AKBP. Kusworo Wibowo Ungkap Sisi Gelap Warung Pinggir Jalan

Untuk menggapai tujuan bersama—Harkamtibmas, misalnya—penegak hukum tidak bisa bekerja sendiri. Untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di suatu wilayah, penegak hukum memang harus merangkul segenap elemen masyarakat di suatu wilayah. agar kemudian bersama-sama dengan penegak hukum memberantas hal-hal yang meresahkan kehidupan bermasyarakat.

Begitupun sebaliknya.

Masyarakat tidak bisa bekerja sendiri untuk menciptakan suatu lingkungan yang aman, damai, dan kondusif dari hal-hal yang meresahkan. Semua kuncinya ada pada sinergitas yang baik antara penegah hukum—dalam hal ini Polres Jember—dengan masyarakat setempat.

Sinergitas yang baik antara masyarakat dan Polres Jember itupun ditunjukkan tatkala seorang tokoh agama setempat mengetahui adanya praktek prositusi di sebuah warung yang berada di jalan menuju arah Jember-Banyuwangi.

Warung memang menjadi ciri khas masyarakat Jawa Timur, yang biasanya menjual kopi dan gorengan. Terlebih jika warung itu terletak di pinggir jalan area di area persawahan, tak ayal jika warung itupun banyak dikunjungi oleh orang-orang seusai bekerja di  sawah untuk melepas penat.

Namun, penggerebekan warung yang dilakukan Satreskrim Polres Jember, tentu berbeda dengan warung yang memang hanya benar-benar menjual kopi berikut seperangkat gorengannya. Warung yang di razia Polres Jember adalah warung yang—selain menjual kopi dan seperangkat gorengan—juga menyediakan fasilitas kamar untuk bisnis esek-esek.

Suatu dugaan prostitusi dengan balutan warung kopi  dilaporkan oleh Ustadz Abu Bakar dan Ustadz  Faidin Hasdi, mereka adalah dua ustadz yang selalu perhatian dengan lingkungan.

Mereka melaporkan bahwa ada praktek yang diduga prostitusi di wilayah sekitar jalan Jember-Banyuwangi. Pelaporan itu menggunakan grup whatsapp LPAI yang digunakan untuk memantau masyarakat kota Jember.

Razia yang dilakukan AKBP. Kusworo Wibowo, ternyata bukanlah kali pertama. Sebelumnya, masyarakat sekitar juga pernah menggerebek warung esek-esek itu. Namun, iktikad dan janji mereka untuk tidak melakukan perbuatan mesum itu rupanya hanya sebatas omong belaka dan mereka tetap melakukan hal yang sama.

Alih-alih tak ingin main hakim sendiri, Ustadz Abu Bakar dan Ustadz Faidin Hasdi  pun menginformasikan terkait adanya praktek prostitusi di grup Whatsapp—yang di dalamnya beranggotakan—AKBP. Kusworo Wiboro, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, organiasi kemasyarakat, organisasi keagamaan, dan tidak ketinggalan ada juga Forkompimda Jember.

Usai  informasi itu diterima, AKBP. Kusworo Wibowo, selaku Kapolres Jember, segera menerjukan anggotanya menuju TKP untuk melakukan razia. Naas, razia pertama mereka tidak mendapatkan barang bukti dan tidak menemukan adanya unsur tindak pidana.

Namun, kekosongan itu tidak lantas membuat anggota Polres Jember itu surut. Berbekal kuat laporan dari kedua tokoh agama itu, AKBP. Kusworo Wibowo memerintahkan anggotanya untuk terus melakukan pemantauan dan penyelidikan lebih lanjut di keesokan harinya hingga pada penggerebekan selanjutnya itu mereka pun menemukan bukti-bukti bahwa laporan ustadz Abu Bakar dan Ustadz Fadin memang benar adanya; di warung tepi jalan Brigjen Katamso, Sumber Sari, Jember ini. itu terdapat praktek prostitusi

“Kami langsung terjun begitu mendapat informasi. Anggota langsung mendatangi TKP dan melakukan razia. Saat itu, kami memang tidak menemukan barang bukti maupun unsur pidana. Tapi, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, dalam hitungan satu kali dua puluh empat jam, kegiatan prostitusi di warung itu berhasil kami bongkar—AKBP. Kusworo Wibowo, Kapolres Jember.

