Black Panter : Satuan Tugas Penumpas Kejahatan

Satuan Tugas Penumpas Kejahatan itu bernama Black Panther. Bergerak cepat menindak kejahatan adalah prinsip mereka. Memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat merupakan tugas prioritas satuan khusus itu



Di tengah negeri ini menyambut teknologi dan kemudahan mengakses informasi, terselip kekhawatiran sangat mendalam. Beragam kondisi instabilitas sosial, tak ayal memberikan peningkatan terhadap kekhawatiran masyarakat dalam menjalankan aktifitas kesehariannya.

Kriminalitas di kota akan berdampak hingga desa. Pun, sebaliknya, kriminalitas yang terjadi di akar rumput, juga akan berdampak pada kestabilitasan di kota. Semua adalah satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan. Apapun bentuknya suatu kejahatan, tak ubah seperti rasa sakit yang harus dirasakan oleh keutuhan tubuh. Oleh karena itu, bila diibaratkan negara ini adalah kesatuan tubuh, tentu akan berlaku kata mutiara ‘bila ada bagian tubuh terluka, maka tubuh yang lain akan turut merasakan’.

Era modern turut mengubah kultur masyarakat—dulunya sigap terhadap pendatang baru—belakangan malah acuh seolah kedatangan orang baru tak membawa dampak apapun. Namun, begitu bom bunuh diri terjadi, akhirnya mereka tercengang setelah tahu siapa sebenarnya orang baru di lingkungannya.

Begitulah kiranya kondisi kamtibmas di negeri berlambang Garuda. Kondisi kamtibmas yang belakangan terakhir begitu kuat diguncang. Adanya indikator instabilitas, bukan lantas masyarakat harus memasrahkan seluruhnya kepada penegak hukum. Walau bagaimana pun, dambaan hidup yang aman, damai dan tentram secara keseluruhan, tak hanya dambaan aparat semata. Jauh daripada itu, kehidupan dinamis dan kondusif merupakan wujud dari dambaan setiap masyarakat. Oleh karenanya, sinergitas antara masyarakat dengan penegak hukum menjadi kemutlakan yang tidak boleh ditinggalkan.

Sinergitas harus menjadi satu kesatuan. Polisi—kendati mereka telah dilatih dan dibekali ilmu kepolisian—tak bisa memelihara ketertiban dan keamanan apabila masyarakat masih enggan sadar akan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah masing-masing. Pun, kepada Kepolisian, dikarenakan masyarakat adalah patner penting menjaga keamanan dan ketertiban, sudah sekiranya polri dapat memberikan ruang pemberdayaan kepada masyarakat—tak hanya sebagai objek penyelenggara fungsi kepolisian—tetapi masyarakat dapat ditempatkan sebagai subyek yang menentukan dan mengelola upaya keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing.

Kemajuan teknologi serta informasi, tak pelak berdampak terhadap kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Meningkatnya kejahatan transnasional seperti narkoba, terorisme, proxy war, kejahatan siber, human traffiking, drug traffiking armed smuggling sampai dengan penyebaran hoax, tak dipungkiri sangat berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, Wahyu Sri Bintoro mempercepat upaya transformasi dan reformasi internal di tubuh Polres Gresik, memperkuat organisasi dengan menerapkan sistem manajemen dengan akuntabilitas tinggi, manajemen kinerja yang baik, efektivitas dan efisiensi proses, sehingga Polres Gresik semakin bisa menjadi organisasi yang solid dan memiliki kinerja tinggi.

Dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai representatif negara, Wahyu Sri Bintoro segera mengambil tindakan cepat. Terlebih lagi, Gresik terkenal dengan julukan kota santri dan wali. Alih-alih menjalankan pelaksana harkamtibmas dan penegakan hukum, Wahyu Sri Bintoro membentuk Satuan Tugas Reaksi Cepat dengan tugas khusus menekan kriminalitas agar tidak semakin merajalela di bumi tugasnya.

Black Panther : Satuan Penumpas Kejahatan written by Dien Albanna

Satuan Tugas Penumpas Kejahatan itu bernama Black Panther. Bergerak cepat menindak kejahatan adalah prinsip mereka. Memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat merupakan tugas prioritas satuan khusus itu. Black Panther terdiri dari Reserse Mobile, Sabhara, dan Polwan.  Black Panther adalah satuan tugas khusus yang diharuskan siap melayani masyarakat selama dua puluh empat jam guna mengantisipasi dan menindak pelaku kejahatan di wilayah tugas.

Anggota Black Panther dipilih dari mereka yang mempunyai kompetensi kemampuan penyelidikan dan penyidikan, informasi dan teknologi, mobilitas tinggi, beladiri, penggunaan senjata api dan mampu bekerja secara tim maupun mandiri. Intinya, mereka harus punya integritas tinggi terhadap tugas dan kewajibannya.

Anggota Street Crime Hunter terdiri dari tiga tim. Masing–masing tim terdiri dari lima belas personil, di antaranya : Tim Barat terdiri dari  sebelas anggota resmob satreskrim dan empat belas Polwan. Tim Utara, terdiri dari lima anggota resmob Satreskrim.

Sedangkan di Tim Selatan, terdiri dari empat anggota resmob Satreskrim. Black Panther mendapat komando langsung dari Giri Satu dengan tugas mengambil tindakan tegas dan cepat dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di wilayah hukumnya.

Bagaimana kisah Black Panther menumpas kejahatan?

Semua kisah mereka diabadikan Dien Albanna melalui karya tulis bertajuk ‘BLACK PANTHER : PASUKAN PENUMPAS KEJAHATAN

Tinggalkan Balasan