Never Ending Innovation untuk Berkarya

Sejak dipimpin presiden Joko Widodo, Indonesia dibombardir pencanangan revolusi mental—meskipun sebenarnya sudah terjadi sejak dipimpin Ir. Soekarno. Hanya saja, Bapak proklamator mengumandangkan revolusi tanpa didampingi dengan mental. Entah apalasannya. Tak ingin berburuk sangka, mengapa First President itu hanya mengatakan revolusi tanpa tandasan mental. Mungkin saat itu, mental bangsa Indonesia cukup dianggap baik dan dikancah dunia cukup diperhitungkan. Namun, seiring berjalannya waktu dan sejak dikumandangkan proklamasi—entah kenapa mental bangsa ini menjadi mlempem, tidak segarang ketika zaman penjajahan.

**

Rasanya, mental bangsa ini seperti sudah dininabobokan kemerdekaan dan kebebasan. Seolah sudah tidak ada lagi yang pelu dikhawatirkan. Toh, bukankah Belanda sudah menjauh? Bukankah Jepang  sudah hengkang? Jika memang alasannya demikian—sudah tak ada lagi peperangan sehingga mengkerdilkan mental—mungkin peperangan pantas dipertahankan jika itu yang dapat mempersatukan bangsa ini.

Namun, apa yang terjadi?

Seiring berjalannya kemerdekaan, Indonesia masih banyak kecolongan. Indonesia masih dilanda kekurangan dan kemiskinan. Terlebih, yang menjadi ironis, pertikaian antar anak bangsa seolah tak mampu dihentikan. Entah, mental macam apa yang kini dipertahankan? Perebutan kekuasaan, demostrasi besar-besaran, seolah menjadi tradisi yang tidak boleh ditinggalkan dalam mengisi kemerdekaan.

          Ayo kerja! Ayo kerja! Ayo Kerja!

Tidak hanya sebatas kata belaka, tetapi dicontohkan dengan tindakan nyata. Terus bekerja tanpa mengharapkan belas kasihan dari pemerintah merupakan ciri manusia mental baja.

          Kerja keras dan cerdas tidak bisa dihindari dalam persaingan di zaman serba teknologi. Tak hanya otak yang diisi dengan asupan gizi pendidikan, tetapi mental tidak kalah penting untuk diberikan asupan dalam melawan dan bertahan di zaman yang setiap detik selalu berinovasi.

          Menyadari betapa pentingnya mental, Kapolres Jember tidak segan-segan merubah konsep lembaga kepolisian yang dipimpinnya. Dari lembaga yang dianggap menakutkan, menjadi lembaga yang dicintai masyarakat. Merubah mental kepolisian yang selama ini dijauhi, berbalik arah menjadi mitra masyarakat.

          Sembilan program dihamparkan serta dijalankan merupakan aplikasi dari dihimbau Presiden Joko Widodo. Revolusi mental kepolisian terus digalakan. Kapolres mengubah kinerja tanpa menghilangkan inti dari tugas kepolisian. Meluweskan kebijakan yang dipertujukan menembus hati masyarakat untuk bekerjasama menjaga NKRI melalui kabupaten Jember dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban yang kondusif.

          Tidak bisa dipungkiri, di tengah banyaknya universitas yang telah melahirkan sarjana, seiring itupula pengangguran di negeri ini merajalela. Yang miskin semakin miskin dan yang  kaya semakin berkuasa.

          Ayo kerja!

          Ayo berinovasi!

          Membangun negeri sebagai gerakan mewujudkan suksesnya revolusi mental yang mumpuni. Jangan mau berpangku diri. Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Langkahkan kaki, singsingkan lengan baju untuk memberikan arti kepada ibu pertiwi seperti disampaikan Kapolres Jember, AKBP. Sabilul Alif.

***

2 tanggapan pada “Never Ending Innovation untuk Berkarya”

Tinggalkan Balasan