Kasus semacam itu tentu menjadi momok bagi lingkungan. Terlebih, apabila praktek prostitusi diadakan di wilayah yang notabene terdapat anak kecil. Pastinya, bukan tak mungkin penyakit masyarakat itu menjalar kepada mereka. Ironisnya, jika dibiarkan, tentu akan berdampak pada perkembangan jiwa generasi bangsa. 

Namun, hal yang mendasar mengapa jaringan prostitusi itu harus diberantas, bukan karena ada atau tidaknya anak-anak di area praktek tersebut. Hal yang mendasar, mengapa prostitusi harus diberantas, tak lain karena perbuatan itu dapat merusakan rumah tangga, yang tadinya harmonis menjadi ironis. Hingga kemudian, merambah menjadi suatu hal yang meresahkan masyarakat. Bila lingkungan sudah dipenuhi keresahan, maka bisa dipastikan kamtibmas tidak mungkin terwujud. Untuk itu, guna mewujudkan kondusifitas, maka hal-hal yang sifatnya meresahkan—masih indikasi ataupun sudah terjadi—harus segera ditangani agar tidak menjalar dan berlarut-larut.

Dari hasil razia itu,  Unit Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Resmob Polres Jember berikut dengan masyarakat, berhasil mengamankan  dua pemilik warung esek-esek itu.  Damang Mahayu dan Misnati, kedua pemilik warung Pekerja Seks Komersial itu, hanya bisa pasrah ketika warungnya di razia untuk kali kedua oleh satreskrim beserta masyarakat.

Naasnya, di razia kali kedua, barang bukti maupun unsur pidana terkait perbuatan yang dilakukan kedua pemilik warung itu ditemukan oleh satreskrim Polres Jember.  Selain kedua pemilik warung esek-esek itu, AKBP. Kusworo Wiboro melalui satreskrim Polres Jember, juga mengamankan tiga ibu rumah tangga yang ditengarai sebagai Pekerja Seks Komersil di warung yang tak jauh dari terminal Pakusari itu.

Berkat perbuatannya, mereka diberikan ganjaran setimpal. Mereka dijerat dengan pasal 296 KUHP, junto 506 :

Barang siapa yang mempermudah perbuatan cabul dan mendapatkan keuntungan postitusi dari tindak pidana pelacuran yang dianggap sebagai mucikari, maka diancaman kurungan satu  tahun empat bulan.

Kecepatan menerima informasi dan melakukan aksi itu diakui kedua ustadz yang memberikan informasi tersebut kepada AKBP. Kusworo Wibowo. Ustadz Abu Bakar dan Ustadz Faidin mengapresiasi rekaksi Polres Jember yang dengan sigap dan tanggap mampu membongkar kegiatan prostitusi dan mengamankan mucikarinya. Ia mengucapkan beribu banyak terimakasih kepada Polres Jember dan seluruh jajarannya dalam waktu satu kali dua puluh empat jam yang telah berhasil mengungkap penyakit masyarakat yang meresahkan.


Ani Hidayatul Munawaroh
Penulis adalah alumni Pondok Pesantren “Al-Islam” Joresan, yang sekarang menempuh pendidikan di IAIN Tulungagung jurusan Tadris Biologi semester empat. Selain menulis, penulis memiliki keterkaitan terhadap kepedulian alam dan lingkungan serta bercita-cita mengembangkan Sains dalam Al-Quran di Indonesia.

2827total visits,2visits today

Tinggalkan Balasan