrestabes Surabaya,

Kendati hanya menjabat dua bulan sebagai Kabagops Polrestabes Surabaya, Eddwi Kurniyanto terbilang cekatan melaksanakan tugas. Selain menjalankan tugas utama sebagai pelaksana kamtibmas, ayah empat anak itu aktif memberikan pembinaan di bidang olehraga.

Sikatan FC—tim binaannya—berhasil meraih juara ketiga di ajang Ekonomi di tahun 2018. Pun, di tahun 2017, ia juga pernah menjabat sebagai asisten manager Bhayangkara FC,  dan membawa tim-nya menjadi juara satu di liga satu Indonesia. Dikarenakan telah membawa timnya ke gerbang juara, di tahun 2018, Eddwi Kurniyanto diangkat menjadi manager Bhayangkara FC U16/U17. 

Tak hanya itu, prestasi Eddwi Kurniyanto di dunia olahraga. Saat menjabat Kasubdit Regident Ditlantas, Eddwi Kurniyanto juga dinobatkan sebagai Pemuda Penggerak Olahraga oleh SIWO.

Eddwi Kurniyanto saat menerima penghargaan tim terbaik dan dinobatkan sebagai Pemuda Penggerak Olahraga oleh SIWO

Dan …, semua itu menjadi bukti jika Eddwi Kurniyanto adalah perwira Polri yang menggemari olahraga.

Ada dua jenis olahraga yang digemari pemilik akun Instagram @eddwikurniyanto itu. Sepakbola dan bulutangkis, adalah dua jenis olahraga yang digemarinya. Ndilalah kersane Allah, kegemaran akn bulutangkis itupun kemudian menghantarkan dirinya dipercaya Ketua Umum PBSI, Jenderal (Purn) Wiranto.

Ia diminta menduduki jabatan Wakil Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia, cabang Jawa Timur, untuk masa bhakti 2018-2022.

Dari hobi menjadi prestasi.

Begitu kiranya ungkapan yang tepat menggambarkan perjalanan Eddwi Kurniyanto di dunia olahraga. Berawal dari kegemaran hingga kemudian berbuah apresiasi dan prestasi.

Eddwi Kurnianto senyum bangga saat tim binaanya menjadi juara

Begitu dilantik sebagai Wakil Ketua PBSI, tugas Eddwi Kurniyanto menjadi bertambah. Selain mengurusi Kamtibmas di Surabaya, ia juga harus mengurusi Kamtibmas di dunia perbulutangkisan. Semua membutuhkan keamanan dan ketertiban, bukan? Tanpa terkecuali di dunia olahraga yang kini dinahkodainya.

Bukan hal ringan menjalankan dua tugas sekaligus. Keduanya, membutuhkan tanggungjawab yang optimal. Pastinya, dibutuhkan tenaga dan pikiran besar serta perhitungan matang untuk mengelola dua tugas sekaligus.

Dunia kepolisian, bukan hal asing bagi mantan Kasubdit Regident Ditlantas Polda Jatim itu. Toh, sejak kecil, ia sudah akrab dengan AKABRI.

Selain ayahnya seorang Kasi Provos, Eddwi Kurniyanto juga sering main di tempat dinas ayahnya yang saat itu masih menjadi Polwiltabes. Lebih lagi, perwira murah senyum itu juga lahir di wilayah yang kental dengan dunia militer; Japanan, Watukosek, tempat Brimob digodok dikawah candradimuka.

Kendati telah menjadi perwira dengan dua melati dan menduduki jabatan sebagai Kapolres, tetapi perjalanannya bukan tanpa halangan.

Eddwi Kurniyanto memang ingin menjadi polisi. Namun, keinginannya itu bukan berasal maupun lantaran ayahnya seorang polisi. Padahal, kebanyakan anak, ketika mengikuti jejak orangtuanya, tak lain karena terinspirasi atau dipersiapkan.

Tapi, itu tak berlaku bagi Eddwi Kurniyanto.

Alih-alih dipersiapkan, justru yang terjadi malah mendapatkan pertentangan saat ia mengutarakan keinginan untuk menjadi polisi. Orangtuanya, ingin Eddwi Kurniyanto menjadi dokter. Alasan mereka simple, dokter itu kerjanya enak dan tidak berat.

Meski ditentang, Eddwi Kurniyanto tak lantas pasrah. Setelah lulus SMA, diam-diam ia mendaftarkan diri ke AKPOL. Maksudnya sih agar orangtuanya tidak tahu. Tapi, siapa sangka, jika ‘maksud’-nya itu, ternyata tidak berbuah manis.

