Kapolres Oku sampaikan Tiga Materi Kuliah Umum

Pagi itu, sekitar dua ratus mahasiswa AMIK AKMI Baturaja telah memadati aula, guna mengikuti kuliah umum. Kuliah umum kali itu, tidak seperti biasanya. Kali itu, pemateri kuliah umum bukan dari kalangan akademisi; dosen, rektor, ataupun guru besar. Pemateri kuliah umum dengan tema ‘Kepolisian, Radikalisme, dan Nasionalisme’ itu diisi oleh seorang Ajun Komisaris Besar Polisi yang kini tengah menahkodai Polres Oku.

Direktur AKMI, Pujianto, S.Kom., M.Cs, tentu saja sangat senang  atas kebersediaan AKBP. Tito Hutauruk menyampaikan materi kuliah umum di kampusnya. Apresiasi berikut pernyataan bahwa ini adalah kali pertama seorang kapolres memberikan materi di kampusnya, turut menjadi penghantar sambutan Direktur AKMI itu.

“Suatu kehormatan, Bapak Kapolres berkenan mengisi materi kuliah umum. Saya senang dan menaruh apresiasi karena ini adalah kali pertama ada Kapolres yang berkenan memberikan materi kuliah secara langsung di hadapan mahasiswa,”  ujar Pujianto, Direktur AKMI Baturaja, saat memberikan sambutan sebelum kuliah umum itu dimulai.

Rupanya, tak hanya Direktur AKMI yang senang dan antusias. Mahasiswa pun mengalami hal yang sama dengan Direktur AKMI itu. Mereka sangat antusias menunggu materi kuliah umum yang akan disampaikan AKBP. Tito Hutauruk.

Apalagi, materi yang akan disampaikan Kapolres Oku itu tentang radikalisme, yang notebene kini tengah santer diberitakan. Sebelum menutup sambutannya, Direktur AKMI itupun menabur harap kepada mahasiswa agar dapat termotivasi dari apa yang dilakukan oleh AKBP. Tito Hutauruk. Pasalnya, menurut Pujianto, kendati baru satu bulan menjabat Kapolres Oku, AKBP. Tito Hutauruk berkenan memberikan materi kuliah umum dan itu merupakan sejarah sekaligus kebanggaan bagi kampus AKMI.

Waktu penyampaian materi itupun tiba. Kapolres Oku itu segera menempati tempat yang telah disediakan. Seperti tema yang disuguhkan kampus, AKBP. Tito Hutauruk pun menyampaikan tentang Radikalisme dan Nasionalisme.

Saat ini, radikalisme sering menjadi sorotan media. Paham radikal dipandang sebagai paham intoleran, fanatik, eksklusif, dan revolusioner. Paham radikal distigmakan sebagai paham yang akan menghancurkan persatuan dan kesatuan serta mengancam nasionalisme bangsa.

Dampak globalisasi yang akhirnya menggerus batas-batas bangsa, membawa pada global village atau perkampungan global. Dunia yang luas tidak lagi menjadi kendala bagi masyarakat global dalam bertukar pemikiran bahkan budaya.

Time Space Distanciation juga dapat mendekatkan yang jauh. Jarak tak lagi menjadi alasan untuk tidak saling mengenal. Dari globalisasi inilah yang kemudian terjadi berbagai akulturasi budaya dan pemikiran. 

Dalam kuliah umumnya, Kapolres Oku berpesan agar mahasiwa AMIK AKMI Baturaja untuk meningkatkan semangat beribadah sesuai agama masing-masing, memiliki semangat persatuan dan kesatuan, mau menerima perbedaan, memiliki jiwa kemanusiaan, prestatif, serta berkomitmen menjadi generasi penerus bangsa yang memerangi radikalisme.

“Open mind sudah seharusnya menjadi ciri mahasiswa. Dengan kapasitas intelektual yang mumpuni, mahasiswa harus mampu memilah antara pemahaman yang harus diikuti dan mana pemahaman yang harus diwaspadai.” ucap Alumnus AKPOL tahun 2000 itu.”

Selain tentan open mind, AKBP. Tito Hutauruk juga menyampaikan di hadapan mahasiswa AKMI agar mereka mengokohkan identitas bangsa dan menjadikan hal tersebut sebagai semangat nasionalisme.

Nasionalisme bukan artefak sejarah yang usang. Nasionalisme harus menjadi bagian dari jiwa seluruh elemen masyarakat sebagaimana dengan nasionalisme keutuhan bangsa dan negara dapat terjaga.

Radikalisme hanya bagian kecil dari berbagai pemikiran yang terakulturasi. Selebihnya, masih banyak paham lain yang berkembang dan berindikasi mengancam integritas bangsa. Ironisnya lagi, perkembangan teknologi yang berdampak globalisasi dan Time Space Distanciation, juga dimanfaatkan oknum yang sengaja mengadu domba dengan menyebar hoax yang dapat menimbukan disintegrasi bangsa.

Hoax yang terus dipanaskan, tentunya akan menimbulkan kebencian. Jika sudah demikian—diliputi kebencian—muncul gejolak yang ending-nya adalah kegaduhan kamtibmas.

Munculnya berbagai paham yang mengancam berikut hoax yang mengandung unsur kebencian, harus dilawan dengan menumbuhkan jiwa nasionalisme khususnya di kalangan civitas akademik.

Sebagai calon pemimpin bangsa, AKBP. Tito Hutauruk sangat berharap kepada mahasiswa agar kuliah umum yang disampaikan dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan mahasiswa sebagai tonggak peradaban.

Selain menjelaskan paham yang mengancam persatuan bangsa, AKBP. Tito Hutauruk juga menjelaskan tentang peran kepolisian dalam menjaga keutuhan NKRI.

Polri sebagai lembaga penegak hukum dan pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, memiliki peran mewujudkan stabilitas bangsa. Dan, untuk melaksanakan tugas itu agar semakin paripurna, didukung berbagai elemen masyarakat tanpa terkecuali mahasiswa, tentu saja sangat dibutuhkan oleh Polri.

 “Mahasiswa dapat menjadi partner kepolisian mewujudkan kamtibmas. Mahasiswa harus menjalankan peran sebagai agent of change. Membawa negeri ini menjadi lebih baik. Step to The Future, begitulah kami menyebutnya. Kita tidak boleh mundur. Kita harus maju. Melawan pemahaman yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Maju dengan semangat nasionalis sebagai akademis yang pancasilais. Saya yakin, jika mahasiswa—yang notabene adalah tonggak peradaban memiliki nasionalisme tinggi, niscaya paham radikalis akan hancur tergerus di bumi Indonesia.” Ucap Kapolres Oku, dengan semangat menggebu.

Tantangan global village di era milenial sangat berpengaruh terhadap perubahan masyarakat. Era perubahan itupun terjadi begitu cepat. Berbagai bentuk ancaman terhadap integritas bangsa, tak ayal muncul seiring kecanggihan teknologi dan informasi yang dengan cepat tersebar hingga kemudian menimbulkan gejolak sosial.

Sebagai pelaksana Harkamtibas, Global Village disadari AKBP. Hutauruk sebagai tugas besar yang harus diperhatikan dan diantisipasi dengan serius. Tapi, penganggulangan itu tentu bukan hanya tugas Polri, tetapi juga menjadi tugas segenap elemen bangsa, tanpa terkecuali mahasiswa.


Tinggalkan Balasan