Bhayangkara di Tapal Batas : Kisah Pengabdian Para Penjaga Etalase Negeri

Mengurus institusi tak ubah mengurus negara. Institusi adalah ‘negara kecil’ dari bagian negara besar, yang tak menampik terdapat kemajemukan masyarakat di dalam ‘negara kecil’ itu.  Begitupula di Polres Belu, tak hanya terdiri satu suku berikut pola pikir yang sama. Pastinya, di Polres Belu pun terdapat masyarakat—perwira dan bintara—dengan suku dan pola pikir yang berbeda.

Dan, itu menjadi kelumrahan.

Polres Belu tak ubah ‘negara’ yang kini dipiloti Christian Tobing. Ia sudah seharusnya mempertahankan peninggalan pendahulunya—kapolres sebelumnya—bahkan seharusnya  mampu membawa Polres Belu lebih berkembang dan maju sesuai visi dan misi Kapolri Tito Karnavian. Meski sudah tertata rapi. Namun, tugas Christian Tobing sebagai Kapolres, tentu tak mudah dikarenakan memertahankan lebih sulit daripada meraih. ‘Menjual’ lebih sulit daripada membeli.

Inilah yang menjadi pokok pemikiran Christian Tobing. Selain mengemban tugas dan fungsi kepolisian yang harus dilaksanakan. Ia juga diharuskan menjadi pemimpin yang unggul dan memiliki terobosan inovasi guna membawa Polres Belu menjadi lebih baik dengan berlandaskan visi dan misi Kapolri.

Christian Tobing tak menampik, jika Nusa Tenggara Timur ataupun Indonesia bagian Timur, memang tidaklah seperti kota-kota di pulau Jawa.  Namun, itulah yang membuat Indonesia memiliki ciri khas di mata dunia. Di setiap provinsi, kota, desa, dusun, hingga sudut di akar rumput wilayah Indonesia, menghadirkan keunikan akan pesonannya. Boleh dikata, Nusa Tenggara Timur—terlebih lagi Belu—bukanlah kota besar layaknya kota-kota yang berada di Jawa Timur, Tengah maupun Barat.  Namun, meski Belu terbilang kota kecil dan terpencil, Nusa Tenggara Timur adalah etalase Indonesia yang langsung berhadapan dengan Timur Leste, sebagai negara tetangga, dan itu tentu tidak dimiliki di kota-kota yang ada di pulau Jawa.

Belu adalah ibukota Atambua. Kota kecil yang terletak di Pulau Timor Indonesia; Nusa Tenggara Timur.  Meski berada di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, akan tetapi Atambua tidak kalah eksotik akan keindahan alamnya. Hanya saja, Atambua jarang terekspos media, sehingga kecantikan dan keekstotikannya tidak nampak di mata dunia. Namun, semua itu tidak menjadikan Atambua berkecil hati. Seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi, perlahan tapi pasti, Atambua mulai terekspos di media sosial karena alamnya yang memang instagramable.

Di Atambua, penduduknya juga masih sangat jarang sekali. Tentu tidak sepadat Surabaya, kota yang pernah disinggahi Christian Tobing di kala menjabat sebagai Pama Polda Jawa Timur.

Ditinjau dari segi geografis, Atambua dikelilingi oleh perbuktikan yang sangat memesona. Tak cukup sampai di situ, Atambua juga memiliki pesona pantai yang indah dan sangat rekomendasi apabila dijadikan tujuan wisata bahari. Toh, nyatanya, Atambua juga pernah dijadikan tempat shooting film ‘Aisyah Biarkan Kami Bersaudara’.

Masyarakat di tempat Christian Tobing bertugas, terdiri dari beberapa suku bagian dan memiliki lapisan sosial tersendiri. Masyarakat Waiwiku, misalnya, merupakan pemegang kekuasaan yang berfungsi mengatur pemerintahan tradisional. Begitupula dengan lapisan tertinggi di masyarakat Belu, Ema Nain, yang tinggalnya di Uma Lor atau Uma Manaran, adalah pelapisan tertinggi atau raja.

Setiap tempat yang dipijak, pasti menghadirkan kenangan atau pengalaman tersendiri. Begitupun Belu bagi Christian Tobing. Belu adalah kota yang menyambut untuk kali pertama dirinya diamanti menjadi Kepala Kepolisian Resor. Dan, tentu hal ini menjadi sejarah yang tak mungkin bisa hilang dalam memori dan sanubari Christian Tobing.  Satu hal yang pasti, Belu adalah kota pertama yang dilabuhi Christian Tobing untuk kali pertama dirinya menjabat sebagai Kapolres.  Keduanya—antara Belu dan jabatan Kapolres-nya—memiliki kesamaan dalam sejarah kehidupan Christian Tobing. Di kota Belu-lah, untuk kali pertama Christian Tobing belajar menjadi pemimpin sebagai kepala kepolisian resor. Dan, di kota Belu pula, kepemimpinan Christian Tobing dicatat dalam sejarah peradaban di kota yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

Bagi seorang abdi negara, memang tidak bisa memilih. Di mana pun institusi dan negara menempatkan, seorang abdi negara harus siap dalam kondisi apapun. Siap dipimpin dan siap pula memimpin. 

