Komitmen AKBP. Agus Sudaryatno terhadap Kriminalitas di Kota Santri

Kriminalitas itu meresahkan. Benar nggak sih?Jawabannya bisa benar dan bisa tidak. Tergantung dari sudut mana menilainya. Jika dari sudut pandang orang yang menyukai ketentraman, pasti sepakat jika kriminal itu meresahkan. Nah, beda halnya kalau melihat dari sudut pandang pelaku. Pastinya, pelaku kriminalitas, akan merasa tidak tenang apabila sehari saja tidak membuat keresahan.

Faktanya, curanmor, curat, perjudian, pengroyokan, kasus narkoba dan  hal-hal yang meresahkan ketertiban dan keamanan, seolah tak pernah ada habisnya.

Mereka—pelaku kriminalitas—seolah mati satu tumbuh seribu. Padahal, pihak aparat juga tak henti-hentinya menumpas pelaku kriminalitas di wilayah hukum mereka. Namun, nyatanya, kriminalitas masih saja terjadi. Dampaknya, masyarakat semakin takut beraktivitas karena marak perilaku kejahatan—yang mereka alami atau melihat dari tayangan pemberitaan.

Angka kriminalitas di suatu wilayah tak lepas dari jumlah pelaku kriminalitas. Terlebih lagi, di wilayah perkotaan, yang notabene sarat dengan tingginya kriminalitas. Padahal, tak sedikit masyarakat urbanisasi dari desa ke kota dengan harapan mendapat pekerjaan yang layak.  Namun, begitu sampai di tempat tujuan, mereka baru tersadar jika mencari pekerjaan di kota, ternyata tidak semudah omongan tetangga di desa.

Faktanya, mencari kerja di kota sulit jika tak diimbangi skill. Bahkan, tak menutup kemungkinan orang itu—yang sedang mencari pekerjaan dan tak kunjung dapat pekerjaan—bukan tak mungkin menghalalkan segala cara untuk mendapatkan penghasilan.

Menurut data BPS di tahun 2015 sampai 2017, angka kriminalitas di Indonesia telah mengalami penurunan. Korban kejahatan setiap seratus ribu penduduk pada tahun 2015 sekitar 140 orang, menjadi 140 orang pada tahun 2016, dan menurun sebanyak 129 orang pada tahun 2017.

Tindak kriminalitas itupun tak pelak terjadi di wilayah hukum Pasuruan Kota. Meski Pasuruan adalah kota berjuluk ‘santri’, bukan berarti tindak kriminalitas tidak terjadi.  Faktanya,  di tahun 2017 terdapat 669 kasus dan terdapat 547 kasus di tahun 2018, yang berhasil dicatat oleh BPS.

Di antara sekian banyak kasus kriminalitas, kasus narkoba adalah kasus yang menduduki posisi paling tinggi—dari 141 kasus di tahun 2017—menjadi 156 di tahun 2018.

Meski kriminalitas ‘hilang satu tumbuh berganti’ dan pelaku kriminalitas terus mencari cara agar terhindar dari penangkapan kepolisian, akan tetapi selaku penanggungjawab harkamtibmas di Pasuruan Kota, AKBP. Agus Sudaryatno tak mau kalah dengan mereka yang telah menebar kejahatan.

Kapolres Pasuruan Kota itu terus meningkatkan taktik dan upaya pemberantas di wilayah hukumnya. Tujuannya, tak lain untuk menumpas tindak kejahatan yang telah meresahkan  masyarakat serta membuat efek jera pelaku agar tidak mengulangi perbuatan yang merugikan dan meresahkan masyarakat itu.

Adapun upaya AKBP. Agus Sudaryatno untuk mengungkap kriminalitas di wilayah hukumnya adalah dengan terus melakukan peningkatan kinerja jajaran dengan semangat dan kegigihan menciptakan kehidupan yang aman, damai, dan kondusif.

Selama seratu hari kepemimpinannya di Polres Pasuruan Kota, Mantan Kapolres Hulu Sungai Utara itu berhasil mengungkap sebanyak tujuh puluh tujuh dari berbagai kasus kriminalitas lengkap dengan para pelaku kejahatan yang telah meresahkan masyarakat itu.