‘Diam-diam’-nya harus lebur saat AKPOL meminta surat keterangan dari orangtua sebagai persyaratan. Demi memenuhi persyaratan itu, Eddwi Kurniyanto terpaksa menghadap orangtuanya meski dengan langkah gontai.

Mendengar penuturan Eddwi Kurniyanto, ayahnya kaget. Ia tak menyangka jika anak laki-lakinya nekad meski sudah ditentang menjadi polisi dan diarahkan untuk menjadi dokter.

Adu argumen itupun tak bisa dihindari. Ayahnya bersikeras agar Eddwi Kurniyanto menjadi dokter. Begitupun, sebaliknya. Dikarenakan memiliki darah militer dari ayahnya, Edwwi Kurniyanto juga tetap bersikeras dengan keinginannya.

Adu argumen antara anak dan ayah itupun terjadi di antara mereka. Hingga, setelah satu jam berlangsung, dan Edwwi Kurniyanto terus menjelaskan dengan kesungguhan, ayahnya pun akhirnya luluh.

Ayahnya tak lagi menginginkan Eddwi Kurniyanto menjadi dokter. Justru, karena kesungguhan tekadnya, ayahnya kemudian mendukung keinginan Eddwi Kurniyanto untuk menjadi polisi. Dan, setelah empat tahun berlalu—saat Eddwi Kurniyanto lulus dari AKPOL—ayahnya mendapatkan tugas baru; sebagai anggota Brimob.

**

Eddwi Kurniyanto tak pernah membayangkan sebelumnya, jika pimpinan Polri mempercayakan amanat sebagai Kapolres di Probolinggo kepadanya. Apalagi, Probolinggo merupakan wilayah yang dekat tempat kelahirannya. Baginya, menjaga Harkamtibmas di Probolinggo sama dengan menjaga kamtibmas di tempat kelahirannya.

Sebagai abdi negara berseragam Bhayangkara, Eddwi Kurniyanto tidak bisa memilih tempat yang akan ditugaskan institusi. Terlepas di Probolinggo maupun di wilayah lain, perwira kelahiran 28 Juli itu, pastinya selalu siap menerima tugas institusi.

Hal kali pertama dilakukan Eddwi Kurniyanto saat resmi menahkodai Polres Probolinggo adalah mengadakan koordinasi internal, sebagaimana prinsipnya  bahwa internal harus lebih dahulu dikenali sebelum beranjak keluar; sinergitas dengan lintas institusi.

Rapat koordinasi dengan perwira menjadi genderang Eddwi Kurniyanto untuk kali pertama. Memberikan motivasi dan semangat, agar lebih baik daripada sebelumnya, merupakan arahan yang disampaikan kepada perwira di Polres Probolinggo. Selain menanamkan nilai-nilai semangat, Kapolres Probolinggo itu juga meminta ke mereka agar menanamkan nilai ibadah saat menjalankan tugas.

“Ayo, tanamkan nilai ibadah dalam tugas kita. Yang namanya ibadah, sudah seharusnya dilakukan dengan ikhlas. Bila keikhlasan sudah terpatri dan senantisa dilaksanakan dalam tugas, niscaya kita bisa menikmati ‘bingkisan’ dari Tuhan.” Kata Eddwi Kurniyanto, di hadapan perwira Bhayangkara Probolinggo.

Eddwi Kurniyanto juga memberikan motivasi tentang tiga kemampuan yang harus dimiliki Bhayangkara Probolinggo. Pertama, kemampuan berpengetahuan. Kedua, kemampuan berteknologi. Ketiga, kemampuan berprilaku baik.

Setelah dirasa cukup melakukan koordinasi internal, Eddwi Kurniyanto meneruskan langkah. Ia segera bersilaturahmi kepada tokoh-tokoh di wilayah tugasnya. Forkopimda, tokoh agama hingga masyarakat, menjadi jujugan dirinya menghaturkan uluk salam sebagai orang baru sekaligus penangungjawab penegakan hukum dan pemeliharaan kamtibmas di bumi Bromo.

Saat menemui ulama di wilayah tugasnya,  Eddwi Kurniyanto  tak lupa memohon doa kepada warosatul anbya itu, agar dirinya senantiasa diberikan bimbingan, petunjuk, dan keberkahan oleh Allah SWT, dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. [DA]

Tinggalkan Balasan