Kapolres dan Smart Netizen Siap Ajegeh Probolinggo

Kehadiran media sosial bukan suatu medium yang hanya dapat dijadikan lalu-lintas penghantar pesan semata. Lebih dari itu, media sosial dapat berperan sebagaimana media konvensional; dapat mempengaruhi kestabilan atau kegoyahan tatanan kehidupan suatu bangsa–AKBP. Edwwi Kurniyanto, Kapolres Probolinggo

-oOo-

Sebagai kepala satuan wilayah, AKBP. Edwwi Kurniyanto tentunya harus mematuhi apa yang menjadi visi dan misi markas besar-nya.  Tujuh Program Kapolri Idham Azis, mengenai pemantapan media, tak luput menjadi program kerja yang harus dilaksanakan; tidak hanya untuk dirinya, pemantapan media itu juga harus dilakukan oleh segenap jajaran dan anggota Polres Probolinggo.

AKBP. Edwwi Kurniyanto, terbilang perwira menengah Polri yang gemar bersosial media. Instagram-nya saja telah memiliki sejumlah 9.528 follower sejak dibuat per 8 April 2017. Alumnus AKPOL tahun 2000 itu memang tebilang aktif di sosial media Instagram. Sebagaimana program periotas Kapolri Jenderal Idham Aziz, AKBP. Edwwi Kurniyanto mendayagunakan jejaring sosial sebagaimana di platform itu terdapat masyarakat. Bukan hanya untuk memperkenalkan diri. Ia mendayagunakan sosial media untuk menunjang pelaksanaan tugasnya; memberikan himbauan hingga peringatan kepada penjahat.

Dengan sosial media yang dikelolanya, AKBP. Edwwi Kurniyanto pun bisa berinterkasi dengan masyarakat. Tidak hanya Probolinggo saja, dengan keluasan jangkauan sosial media, Kapolres Probolinggo itupun bisa menyapa dan berinterkasi dengan masyarakat di luar wilayah hukumnya.

Nyatanya, melalui sosial media, ia bisa menerima laporan langsung dari masyarakat terkait gangguan kamtibmas sehingga ia bisa bergegas menyelesaikan permasalahan tersebut.

Memang, tidak semua anggota Polri mendayagunakan sosial media sebagai interkasi dengan masyarakat untuk menunjang kinerjanya. Masih banyak anggota Polri yang apatis terhadap perkembangan zaman dan masih berpegang teguh pada cara konvensional. Memang, itu tidak salah. Namun, sebagai aparatur negara yang dituntut untuk modern dan melek teknologi dan informasi, tentu mendayagunakan media untuk menunjang kinerjanya merupakan cara yang paling efektif. Toh, dengan sosial media, malah bisa bekerja dua puluh empat jam, bukan? Setidaknya, himbauan hingga peringatan yang di-unggah di sosial media, kemudian dibaca masyarakat—kapanpun dan di manapun—bukankah hal itu merupakan bagian dari upaya menjalankan tugas dan fungsi sebagai abdi Bhayangkara.

Di era teknologi dan informasi digital seperti saat ini, sosial media bukan hanya sebatas style zaman semata. Facebook, Instagram, Twitter adalah jejaring sosial dengan kemunculan yang fenomenal. Varian media sosial itu juga membuka lebar kanal demokrasi dan kebebasan berpendapatan di sosial maya, yang tidak ditampik seiring itupula melahirkan penyalahgunaan teknologi dengan melakukan penyebaran informasi bohong yang dilakukan oknum tak bertanggungjawab. Untuk itulah, selain dijadikan wadah interkasi sekaligus penunjang tugas, sosial media juga bisa berguna sebagai penghalau bertebarannya berita hoax yang meresahkan masyarakat sekaligus berujung pada keretakan persatuan berbangsa dan bernegara.

Di awal tahun 2000-an, media sosial sepertinya masih banyak dipergunakan sebagai wadah membangun silaturahmi. Berkenalan dan berinterakasi dengan teman lama nun jauh di sana maupun orang baru. Suasana saat itu, medsos bisa dikatakan belum menjadi wadah panas dinamika yang terjadi. Namun, seiring berjalannya waktu, medsos yang tadinya sebagai ajang silaturahmi, kian hari keluar dari jalur. Nyatanya, yang dulunya grup relawan atau komunitas sosial, murni untuk mengunggah giat sosial, kini bisa berubah menjadi ajang politisisasi. Lihat saja, bagaimana berserakan komentar-komentar netizen terhadap sesuatu unggahan; pasti ada yang menyangkutpautkan dengan politik meski konten yang diunggah bersifat sosial maupun umum.

Dikarenakan fenomena di sosial media bisa menjadi pemicu dinamika di dunia nyata, maka sosial media tentu tidak bisa dianggap sebelah mata. Nyatanya, kini media sosial memiliki peran yang sangat vital terhadap perkembangan politik hingga kelangsungan kamtibmas. Pendek kata, apa yang terjadi di sosial media, telah melahirkan fenomena baru di dunia nyata.

Fenomena 212, 411, dan segudang hiruk-pikuk lainnya, adalah sebagian contoh bahwa media sosial memiliki peran sebagai polarisasi publik yang sangat vital—yang kemudian dapat menciptakaan kegaduhan ataupun sebaliknya.

Tidak dipungkiri, memang. Kini, sosial media menjadi pisau bermata dua. Pro dan kontra pasti terjadi. Namun, alih-alih hidup adalah pilihan berikut tugas yang diamanatkan kepadanya, maka AKBP. Eddwi Kurniyanto memilih menjadikan sosial media sebagai mata pisau untuk menciptakan kedamaian, ketenangan, dan wawasan melalui konten-konten yang diunggah dengan isi menginspirasi dan memotivasi yang dikemas dalam balutan literasi.

Kehadiran media bukan suatu medium yang hanya dapat dijadikan lalu-lintas penghantar pesan antar unsur semata. Kendati kehadirannya baru muncul beberapa tahun, media sosial dapat berperan sebagaimana media konvensional; dapat mempengaruhi kestabilan atau kegoyahan tatanan kehidupan suatu bangsa.

Banyak peran yang dapat dilakukan oleh media. Selain ruang publik yang menghadirkan sosial, politik, hingga budaya, media memberikan kontribusi pembangunan ekonomi untuk masyarakat maupun pemerintah. Bahkan, yang tak kalah dengan peran lainnya, media juga berfungsi sebagai ideologis. Faktanya, hadirnya media sosial telah membuat sekelompok orang mengalami pesakitan terhadap ideologis diri maupun bangsa dan negara yang telah bertahun-tahun terpatri.

Pesat dan cepatnya informasi yang diiringi canggihnya teknologi, mengharuskan lembaga Bhayangkara itu untuk giat bersinergi dengan penghubung informasi. Itulah mengapa, AKBP. Eddwi Kurniyanto sangat senang saat dirinya bertemu dengan komintas media sosial guna membahas serta terlibat aktif di media sosial sebagai agent of change yang menciptakan suasana yang kondusif sebagaimana hal itu merupakan harapan bersama.

Kecuali …. Kalau orang itu memang biang onar. Suasana kondusif, tentu bukan menjadi prioritasnya. Semua ada di tangan kita, bukan? Mau jadi biang kedamaian atau biang keonaran?
|
Yuk, Ajegeh Probolinggo.
Dengan Ajegeh Probolinggo, berarti sama dengan menjaga Indonesia.

***

Tinggalkan Balasan