Merajut Persatuan di Ngabuburit Kebangsaan

Kini, pesta demokrasi telah usai. Saatnya, masyarakat kembali merajut nilai-nilai kebangsaan dan keberagamaan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika

-oOo-

Ibarat pelangi yang dikagumi keindahannya, tak lain dikarenakan ia memiliki banyak warna yang berbeda. Pun, dengan warna yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Semua itu akan nampak keindahannya dikarenakan terdapat perbedaan akan warna yang ada di tengah kehidupan.

Perbedaan adalah rahmat dan menyatukan perbedaan itu hikmah, Tuhan menciptakan manusia beraneka ragam, agar saling mengenal antara satu sama lain. Kenyataannya, memang demikian bukan? Tuhan tidak  hanya menciptakan satu jenis, satu pemikiran, satu ras dan satu-satu lainnya. Sekali lagi. Tuhan menciptakaan keragaman, agar manusia memiliki dinamika dalam kehidupan sebagai mahluk yang bersuku, berbudaya, ber-ras, hingga beragama.

Namun, belakangan terakhir, tepatnya ketika pesta demokrasi diselenggarakan, maka sunah Tuhan itu seolah ditiadakan oleh manusia. Nyatanya, di pesta demokrasi yang seharusnya disambut dengan suka cita, tak jarang berbuah sebaliknya; saling hujat, bahkan saling fitnah yang nyaris ditebar setiap hari di sosial media.

Dampaknya, jelas bisa terbaca.

Permusuhan dan pertikaian yang berindikasi memecah belah persatuan, tak bisa lagi dihindarkan. Faktanya, terdapat anak negeri yang harus berurusan dengan hukum, karena tidak bijak menyampaikan pendapat dan mengisi kehidupan berdemokrasi, yang seharusnya tidak diisi dengan hujat dan maki.

Kini, pesta demokrasi telah usai. Saatnya, masyarakat kembali merajut nilai-nilai kebangsaan dan keberagamaan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Harapan akan masyarakat kembali pada nilai-nilai persatuan dan meninggalkan polemik pesta demokrasi yang serat akan hujat dan maki, tak pelak terlontar dari orang nomor satu di Polres Pandeglang. Selepas Pesta Demokrasi usai, selaku penanggungjawab Harkamtibmas di wilayah hukumnya, AKBP. Indra Lutriantro Amstono menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk kembali merapatkan barisan guna menjaga perdamaian dan kesatuan. Namun demikian, AKBP. Indra Lutriantro Amstono, tentu sangat menyadari. Ia bersama jajaran dan anggotanya, tentu tidak bisa melakukan hal itu sendiri.

Untuk merekatkan kembali nilai-nilai kebhinekaan dalam ketunggalan di wilayah hukumnya, AKBP. Indra Lutrianto Amstono membutuhkan sinergitas dari segenap elemen masyarakat. Untuk itulah, Ia pun menggelar acara dengan nama ‘Ngabuburit Kebangsaan dengan suguhan tema berupaMeneguhkan Semangat Persatuan dalam Menjaga Keutuhan Bangsa Pasca Pemilu 2019. Tujuannya, tak lain untuk berbincang dan menjalin silaturrahmi kepada segenap element masyarakat di Pandeglang.

Menghadirkan elemen masyarakat, bukan hanya untuk sinergitas semata. Lebih dari itu, masyarakat yang notabene memiliki peran penting, merupakan senjata ampuh menciptakan persatuan di tengah lingkungan kehidupan masyarakat itu sendiri. Toh, bukankah memang demikian? Jika masyarakat sadar akan budaya baik, yang kemudian diimplementasikan dalam kerukunan antar tetangga, hingga umat manusia, bukan tidak mungkin kedamaian lingkup luas bisa terwujud. Pendek kata, untuk mencapai kedamaian dan kerukunan nasional, tentu harus dimulai dari kerukunan dan kedamaian di wilayah, bukan?

Wakil Bupati Kab. Pandeglang, Ketua DPRD Kab. Pandeglang, Ketua MUI Kab. Pandeglang, Ketua PGK Prov. Banten, Ketua FSPP Kab. Pandeglang, para OKP Kab. Pandeglang dan Perwakilan Aliansi Mahasiswa Se- Kab. Pandeglang, turut hadir di acara Ngabuburit Kebangsaan yang digelar AKBP. Indra Lutriantro Amstono.

Ucapan terimakasih berikut rasa syukur, mengalir dari tokoh yang hadir di Ngabuburit Kebangsaan, tanpa terkecuali terimkasih dan rasa syukur dari Ketua MUI Pandeglang, KH Tubagus Hamdi Ma’ani. Bahkan, ketua MUI itu, tak hanya mengucapkan rasa terimakasih kepada Polri di Pandeglang semata. KH. Tubagus Hamdi Ma’ani, juga menyampaikan terimakasih kepada TNI, yang telah bersinergitas dengan Polri, sehingga tercipta pemilu dengan lancar, transparan, jujur, adil, dan demokrastis, khususnya di wilayah Pandeglang.

Di acara Ngabuburit Kebangsaan, AKBP. Indra Lutriantro Amstono, nampak sangat bahagia atas sambutan para tokoh hingga elemen masyarakat yang turut hadir. Ia pun berulang kali menyampaikan harapannya, agar masyarakat Pandeglang kembali pada nilai-nilai persatuan dan meninggalkan segala perbedaan terkait pesta demokrasi.

Orang nomor satu di Polres Pandeglang itupun tak lupa menghamparkan kondisi kekinian sebagaimana dunia yang sedang bergerak memasuki era revolusi 4.0, yang noteneben kini dunia telah berada dalam genggaman yang hanya bermodalkan gadget dan internet.

Era revolusi 4.0, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan zaman. Teknologi komunikasi berbasis media sosial, menempati derajat tinggi di dalam kehidupan bermasyarakat. Sisi positifnya, dengan adanya teknologi, silaturahmi bisa dilakukan dengan mudah. Namun,  sisi negatifnya, informasi bohong atau dengan mudah disebar, sehingga dapat membuat masyarakat mudah terprovokasi.

Selain menghamparkan kondisi kekinian, AKBP. Indra Lutriantro Amstono, yang notabene penanggungjawab harkamtibmas di Pandeglang, meminta agar adanya kubu 01 dan 02, segera dihapuskan dan kembali kepada 03; mengeratkan kembali Persatuan dan Kesatuan, sebagaimana hal itu pondasi sekaligus modal untuk menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia.  

“Kita ucapkan, syukur atas pemilu di Pandeglang yang berjalan aman, damai dan lancar. Mari kita jaga kondusifitas usai pemilu karena kita semua adalah bersaudara,” ucap AKBP Indra Lutriantro Amstono, saat menutup acara Ngabuburit Kebangsaan.

________________________
Cholis Rosyidatul Husnah
Penulis ini berkelahiran asli Jember. Sedang mengenyam Pendidikan S1 di IAIN Jember Semester 8 Jurusan Hukun Keluarga Fakultas Syariah. Alumni Pondok Pesantren Nurul Islam Jember. Selain menulis, penulis memiliki cita-cita menjadi bagian dari praktisi penegak hukum di Indonesia.

519total visits,5visits today

Tinggalkan Balasan