Kisah Sebelum ‘Nette Boy : Polisi Wangi Sejuta Prestasi’ Terlahir

Januari, 2017

Adalah awal mula saya tahu beliau dari sosial media garapan Jan Koum dan Brian Acton. Di sebuah grup Whatsapp yang berisikan beberapa Kapolres dan netizen, saya pun tahu sebuah nama tentang orang yang tengah menahkodai Polres Tanjungperak itu. Beliau adalah Takdir Mattanete. Seorang abdi negara berseragam Bhayangkara yang tengah bersandang dua melati dipundaknya.

Seperti Kapolres lainnya, nama AKBP. Takdir Mattanete itupun hanya sekadar tahu. Hingga, di suatu kesempatan, saya memberanikan diri untuk menggunakan jalur pribadi di Whatsapp untuk say hallo  kepada orang nomor satu di Polres Tanjung Perak kala itu.

Pembukaan berikut tujuan men-japri  beliau pun saya layangkan. Satu jam, dua jam, hingga entah beberapa jam kemudian, beliau baru membalas chatt saya. Tak ada pertanyaan keluar melalui balasan chatt beliau. Chatt saya dibalas dengan singkat dan mempersilakan saya datang menghadap beliau di markas komandonya.

Sejauh berinteraksi dengan Kapolres, baru kali itu chatt saya tidak mendapat ‘perlawanan’ sama sekali. Berbeda dengan sebelumnya, chatt saya harus mengalami ‘pengintrograsian’ sebagai upaya mereka untuk mendapatkan keyakinan atas chatt yang saya sampaikan.

Apa yang dilakukan AKBP. Takdir Mattanete, bukan lantas membuat saya senang. Justru,  saya malah mengalami sebaliknya. Saya malah galau dengan respon beliau yang langsung menyuruh saya datang tanpa pertanyaan ini dan itu.

Banyak alasan mengapa galau itu menghinggapi batin saya. Pun, berbagai pertanyaan, tak luput melayang-layang di benak akan sikap beliau yang saya rasa tidak seperti Kapolres lainnya.

Biasanya, kalau saya chatt Kapolres, mereka akan bertanya, ‘Sudah nulis apa saja?’ ‘Siapa saja yang pernah ditulis?’ dan tentu berbagai hal pertanyaan lain yang menjadi ‘pertempuran’ di jalur pribadi itu.

Saya membiarkan berbagai pertanyaan itu memenuhi benak hingga waktu yang ditentukan menghadap itu tiba. The last, saya memenuhi undangan AKBP. Takdir Mattanete—yang masih menjabat Kapolres Tanjung Perak itu.

Kedatangan saya di Polres Tanjung Perak disambut guyuran hujan. Saya berusaha menghubungi beliau untuk memberi kabar, jika sudah berada di Polres Tanjung Perak. Namun, maksud itu gagal.

Beliau tak membalas pesan Whatsapp  saya.

Saya tak ingin membuang waktu. Menunggu balasan yang entah kapan terbalas. Lagipula, saya harus berteduh. Bukan berdiri di depan gerbang Polres Tanjung Perak layaknya Sharuk khan yang sedang menunggu Narayan Sangkar keluar Gurukul.

Tidak.

Saya tidak akan melakukan seperti di film-film India.

Saya segera menuju pos penjagaan dan menyampaikan maksud kedatangan. Naas, maksud itu tak langsung bersambut jawaban. Bapak penjaga pos—lupa namanya—justru memperhatikan saya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan garang.

Tak ada yang menarik perhatian saya selain kumis lebatnya Bapak Penjaga Pos. Selepas menatap puas, saya diarahkan ke bagian penerima tamu untuk meneruskan maksud dan tujuan.

Sesuai arahan yang disampaikan bapak penjaga pos, saya menemui polwan yang sedang bertugas menerima tamu.  Alhamdulillah, ke-angker-an di lobi tidak terjadi seperti di pos penjagaan. Satu hal yang terpenting, bagian penerima tamu tidak berkumis layaknya bapak penjaga pos.

Puji Tuhan, syukur saya panjatkan kepada Engkau, atas polwan tak berkumis itu.

Semua pasti sepakat.

Menunggu adalah pekerjaan yang menjenuhkan. Dan …, itulah yang saya alami selepas menulis maksud di buku tamu. Saya hanya terpaku di kursi lobi dengan sesekali melihat air hujan yang jatuh tak terkira. Untungnya, saya tak ada niat menengok dahan dan ranting serta pohon dan kabun yang pastinya basah semua.

