Himbauan Menjelang Pesta Demokrasi

Pemilu merupakan salah satu ciri khas dari negara demokrasi. Bahkan, pemilu menjadi instrumen penting menetukan perubahan agar menjadi lebih baik. Dan, di tahun 2019, Indonesia akan melaksanakan agenda kenegaraan yang berasaskan demokrasi itu untuk memilih putra terbaik bangsa sebagai pemimpin lima tahun mendatang.

Untuk menjaga kesucian agenda kenegaraan itu, maka pemilu sudah seharusnya diselenggarakan secara transparan, jujur, adil bebas, dan rahasia. Sukses tidaknya pemilu dapat diukur dari besar tidaknya keikutsertaan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu secara langsung, sebagaimana satu suara mereka akan menentukan arah masa depan bangsa di masa yang akan datang.

Namun, begitulah kenyataan yang terjadi. Baik di dunia nyata maupun maya, rupanya agenda pemilihan umum tak jarang melahirkan suatu konflik. Entah itu menjelekan pasangan calon lain, money politic, issu SARA, atau segudang indikasi-indikasi konflik lainnya—yang semua itu bisa berasal ketika relawan maupun simpastisan yang saling serang demi menaikan pamor jagoannya.

Saat ini, masa kampanye dari masing-masing calon sudah dimulai. Tidak hanya di jalan raya saja bertebaran baliho atau media kampanye yang bertujuan mengangkat calon yang diusung. Di sosial media pun, tak pelak dijadikan media untuk mengkampanyekan calon-calon pemimpin bangsa itu.

Namun, satu hal yang perlu disadari, pesatnya penyebaran informasi yang ditunjang perkembangan teknologi—selain menghadirkan hal positif—juga dapat melahirkan dampak negatif. Salah satu bentuk negatif itu adalah  marak suguhan kebohongan, ujaran kebencian, bahkan hujat dan maki yang tak pelak setiap hari  tersebar di jaga maya.

Pada dasarnya, hoax adalah kejadian yang dibuat-buat dengan atau karangan belaka—berita bohong atau tidak sesuai kenyataan. Parahnya, dikarenakan masyarakat masih banyak yang minim pengetahuan literasi maupun berita, akhirnya hoax itupun dikonsumsi layaknya berita yang benar valid adanya. Padahal, berita itu belum ataupun tidak benar.

Mendekati Hari Pemilihan, informasi mengenai paslon semakin banyak bertebaran di sosial media. Ironisnya, informasi-informasi yang ditebar, tak jarang tanpa didampingi oleh data dan fakta yang valid. Alhasil,  informasi yang seharusnya mengedukasi, malah berbuah sebaliknya. Hujat-maki dan tak jarang berujung pada pemfitnahan yang keji. Dan, semua itu tidak hanya disebar di satu sosial media saja. Informasi-informasi yang tujuannya penggiringan informasi itu disebar juga di sosial media lainnya;  Facebook, Intragam, Twitter hingga grup- Whatssap, yang pada akhirnya orang-orang di grup itupun menerima informasi yang tak jarang masih abu-abu.

Berita hoax tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, masyarakat Indonesia sudah mulai terjangkit oleh berita hoax. Apalagi, diera politik seperti sekarang ini. Berita hoax semakin menyudutkan satu sama lain, menebarkan ketidakbenaran, saling mencaci, bahkan mematikan karakter dari lawan politiknya. Memang, di satu sisi, media sosial digunakan sebagai media untuk kampanye positif. Namun, di sisi lain media sosial juga disalahkgunakan untuk kampanye negatif. Menjelek-jelekan calon lain, misalnya.

Penyebaran berita hoax, jika tidak segera ditangani tentu akan semakin meresahkan dan mengganggu ketentraman. Oleh karenanya, penanganan harus dimulai dari masyarakat itu sendiri dengan cara memahami serta mengidentifikasi kebenaran dari sebuah berita. Alih-alih tidak ingin masyarakat di wilayah hukumnya mengkonsumsi hoax dan terpicu provokasi dari sosial media, Kombes Pol Sabilul Alif, Kapolres Kota Tangerang, segera menginisasi upaya penekanan penyebaran hoax menjelang pemilihan umum berlangsung.