Di angkatanya, AKPOL 2000, Christian Tobing bukan satu-satunya yang menjabat sebagai Kapolres. Ada beberapa dari teman Christian Tobing, yang juga  menjabat Kapolres dan mereka mendapat penempatan di pulau Jawa dan Kalimantan.  

Manusiawi jika kemudian ada perbandingan di antara mereka. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Toh, pada hakikatnya, di bumi mana pun bertugas, di situlah merah putih harus dijunjung dan berkibar. Pengabdian bukan semata-mata menjalankan tugas institusi semata. Tugas yang diberikan oleh institusi merupakan pengabdian untuk kemajuan persada negeri. Dan, Indonesia bukan hanya di pulau Jawa saja. Indonesia adalah sebuah negeri yang terdiri dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Aceh, Nusa Tenggara, dan Papua.

Kendati bertugas di Indonesia bagian Timur—yang notabene masih sangat jarang penduduknya bukan berarti Christian Tobing bisa berleha-leha. Justru, dengan bertugas di Atambua, tugas dirinya sebagai penanggungjawab harkamtibmas semakin berat dikarenakan wilayahnya menjadi etalase negeri. Selain mengawasi tindak kriminal di wilayah hukumnya, Christian Tobing juga harus mengawasi gejolak yang masuk dari negara tetangga.  Double, tugas, bukan? Mengawasi dalam negeri dan juga luar negeri.

Meski terbilang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan kecanggihan teknologi—berbeda dengan pulau Jawa yang rata-rata Polresnya sudah terintegerasi dengan teknologi—Christian Tobing tidak lantas patah arang untuk berinovasi. Setidaknya, jika memang inovasi It tidak bisa dilakukan, ia harus melakukan inovasi di bidang non IT. Lebih dekat membaur dengan masyarakat, misalnya.

Inovasi merupakan komando perdana Christian Tobing yang diarahkan kepada jajaran dan anggota di Polres Belu. Inovasi tidak melulu tentang IT. Inovasi bisa merambah banyak hal dari yang sifatnya kecil hingga besar. Dengan memperbaiki etos kerja, misalnya. Itu juga merupakan bagian dari invovasi, yang tujuannya adalah merubah sesuatu yang ada menjadi lebih baik lagi. Merubah etos kerja juga sangat penting karena hal itu bagian dari visi Professional Kapolri.

Berjuang adalah bentuk manifestasi rasa syukur manusia kepada Tuhan sebagaimana telah diciptakan dan diizinkan hidup di dunia. Dengan berjuang manusia bisa membuktikan bahwa dirinya itu pantang menyerah, ulet, dan percaya bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus, niscaya akan membuahkan hasil dan menjadi motivasi bagi orang lain seperti halnya yang dilakukan penjaga negeri di perbatasan.

Demikianlah sejarah itu tercatat di antara dua negara. Setelah Timor Leste mendeklarasikan sebagai negara berdaulat, maka Nusa Tenggara Timur secara otomatis menjadi perbatasan di antara kedua negara; Indonesia dengan Timor Leste.

Tak dipungkiri, memang. Bertugas di perbatasan harus bekerja lebih keras daripada bertugas di wilayah yang bukan perbatasan. Pasalnya, perbatasan adalah pintu keluar-masuk antara dua negara yang memungkinkan masuknya kejahatan international.

Bertugas di perbatasan selain jauh dari hiruk pikuk keramaian, juga harus meningkatkan kinerja untuk mengantisipasi kejahatan yang datangnya dari luar negara. Pendek kata, bertugas di wilayah perbatasan harus double extra. Menjaga agar kamtibmas di dalam negeri tetap kondusif dan di satu sisi juga memantau agar gejolak yang terjadi di negara tetangga tidak masuk ke dalam negeri.

Bhangkara di Tapal Batas adalah sebuah karya Dien Albanna yang mengisahkan tentang pengabdian para Bhayangkara di tanah Belu
Bentuk nyata terlaksananya Promoter dengan baik juga berlaku di wilayah hukum Tapal Batas. Polri di Belu terus menggenderangkan visi Promoter Kapolri. Dimulai dari pembenahan kultur birokrasi, sumber daya manusia, hingga terlahirnya inovasi yang diciptakan oleh  Bhayangkara di Tapal Batas.

1130total visits,1visits today

Tinggalkan Balasan