Harapan AKBP. Bagus Suseno di Puncak Harlah Nahdatul Ulama ke-73

Lahirnya kemerdekaan Indonesia tentu tak lepas dari perjuangan pahlawan. Jasa tanpa pamrih dan seluruh peluh keringatnya sudah seyogyanya tidak dilupakan. Salah satu pahlawan ulama Indonesia adalah  Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asyari, KH. Hasyim Asyari terkenal dengan resolusi jihad yang memecahkan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, yang merupakan peperangan besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Pasca kemerdekaan diproklamasikan, rupanya Indonesia belum benar-benar terbebas dari penjajahan. Serangan penjajah dari segala arah itupun tak pelak menjadi ujian bangsa ini mempertahankan kedaulatan negara yang baru saja terlahir.

Untuk mempertahakan kemerdekaan yang telah diproklamirkan berikut ketidakinginan bangsa Indonesia menerima penjajahan kembali, seluruh elemen masyarakat pun menyambut mereka dengan perlawanan  sengit dan—salah satu perlawanan itu dilakukan santri Nahdatul Ulama—dengan resolusi jihad dari KH. Hasyim Asyari dengan slogan Hubbul Wathon Minal Iman—mencintai negara adalah sebagian dari iman.  

Persatuan dan kesatuan yang berlandaskan pancasila merupakan  hal penting dalam pembangunan masyarakat, bangsa, maupun negara. Terlebih lagi, bila melihat fenomena yang terjadi belakangan ini. Saling tuduh, merasa paling benar, hoax  yang menyebabakan pertikaian sesama anak bangsa, adalah segelintir dinamika yang terjadi di era kemudahan akses informasi dan teknologi

Polri sebagai abdi negara terus berupaya memberikan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat. Membangun sinergitas dalam rangka mempererat persatuan dan kesatuan, merupakan bagian tugas polri guna terwujudnya Harkamtibmas yang kondusif.

Sinergitas perlu ditekankan oleh semua lapisan organisasi masyarakat guna terjalin persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang berdaulat dalam bingkai kebhinekaan. Sinergitas dalam bentuk kegiatan masyarakat juga perlu didukung dengan apresiasi secara penuh oleh Polri sebagai representatif negara yang selalu hadir di tengah masyarakat seperti halnya yang dilakukan  AKBP. Bagus Suseno saat menghadiri acara Harlah NU ke-73.

AKBP. Bagus Suseno sendiri sangat memahami bahwa peran Nahdatul Ulama selama ini sangat besar dalam mendukung pembangunan kehidupan beragama yang berlandaskan Pancasila. Oleh karena itu, sebagai organisasi Islam, AKBP. Bagus Suseno sangat menaruh harap agar Nahdatul Ulama di wilayah hukumnya dan Indonesia pada umumnya, hendaklah tidak jemu untuk menjalin sinergitas dengan Polri dan menjadi pelopor serta penguat kebhinekaan dalam beragama, berbudaya, suku maupun ras yang ada di negeri Nusantara ini.

Selain itu, pada momen harlah Nahdatul Ulama ke-73, yang juga dihadiri oleh Bupati Tapin, HM. Arifin Arpan, bersama wakil Bupati Tapin, H.Syafruddin Noor, Ketua TP PKK, Hj Ratna Ellyani, Kabag Ops, Mohammad Fihim, Kajari Tapin, perwakilan Kodim, forkominda para Habaib, alim ulama, perwakilan Ormas, instansi, lembaga, pengurus wilayah NU Provinsi Kalsel, serta jajaran pengurus NU se-Kab.Tapin bersama para tamu undangan, AKBP. Bagus Suseno berharap Nahdatul Ulama semakin meningkatkan  sinergitas bersama Polri dalam mengeratkan kebhinekaan yang selalu dikoyak oleh pihak tak bertanggungjawab.

AKBP. Bagus Suseno sendiri tidak memungkiri bahwa organisasi masyarakat seperti Nahdatul Ulama sangat memegang peranan penting dalam kesatuan dan persatuan bangsa. Oleh karenanya, AKBP. Bagus Suseno ingin di Tapin terjadi sinergitas antara kedua lembaga sehingga terjalin wadah untuk bertukar pemikiran dan saling melengkapi agar Kamtibmas di wilayah hukum Tapin bermuara pada persatuan dan kesatuan dan bukan malah sebaliknya. Untuk mencapai tujuan itu, keduanya—Polri dan organisasi keagamaan masyarakat— tentu membutuhkan sinergitas yang lebih intens untuk menjaga ketertiban dan keamanan dalam persatuan.

“Nahdatul Ulama diharapkan semakin dapat menjadi pemersatu di negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama seperti Indonesia ini.” harap AKBP. Bagus Suseno


Penulis lahir di Jember, 15 Juni 1997. Saat ini penulis tercatat sebagai mahasiswa semester 8 (delapan) di Universitas Jember dengan konsentrasi jurusan Pendidikan IPS dan Program Studi Pendidikan Ekonomi. Selain menjadi mahasiswa, penulis juga aktif di sebuah komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) Jember, yang merupakan komunitas penerima beasiswa Bank Indonesia. Ketertarikannya di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi membuatnya terus aktif mengajar di beberapa yayasan, melaksanakan pengabdian di masyarakat dan mengikuti research di bidang ekonomi.

698total visits,1visits today

Tinggalkan Balasan