Nyaris satu jam lebih saya menunggu beliau. Tapi, panggilan dari beliau belum kunjung datang. Saya masih duduk termenung dengan lattar hilir-mudik polwan dan polki yang melawati lobi dengan segambreng kesibukannya.  Dalam posisi duduk dan termenung sembari melihat kartu tamu, imajinasi saya muncul; seperti di rumah sakit yang sedang menunggu giliran dipanggil oleh suster untuk diarahkan ke ruang dokter.

Waktu terus berlalu.

Setelah puas bermain dengan imajinasi, saya dipanggil untuk menghadap ke ruangan beliau. Jantung saya berdetak kencang. Maklumlah, itu kali pertama bertemu dengan beliau. AKBP. Takdir Mattanete memersilakan saya masuk dan duduk di kursi yang diperuntukan bagi tamu.

Saya diam.

Beliau sibuk mengobrak-abrik koleksi buku yang terdapat di lemari belakang meja kerjanya.

“Seperti ini, Mas? Bisa?” tanya beliau, seraya menyodorkan dua buah buku entah siapa pengarangnya.

“Tidak, Bisa, Ndan.”

“Loh? Masak seperti ini tidak bisa? Katanya penulis.”

“Saya tidak bisa menulis seperti itu. Jika jauh lebih baik daripada itu, saya bisa.

AKBP. Takdir Mattanete melihat saya dengan tatapan serius. Ia kembali mengangguk dan sejurus kemudian memerintahkan ajudannya untuk memanggil Kepala Bagian Humas agar membawa saya ke ruang humas untuk memenuhi berkas-berkas yang saya butuhkan.

**

Sebulan kemudian …

Buku yang saya tulis pun sudah selesai.  Tapi, ternyata ‘cuaca’ tidak secerah yang diharapkan. Rencana dijadikan penyemangat anggota di Polres Tanjung Perak, ternyata tak sesuai sebagaimana mustinya. Alumnus AKPOL 1998 itu mendapat amanat baru untuk pindahtugas ke Baharkam, Mabes Polri.  

Saya sedikit terpukul kala itu.

Namun, apa yang saya rasakan, ternyata tidak berlaku bagi AKBP. Takdir Mattanete. Niat beliau tak berubah seiring berpindahnya tugas . Beliau tetap ingin buku yang saya tulis dilanjutkan. Jika pun tidak untuk anggotanya, buku itu diharapkan menjadi kisah yang memberikan pelajaran dan inspirasi untuk anak dan cucuknya.

Akhirnya, saya sedikit bisa bernapas lega, meski sebenarnya saya dirundung duka.  Bukan karena harapan kelahiran buku yang tidak sesuai rencana, tapi rasa nestapa itu lebih mengarah atas kepindahan AKBP. Takdir Mattanete dari Tanjung Perak. .

Sebenarnya, apa yang ingin saya tulis, AKBP.  Takdir Mattanete tidak tahu. Bahkan, tidak pernah merekomendasikan harus nulis ini dan itu. Beliau memberikan keleluasaan kepada saya untuk mengeksplor tentang tugasnya dari sudut pandang saya sebagai masyarakat. Terlepas baik atau buruk tentang kiprah dirinya maupun kepolisian di Indonesia, AKBP. Takdir Mattanete memberikan keleluasaan kepada saya dengan syarat apa yang saya ditulis dapat dipertanggungjawabkan.  

Assiyaaapp, Ndan, batin saya.

**

Februari 2017

Kuranglebih tiga minggu pasca menghadap beliau, buku itu rampung saya kerjakan. Buku yang kemudian saya beri nama ‘Nette Boy’—saya ambil dari sapaan akrab beliau di mata pewarta dan netizen Surabaya.

Nette Boy: Polisi Wangi Sejuta Prestasi, begitulah nama lengkap buku itu. Sebuah buku yang mengulas kiprah AKBP. Takdir Mattanete—yang dikenal dengan Nette Boy—tatkala ia menjadi Kasatreskrim Polrestabes Surabaya dan Kapolres Tanjung Perak. 

Pemberian judul pada buku itu tentu saja punya maksud tersendiri. Nette Boy diambil dari sapaan akrab beliau. Sedangkan Polisi Wangi, diambil dari kisah beliau dengan netizen yang mencium wangi sabun Giv, dan Sejuta Prestasi adalah menggambarkan kiprah beliau yang telah melakukan keberhasilan sebagai penumpasan kejahatan baik ketika menjabat Kasatreskrim maupun Kapolres Tanjung Perak.

