Sebuah Buku Penumpasan Teroris di Bumi Wali

Pepatah ‘Esa Hilang Dua Terbilang’, rupanya terjadi di negeri ini. Selepas penjajah pergi, datang gerombolan yang menginginkan negeri ini berganti ideologi. Mereka melancarkan aksi. Memberondong dengan peluru kepada siapa saja yang ingin menghalangi. Apapun bentuknya, radikalisme dan terorisme tak ubah penjajahan yang harus dihapuskan serta dijauhkan dari kata ‘rekayasa’ dari muka bumi Indonesia.

Hilangnya nyawa bukanlah suatu permainan dan rekayasa. Penggiringan opini yang sejauh ini berkembang tatkala ada aksi terorisme, merupakan pengggiringan opini yang tidak bisa dibenarkan. Apa yang terjadi di Tuban, merupakan suatu jawaban bahwa mereka (teroris) yang memang benar adanya dan bukan suatu rekayasa.

Tak ada rekayasa atas maksud penghilangan nyawa. Kematian bukan sandiwara yang bisa dipertontonkan kepada khalayak. Jelas, apa yang dilakukan para teroris dengan membunuh diri dan orang lain, tidak bisa dibenarkan dalam konteks apapun.

Semua manusia tentu menginginkan kedamaian, kesejahteraan dan kesentosaan ketika menjalankan kehidupan. Tak di bumi Utara maupun Selatan. Tak pula di Barat maupun Timur. Namun, harapan itu rupanya harus disadarkan oleh sebuah kesepakatan tak tertulis. Padi yang ditanam, rupanya harus diiringi rumput yang ikut berkembang. Di balik keinginan luhur membangun peradaban, tak menampik tumbuh sekelompok ‘rumput’ yang siap menjadi perongrong.

Buku ini dituliskan berdasarkan kisah nyata, berikut berasal dari sumber yang terpercaya—Kapolres Tuban, AKBP. Fadly Samad. Melalui buku ini, Dien Albanna—selaku penulis—menyampaikan harapannya  agar masyarakat turut mengedepankan pikiran positif serta mengapresiasi kinerja Polri yang tak mengenal waktu demi keamanan dan kenyamanan berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Apapun bentuknya, radikalisme dan terorisme tak ubah penjajahan yang harus dihapuskan serta dijauhkan dari kata ‘rekayasa’ dari muka bumi Indonesia. Hilangnya nyawa bukanlah suatu permainan dan rekayasa. Penggiringan opini yang sejauh ini berkembang tatkala ada aksi terorisme, merupakan pengggiringan opini yang tidak bisa dibenarkan.

Apa yang terjadi di Tuban, merupakan suatu jawaban bahwa mereka (teroris) memang benar adanya dan bukan suatu rekayasa, sehingga dengan mudahnya memermainkan nyawa.

Buku—lebih tepatnya novel—pernah juga diulas oleh Judith Lubis— seorang pengusaha dan pakar telematika yang sering muncul di Metro TV. Berikut adalah ulasan Heroik : Penumpasan Teroris di Bumi Wali, yang ditulis oleh Judith Lubis di laman Facebook-nya pada tanggal 4 Agustus 2018. Berikut adalah ulasan Judith Lubis mengenai buku Heroik : Penumpasan Teroris di Bumi Wali.

‘Apabila ujung lidah tidak dapat bicara maka ujung keris yang akan meluruskan’. Peribahasa itu tak lain menggambarkan buku berjudul ‘Heroik : Penumpasan Teroris di Bumi Wali’, karangan Dien Al Banna.

Buku singkat sebanyak 106 halaman ini, menceritakan dengan bahasa sederhana, yang menceritakan kisah Polres Tuban tatkala menumpas kelompok radikal bersama dukungan Kodim 0811 Tuban.

Di saat mempertaruhkan nyawa dan nama baik Bumi Wali, AKBP. Fadly Samad rupanya harus membujuk seorang petani yang berada di area baku tembak yang hendak mengambil sapinya karena takut hewan peliharannya itu terkena tembak. Sebagai Pimpinan Operasi, AKBP. Fadly Samad tentu saja bertanggungjawab meminimalkan jatuh korban jiwa.

Bukan hanya dari kesatuan yang dipimpin, akan tetapi juga dari masyarakat yang notabene petani itu. Alih-alih agar lekas pergi dari tempat baku tembak, AKBP. Fadly Samad pun  meyakinkan Pak Tua akan mengganti sapinya. Kisah Petani tua yang berlari di kebun jagung saat terjadi baku tembak karena tak mau kehilangan hewan peliharaannya menambah keharuan dari buku karya Dien Albanna.

Heroik : Penumpasan Teroris di Bumi Wali, mengisahkan bagaimana upaya himbauan, negosiasi dan akhirnya harus mengambil tindakan penumpasan kelompok terorisme di Kota Bumi Wali Tuban. Bagian lain yang menarik adalah harapan Polisi kepada Kelompok Terorisme untuk menyerah. Namun, ternyata harapan dan negoisasi itu sia-sia karena mereka sudah terbai’at doktrin kewajiban membunuh kafir harbi agar mendapat pahala atau mati “syahid”.

Halaman demi halaman saya nikmati seakan berada di tempat kejadian penumpasan kelompok terorisme yang akhirnya menewaskan enam pelaku terorisme itu.

Diakhir penutup, buku ini memaparkan bahwa teroris itu ada dan bukan rekayasa. Buku ini memang tipis, tapi isinya sungguh luar biasa. Terimakasih Mas Dien Albanna, sudah menulis lugas kisah heroik adinda idola Fadly Samad saat menumpas jaringan Teror di Bumi Wali hingga nikmat dibaca. Buku ini wajib dibaca bagi yang ingin membuka wawasan lebih dalam terkait kinerja Polri dalam menumpas terorisme.


  • Judul               : Heroik : Penumpasan Teroris di Bumi Wali
  • Penulis            : Dien Albanna
  • Penerbit          : JKM
  • Tahun Terbit    : 2017
  • Edar  : Toko buku di Indonesia
TERORIS ITU NYATA, BUKAN REKAYASA

Tinggalkan Balasan