Silaturhami Polisi bersama Masyarakat

Begitulah Kapolres Kota Tengerang itu memberi nama upaya atas inisiasinya. Tak hanya masyarakat dari kalangan akar rumput saja. Silaturhami Polisi bersama Masyarakat itupun dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat dan Toda Polres kota Tangerang. Tujuan silaturhami itu tak lain untuk menjaga kerukunan antar warga agar ketentraman, kenyamanan, dan persaudaraan di masyarakat tetap terjaga, terlebih lagi menjelang hari pemilihan.

Pada momen itu, Kapolres Kota Tengerang menyampaikan tentang bahaya hoax, serta sejarah maupun peristiwa besar yang dipicu oleh berita bohong itu. Selain itu, Kombes Pol Sabilul Alif  juga menyampaikan tentang Indonesia yang menjadi contoh negara-negara lain dikarenakan merupakan negara yang kokoh dan dapat menghargai perbedaan sesama umat beragama tanpa adanya konflik.

“Mari ciptakan Tangerang yang cinta persatuan dan kesatuan. Tangerang yang mampu dan menjadi pelopor mewujudkan Pemilu yang aman, damai, dan kondusif. “ ujar Kapolres Kota Tangerang itu mengajak segenap tamu undangan yang hadir.

Polri, TNI, Bawaslu dan instansi terkait yang bersentuhan langsung dengan pemilihan umum, tentu perannya sangat dibutuhkan hingga proses pemilu berlangsung. Kemeriahan proses seleksi kepemimpinan melalui perolehan suara pastinya membutuhkan peran aktif seluruh warga negara tanpa terkecuali. Partisipasi masyarakat pada momen pemilu tidak hanya dilihat dari tingginya angka pemilih, akan tetapi partisipasi itu juga  diukur dari tingkat kesadaran dari masyarakat untuk terlibat di seluruh rangkaian proses penyelenggaraan pemilu.

Sebagai warga negara yang baik tentu harus selektif menentukan calon pemimpin bangsa. Caranya, dengan pandai memilah informasi yang disuguhkan berbagai lini media massa tanpa terkecuali media sosial.

Menggunakan hak pilih sesuai hati nurani, tak ada intimidasi, mendukung serta ikut mengawal jalan pemilu, serta menjamin keberlangsungan pemilu yang sesuai dengan prinsip bebas, jujur, adil, rahasia dan bermartabat, adalah upaya  menentukan calon pemimpin bangsa menuju ke arah yang lebih baik. Untuk itu, dikarenakan penting dan vitalnya memilih calon pemimpin berdasarkan hati nurani, KombesPol Sabilul Alif dengan tegas memberikan jaminan keamanan dari intimidasi pihak yang berupaya membelokan pilihan masyarakat kota Tangerang dalam menentukan pilihannya.

“Polri bersama penyelenggara pemilu lainnya, akan mengawal serta memastikan semua masyarakat yang datang ke TPS dalam keadaan aman tanpa adanya intimidasi dari pihak manapun.” tegas Kapolres Kota Tangerang itu dengan penuh kemantapan.

Sementara itu, relawan, simpastisan dan tim sukses pasangan calon, juga mendapatkan himbauan dari Kombespol Sabilul Alif agar dalam berkampanye tidak menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan secara hukum. Mendukung dengan sehat dan tidak melanggar ketentuan adalah himbauan yang seringkali dilontarkan Kapolres Kota Tangerang mereka yang hadir di acara Silaturhami Polisi bersama Masyarakat itu.

“Pesta demokrasi harus disambut suka cita, dan bukan malah sebaliknya,  menimbulkan pertikaian sesama anak bangsa.” pungkas Kapolres Kota Tangerang, Kombespol Sabilul Alif.


Penulis : Nur Rifa
Editor : Dien Albanna

Tinggalkan Balasan