Ke mana Seharusnya Muara Kepemimpinan?

Ke mana Seharusnya Muara Kepemimpinan

Tak sedikit yang masih enggan menjadi pendengar yang baik terhadap bawahannya, hingga dampaknya tak ada rasa kebersamaan dan produktivitas yang dihasilkan. Padahal, dengan menjadi pendengar yang baik aspirasi bawahan, pemimpin tersebut sudah menerapkan rasa empati dan rendah hati hingga kemudian melahirkan kecintaan bawahan kepada pimpinan.

Memengaruhi dan memotivasi tak hanya sekadar memberikan perintah semata, akan tetapi harus pula dibalut dengan seni yang baik, agar dalam perintah ataupun komando tidak meninggalkan persepsi negatif terhadap bawahan atau anggotanya.

Di sinilah peran penting karakter tablig seorang pemimpin. Mampu menginstruksikan perintah serta mengajak bawahan atau anggota tanpa adanya intimidasi atau paksaan agar mereka mau melakukan apa yang diinstruksikan.

Peran menyampaikan perintah atau komando secara seni diharapkan agar bawahan melakukan tugas dengan penuh ketulusan hati. Tidak sekadar menyenangkan pimpinan semata, melainkan melakukan tugas karena telah menjadi sumpah dan janjinya, yang semata untuk tujuan dan cita-cita organisasi serta mendapatkan ridha Sang Ilahi.

Muara indikator pemimpin yang juga harus dimiliki adalah dapat berlaku jujur dan transparan. Tidak bisa ditawar lagi. Kejujuran merupakan modal pemimpin dicintai bawahan dan masyarakat. Jauh daripada itu, pemimpin yang jujur, akan melakukan tugas dan pengabdiannya dengan jujur pula.

Jika pemimpin sudah jauh dari sikap kejujuran—yang nilainya lekat dengan transparansi—besar kemungkinan pemimpin tersebut melakukan tugasnya selalu dipenuhi dengan kebohongan.

Pemimpin yang jujur, tak segan transparan kepada bawahannya. Mereka—bawahannya—diajak berbagi dan memikirkan apa yang terjadi terhadap setiap permasalahan dan perkembangan bahkan keberhasilan. Sehingga, dari perilaku kejujuran seorang pemimpin, bawahan pun merasa dihargai dan dimanusiakan. Pemimpin jujur tak akan mengambil keputusan sendiri. Adanya anggota maupun bawahan dijadikan partner sharing dalam keputusan yang diambilnya.

Di balik tujuan dan cita-cita organisasi, tak menampik melahirkan permasalahan—besar maupun kecil—yang pasti selalu mengiringi setiap perjalanan mewujudkan visi dan misi. Sekecil apapun permasalahan, tentu tak boleh dibiarkan. Toh, bukankah permasalahan besar berasal dari permasalahan yang tadinya kecil?

Guna menghadapi permasalahan yang datang, seorang pemimpin dituntut memiliki indikator adil dan bijaksana. Tidak serampangan berpikir dan gegabah dalam memutuskan perkara atas permasalahan yang terjadi.

Adil dan bijak inilah yang diperlukan serta harus ditanamkan setiap pemimpin. Dengan adil dan bijak, pemimpin mampu melihat permasalahan dari berbagai sisi. Mengajak anggota berdiskusi sehingga dalam penyelesaian terhadap permasalahan tidak mengakibatkan berat sebelah.

Rasanya, mustahil bila ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak memiliki kedisiplinan. Kedisiplinan merupakan muara indikator pemimpin yang tak bisa ditinggalkan selain jujur, adil, bijaksana, dan transparansi. Tanpa kedisiplinan, management kepemimpinan akan berantakan. Seorang pemimpin harus mendispilinkan dirinya dahulu sebelum mendisiplinkan orang lain atau bawahan. Private sector harus sudah selesai sebelum mengurusi public sector. Begitulah kedisiplinan memegang peran menyukseskan kepemimpinan.

Salah satu tugas pemimpin adalah memberikan instruksi atau komando. Terlebih di dunia militer, instruksi pimpinan merupakan harga mati yang tidak boleh ditawar. Namun demikian, menjadi pemimpin yang baik bukan berarti boleh semena-mena dan mengedepankan instruksi harga matinya.

Muara indikator pemimpin yang harus dimiliki selanjutnya adalah menjadi pendengar yang baik. Memang, dalam hal kemampuan sebagai pendengar yang baik masih jarang sekali dimiliki oleh setiap pemimpin atau bahkan setiap orang. Faktanya, semua orang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan, bukan? Padahal, dengan menjadi pendengar yang baik, merupakan jalan untuk memahami serta mengerti terhadap orang yang dipimpinnya.

Tak sedikit pemimpin yang masih enggan menjadi pendengar yang baik terhadap bawahannya, hingga dampaknya tak ada rasa kebersamaan dan produktivitas yang dihasilkan. Padahal, dengan menjadi pendengar yang baik terhadap aspirasi bawahan, pemimpin tersebut sudah menerapkan rasa empati dan rendah hati hingga kemudian melahirkan kecintaan bawahan kepada pimpinan.

Dari semua indikator yang telah diurai, muara indikator pemimpin adalah dapat mengarahkan dan mengajak bawahannya agar tetap melandaskan tugas  sebagai ladang ibadah, sebagaimana amanah yang memang sudah seharusnya dimuarakan  kehadirat Tuhan.

***

Tinggalkan Balasan