Inovasi Kearifan Lokal Made in Polres Pessel

AKBP. Cepi Noval menerima penghargaan dari Kapolda Sumatra Barat

Perkembangan zaman telah membuat pergerakan arus globalisasi begitu cepat dan sulit dibendung. Kebebasan bersuara dan berpendapat yang telah dilindungi undang-undang, seolah menjadi bebas tanpa batas.

Terlebih, kebebasan bersuara di negara demokrasi ini, acap kali dijadikan tameng ketika mengeluarkan suara, kendati suara atau pendapat tersebut berindikasi memecah kebhinekaan bangsa.

Faktanya, di era teknologi dan menjamur berbagai macam media sosial, tak jarang ditemukan pendapat yang sangat memperihatinkan. Issu yang bertebaran di sosial media sangat berindikasi menggoyahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.Ujaran kebencian di sosial media, yang kemudian berdampak pada aksi di dunia nyata, adalah contoh bahwa sosial media memiliki peran sebagai pemersatu sekaligus pemecah belah keutuhan bangsa.

Ujaran kebencian, hujat dan maki serta adu domba yang nyaris terjadi setiap hari, harus segera diantisipasi. Kehidupan serba modern tak pelak menjadikan tantangan yang lebih berat. Ke-profesional-an Polri diuji serta dituntut bergerak lebih cepat di tengah kehidupan yang serba mengandalkan teknologi. Itulah mengapa, Kapolri Jenderal Idham Azis, memasukan SDM yang Unggul, menjadi point pertama dari tujuh Program Prioritasnya. Tentu, poin pertama itu akan berdampak pada enam program prioritas lainnya. Pendek kata, dengan SDM yang unggul Polri bisa mewujudkan Pemantapan Harkamtibmas, Penguatan Penegakan Humum yang professional dan Berkeadilan, Pemantapan Managemen Media, Penguatan Sinergitas Polisional, Penataan Kelembanggan dan Penguatan Pengawasan, yang semua itu tentu membutuhkan SDM unggul manusia-manusia Polri.

Sebagai representatif negara yang harus hadir di tengah masyarakat, berikut memberikan pelayanan, pelindungan dan pengayoman, terobosan dan inovasi kreatif, harus menjadi harga mati bagi Polri.

Dan, itu tidak bisa ditawar di tengah gegap gempita informatika.

Berbekal program prioritas Kapolri Jenderal Idham Azis, tentang Penguatan Sinergitas Polisional, AKBP. Cepi Noval pun meluncurkan terobosan baru sebagai upaya pemantapan harkamtibmas di wilayah hukumnya.

Mancaliak Dunsanak.

Adalah terobosan dengan unsur kearifan lokal, yang diluncurkan oleh Kapolres Pesisir Selatan itu. Melalui Mancaliak Dunsanak, AKBP. Cepi Noval bergerilya dari satu masjid ke masjid lain di wilayah hukumnya. Tujuannya, untuk melakukan silaturahmi atau membangun sinergitas dengan masyarakat dengan misi menyampaikan pesan-pesan kamtibmas.

Mancaliak Dunsanak dilaksanakn setiap hari Jumat. Pesan Kamtibmas hingga empat macam kejahatan yang marak terjadi di Pesisir Selatan; Curas, Curat, dan Curanmor, Asusila, Narkoba dan Lakalantas, menjadi menu yang dihidangkan alumnus AKPOL 1999 dihadapan jamaah masjid.

“Kami, sebagai Kapolisian di Pesisir Selatan, tidak bisa melakukan sendiri. Kami sangat membutuhkan peran aktif bapak dan ibu, serta adik-adik, untuk turut menciptakan kondusifitas kamtibmas di wilayah masing-masing.” ujar AKBP. Cepi Noval, di hadapan Jamaah Jumat.

Sebenarnya, Mancaliak Dunsanak, yang ditekankan membangun sinergitas tak hanya diberlakukan hari Jumat saja. AKBP. Cepi Noval juga memberlakukan diri dan perwira di Polres Pesisir Selatan untuk turut shalat lima waktu bersama para tahanan. Tujuannya, agar kelak apabila narapidana itu telah keluar dari tahanan, bisa menjadi manusia yang baik dan tidak mengulangi perbuatan yang merugikan masyarakat.

Itulah mengapa, untuk memberantas kriminalitas di wilayah tugas, AKBP. Cepi Noval lebih suka melakukan pendekatan persuasif dengan mengedepankan kekeluargaan, sebelum dilakukan upaya preventif hingga represif.

Apa yang disampaikan AKBP. Cepi Noval, tak hanya berlaku di dunia nyata semata. Membangun sinergitas polisional, juga dilakukan Kapolres Pesisir Selatan di sosial media. Mancaliak Dunsanak, tidak tebang pilih. Tidak hanya diberlakukan untuk masyarakat di wilayah hukumnya semata. Terobosan kearifan lokal itu juga digunakan AKBP. Cepi Noval untuk membangun sinergitas dengan masyarakat sosial media yang notabene berada di luar wilayah hukumnya.

Begitulah Kapolres yang viral dengan gadis penjual onde-onde itu. Ia senantiasa memberikan waktunya untuk menyapa dan membalas masyarakat, kendati berada di sosial media. Humanisme itu ditunjukan AKBP. Cepi Noval saat giatnya diunggah di Instagram @kapolresiana. Begitu ada waktu dan tak sibuk, beliau membalas postingan yang diunggah oleh Admin Instagram @kapolresiana.

Tentunya, dengan sikap humanisme-nya, menjadi tidak heran apabila Kapolda Sumatra Barat, Irjen Pol Fakhrizal, memberikan penghargaan kepada Kapolres Pesisir Selatan itu sebagai Polisi Teladan Penggerak Revolusi Mental dan Pelopor Tertib Sosial Diruang Publik.

Luar biasa, bukan?

Namun, dengan diberinya penghargaan oleh Kapolda Sumatera Barat, tak lantas membuat AKBP. Cepi Noval berbunga hati. Selain anugerah, AKBP. Cepi Noval meyakini bahwa penghargaan bisa menjadi musibah bila tidak bisa menjaga dan membuat inovasi yang lebih baik dari sebelumnya.

Sebagai pimpinan yang bijak, AKBP. Cepi Noval mengakui bahwa penghargaan yang diterima juga merupakan penghargaan anggota dan jajarannya, tanpa terkecuali anggota dan jajarannya saat bertugas di Padangpanjang.

Hari ini harus lebih baik dari kemarin

Pepatah diterapkan AKBP. Cepi Noval. Sebagai Kapolres, ia bertanggungjawab membawa institusinya menjadi lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya—bahkan saat ia memimpin Polres Padangpanjang

Tak berbeda di Padangpanjang, di Polres Pesisir Seletan, AKBP. Cepi Noval memberlakukan hal yang sama. Ia mengajak jajaran dan anggotanya, agar terus memberikan keteladanan terbaik di tengah masyarakat.

Di era teknologi dan informasi, kita sudah seharusnya mampu menciptakan terobosan kreatif untuk penggerak revolus mental dan pelopor tertib sosial di ruang publik sebagai implementasi dari pelayan, pengayom dan pelindung masyarakat.” ujar AKBP. Cepi Noval, saat ia menerima penghargaan dari Kapolda Sumatra Barat, Irjen Pol Fakhrizal,

Tinggalkan Balasan