Belahan Jiwa Diserang, Sebilah Celurit Melayang

Pemantapan harkamtibmas, menjadi penekanan Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis. Tribrata Satu  itu menetapkan tujuh program prioritas sebagaimana dua di antaranya tentang harkamtibmas dan penegakan hukum; pemantapan harkamtibmas dan penguatan penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan


Perintah Kapolri tentang penegakan dan harkamtibmas itupun dilakukan AKBP. Edwwi Kurniyanto bersama satuan reskrim-nya saat di wilayah hukumnya terjadi kasus pembunuhan. Tak butuh waktu lama—selang sehari dari waktu kejadian—AKBP. Eddwi Kurniyanto berhasil menangkap pelaku.

Kejadian itu terjadi di hari Sabtu, 23 November 2019.

Hari itu, merupakan kali terakhir Slamet Widodo menghirup udara di muka bumi. Kematian Slamet terbilang cukup tragis. Ia tewas di tangan temannya sendiri. Pembunuhan terhadap Slamet, bukan tanpa sebab. Ia dibunuh karena telah menodai istri kawan karibnya.

Pembunuhan itu terjadi karena Nanang Budianto geram saat mengetahui istri yang dicintai mendapat perlakuan tidak senonoh dari temannya. Padahal, sebagai teman—telebih sejak kecil—seharusnya bisa menjadi ‘pagar yang menjaga tanaman’ dan bukan sebaliknya; merusak tanaman yang seharusnya dijaga.

Sebenarnya, kejadian itu tidak hanya sekali terjadi. Sebelumnya, Slemet juga melakukan perbuatan tidak senonoh kepada Juliana, istri Nanang Budianto. Namun, dikarenakan masih menganggap tali persahabatan dan menyimpan kesabaran, Nanang Budianto hanya menasihati Slamet, agar tidak melakukan hal itu kepada istrinya. Naas, permintaan dan kesabaran Nanang diabaikan begitu saja.

Di kemudian hari, Slamet kembali datang dan bermaksud hendak melakukan hal serupa kepada Juliana. Rupanya, hasrat melakukan aksi kali ketiga itu menjadi ke-naas-an bagi Slamet. Nanang yang tadinya bermaksud memancing, tapi memilih pulang karena tempat pemancingan sepi, akhirnya mengetahui aksi bejad temannya itu.

Laki-laki berusia 21 tahun itupun naik pitam dan gelap mata hingga kemudian ia melayangkan sebilah celurit dan membacok Slamet berulang-ulang.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, yang telah menghilangkan nyawa seseorang, AKBP. Eddwi Kurniyanto mengganjar suami Julina itu dengan Pasal 340.

AKBP. Edwwi Kurniyanto saat memimpin press release kasus pembunuhan dan pemerkosaan

“Pelaku membunuh korban dengan celurit. Tidak terima dan dendam karena istrinya diperkosa, menjadi pemantik pelaku menghabisi korban, yang notabene teman korban sejak kanak-kanak,” ujar AKBP. Eddwi Kurniyanto saat memberikan pernyataan press release di Mapolres Probolinggo.

Manusia memang tak selamanya baik dan tak selamanya buruk. Namun, potensi manusia berbuat kejahatan, tentu sangat mungkinkan terjadi. Kejahatan merupakan bentuk perilaku menyimpang manusia dan menjadi ancaman terhadap keteraturan sosial.

Sebagai representatif negara yang hadir di tengah masyarakat, AKBP. Eddwi Kurniyanto tidak berhenti menggenderangkan perang melawan kejahatan. Satu per satu kejahatan di bumi tugasnya, berhasil ditumpas dan pelakunya diberi hadiah hukuman yang berlaku.

Genderang perang melawan pelaku kejahatan tak hanya berfokus mengamankan pelaku, tetapi juga dilakukan pada cikal-bakal kejahatan. Melakukan himbauan dan sinergi membangun kondusifitas, misalnya. Sinergi dan sosialisasi inilah yang sangat penting dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang hukum yang berlaku.

Seperti halnya kasus pembunuhan yang terjadi pada Slamet. Bila melihat secara nurani, Nanang tidak bisa disalahkan. Kegeraman Nanang merupakan kewajaran yang bisa dialami setiap manusia. Lagipula, siapa sih yang tidak marah jika istri atau suaminya diganggu bahkan diperkosa? Sebagai manusia yang memiliki nurani, pasti akan marah. Namun, dikarenakan Indonesia merupakan negara hukum, maka segala sesuatunya harus diatur dan diselesaikan dengan hukum. Itulah maksud  Presiden Joko Widodo tentang negara yang harus hadir di tengah segenap bangsa; untuk dan agar dapat menyelesaikan problematika yang dialami warga negara, tanpa harus melanggar hukum.

Meski maksud membunuh ditujukan membela kehormatan istrinya, akan tetapi tindakan Nanang tetap salah di mata hukum karena dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang.

Satu hal yang pasti.

Kejahatan tetaplah kejahatan. Tak ubah penjajahan yang harus dihapuskan dari muka bumi karena tidak sesuai perikemanusiaan dan perikeadilan.

Tinggalkan Balasan