Curanmor, curat, curas, perjudian, pengeroyokan dan kasus yang paling menonjol di Pasuruan Kota—kasus narkoba—berhasil diungkap sebagaimana kasus itu merupakan kasus yang menjadi perioritas AKBP. Agus Sudaryatno untuk diberantas—masa seratus hari kepemimpinannya—mengungkap 131 kasus dari total 186 kasus—70.4% kasus telah berhasil ditangani oleh AKBP. Agus Sudaryatno.

Tak hanya itu saja, kasus lain terkait narkoba, juga tak pelak membawa keberhasilan tersendiri. AKBP. Agus Sudaryatno juga berhasil mengungkap tiga puluh lima kasus terkait penyalahgunaan narkoba lengkap dengan empat puluh tiga pelaku yang berhasil diamankan.  Dari tiga puluh lima kasus yang berhasil diungkap, diketahui bahwa dua puluh delapan di antaranya adalah kasus narkotika jenis Shabu, yang berat barang bukti itu mencapai 32.22 gram. Semantara ungkap kasus lainnya, AKBP. Agus Sudaryatno juga berhasil mengungkap tujuh kasus dengan delapan tersangka kasus narkotika dengan berbagai jenis, seperti Pil Trihek, Pil Duble L, dan Pil Dextro.

Pengungkapan berbagai kasus kriminalitas di masa kepemimpian seratus hari menahkodai  Polres Pasuruan Kota, merupakan keberhasilan gemilang, yang telah dilakukan AKBP. Agus Sudaryatno dan jajaran. Kapolres Pasuruan Kota itu juga mengakui dan mengapresiasi di depan awak media ketika menggadakan press release bahwa keberhasilan pengungkapan berbagai kasus kriminalitas dikarenakan adanya semangat dan kegigihan personel Polres Pasuruan Kota yang bahu-membahu menumpas bentuk kejahatan di kota santri itu.

“Keberhasilan pengungkapan berbagai kasus ini karena semangat dan kerja keras serta kegigihan jajaran Polres Pasuruan Kota.” ujar AKBP. Agus Sudaryatno, di hadapan awak media, tatkala melaksanakan press release.

Meski hasil ungkap bisa dikatakan membanggakan, akan tetapi Kapolres Pasuruan Kota itu, tidak lantas bereuforia. Mantan Kapolres Hulu Sungai itu berkomitmen akan terus menuntaskan kasus lain yang masih belum terungkap dan akan terus berupaya meningkatkan pelayanan dalam rangka membasmi keresahan masyarakat yang disebabkan oleh pelaku tindak kejahatan.

Di hadapan rekan media, AKBP. Agus Sudaryatno juga menyampaikan komitmennya. Ia akan terus mengarahkan Polri di Pasuruan Kota untuk meningkatkan integritas agar kamtibmas di wilayah hukumnya dapat terwujud dengan sempurna, sehingga Pasuruan Kota dapat menjadi kota yang aman, tertib dan sejahtera.

Komitmen AKBP. Agus Suryatno memberantas  kriminalitas adalah upaya menciptakan  wilayah hukum yang aman, tertib dan kondusif, agar masyarakat bisa tenang menjalankan aktifitas.  Hingga sampai saat ini,  upaya itupun terus dilakukan oleh AKBP. Agus Sudaryatno guna  mewujudkan masyarakat yang nyaman, aman, dan bebas dari perilaku kejahatan.


Ditulis oleh : Nurul Infitah
Penulis lahir di Jember, 15 Juni 1997. Saat ini penulis tercatat sebagai mahasiswa semester delapan di Universitas Jember dengan konsentrasi jurusan Pendidikan IPS dan Program Studi Pendidikan Ekonomi. Selain menjadi mahasiswa, penulis juga aktif di sebuah komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) Jember, yang merupakan komunitas penerima beasiswa Bank Indonesia. Ketertarikannya di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi membuatnya terus aktif mengajar di beberapa yayasan, melaksanakan pengabdian di masyarakat dan mengikuti research di bidang ekonomi.

452total visits,3visits today

Tinggalkan Balasan