Ketika buku sudah selesai saya tulis, saya menyerahkan ke beliau untuk mendapatkan koreksi. Tak banyak yang beliau komentari selain mengarahkan bagaimana kisah-kisah yang pernah dilalui bisa memberikan pembelajaran, pemahaman, dan edukasi kepada masyarakat dengan sentuhan seni yang lebih mengena.

Selebihnya, selain arahan bagaimana memberikan cerita yang menarik untuk pembaca, AKBP. Takdir Mattane juga memberikan koreksi kesalahan penulisan atas waktu kejadian perkara, tempat, bahkan penyebutan nama, seperti di email yang beliau kirim ke saya.


Sudah saya baca kalimat per kalimat, banyak masih perlu penyempurnaan supaya lebih serasa yang membaca juga ikut di dalam kejadian-kejadian tersebut, jadi pembaca ikut berkhayal dan bisa membayangkan kejadian-kejadian tersebut , seperti perbincangan-perbincangan itu sangat pas , jadi tidak membosankan dan seakan-akan pembaca pun membacanya seperti diaolog dalam novel yang menyajikan cerita fakta.seperti cerita pencabulan, cerita penangkapan di buat dalam kalimat-kalimat bercerita dengan ada korban, pelaku dan petugas seperti di novel-novel conan atau cerita detektif-detektif untuk membumbuhi buku ini maka akan semakin menarik. kemudian juga masih banyak kata-kata yang penulisan salah (resmob ( tertulis Remsmobm ), (mengerti ( tertulis mengeri ) dan ada beberapa kata-kata yang lain, ini biasanya karena sudah kecapean dan tidak terlalu fatal karena hanya salah ketik saja, tapi alangkah indahnya bila bisa di buat mendekati sempurna. tulisan mas din sudah sangat baik dan saya sendiri tidak mampu untuk buat tulisan seperti ini, tetapi 

mohon maaf bila cerewet dan beri sumbang saran untuk kesempurnaan penulisan ini. 

sangat mantaaappp..

sangat berterimaksih untuk tulisan ini. sangat mantaaappp..


Sungguh, saya sangat senang ketika beliau banyak mengurai kata di email itu. Tidak seperti di Whatsapp  yang hanya sepatah dua patah kata.

Seperti pepatah kuno yang mengatakan, ‘Roma tidak dibangun dalam semalam’. Begitupun berlaku bagi saya dalam berkarya. Tidak ada karya yang sekali jadi langsung benar dan bagus. Semua membutuhkan proses dan pembelajaran serta masukan dari oranglain.

AKBP. Takdir Mattanete tak hanya mengajarkan akan kisah heroiknya menumpas kejahatan semata, tetapi ia juga memberi perhatian dalam karya saya, termasuk jeli dalam kekurangan huruf dalam rangkaian kata yang saya torehkan.

Revisi kembali saya lakukan dan pengajuan kembali saya haturkan, begitu seterusnya hingga naskah itu tidak ada kesalahan pengetikan ataupun penyembutan nama, yang tentu akan berdampak fatal.

**

Seiring dengan itu—malam sambut dan pisah Kapolres—buku Nette Boy diperkenalkan ke khalayak ramai. Nette Boy: Polisi Wangi Sejuta Prestasi, telah dilaunching di bumi Banua.

Seiring dengan terpublikasikannya Nette Boy: Polisi Wangi Sejuta Prestasi  di sosial media, seiring itupula mengalir ucapan selamat atas launching buku itu. Malam itu …, adalah malam di mana peluncuran buku sekaligus malam siar bahwa Nette Boy: Polisi Wangi Sejuta Prestasi telah bisa diakses di toko buku seluruh Indoensia.

Seiring publik mengenal buku itu, sebagian kawan mengira saya sangat dekat dengan AKBP.  Takdir Mattanete.  Tentunya, anggapan itu tidak salah dan juga benar. Saya memang penulis Nette Boy, akan tetapi komunikasi saya dengan  Kapolres Banjar itu  bisa dihitung jari dan itupun hanya mengenai buku. Selebihnya—kalau tidak menyakut ide—tidak ada komunikasi dengan beliau—termasuk hingga saat ini.


Ditulis berdasarkan kisah nyata penulis Nette Boy : Polisi Wangi Sejuta Prestasi

***

975total visits,8visits today

Tinggalkan Balasan