Taktikal untuk Haul Guru Sekumpul Ke-XIV

Haul yang tujuannya adalah memperingati wafatnya ulama,  selalu menjadi magnet masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada para perwaris nabi yang telah wafat.

Tersebutlah sebuah negeri yang tersohor dengan julukan Nusantara. Negeri yang kini dikenal dunia dengan nama Indonesia. Negeri yang dijadikan kedatangan turis mancanegara.

Tentu, menjadi suatu kebanggaan bertumpah darah di negeri ini. Selain masyarakatnya ramah, kekayaan alamnya pun berlimpah. Singkatnya, Indonesia itu surga dunia. Budaya saling menghormati dan menghargai masih lekat dan menjadi tradisi hingga kini. Budaya, suku, ras, dan agama, yang beragam di negeri ini, bisa tumbuhkembang karena masyarakat saling menghormati satu sama lain, terlebih lagi bila menyangkut tokoh agama.

Dikarenakan masyarakat Indonesia mayoritas memeluk agama Islam, maka budaya takdim kepada ulama, senantiasa terpatri dalam sanubari mereka. Tidak hanya ketika ulama itu masih hidup. Kecintaan masyarakat muslim kepada ulama-nya, tidak lekang kendati mereka telah menghadap Sang Pencipta.  Ziarah hingga haul menjadi tradisi masyarakat muslim sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap ulama.

Begitulah kiranya di negeri ini.

Selain kaya akan kekayaan alamnya, Indonesia juga memiliki ulama-ulama tersohor dan berkharistmastik dan dikagumi banyak orang, seperti Abah Guru Sekumpul, ulama berkharismatik dari Martapura, Kalimantan Selatan.

Abah Guru Sekumpul, begitulah masyarakat luas mengenal sebutan beliau. Nama asli beliau adalah Muhammad Zaini Abdul Ghani. Masyarakat juga ada yang mengenal beliau dengan sebutan Guru Ijai.

Abah Guru Sekumpul atau Guru Ijal, lahir tanggal sebelas, bulan kedua, tahun seribu sembilan ratus empat puluh dua—bertepatan tanggal 27 Muharam 1361 H. Beliau dilahirkan di Kampung Tanggul Irang Seberang, Martapura, Kalimantan Selatan, yang telah wafat tahun 2005, ketika usia beliau menginjak enam puluh tiga tahun.

Abah Guru Sekumpul dikenal masyarakat sebagai waliyullah asal Kalimantan Selatan, yang telah mampu menyatukan syaria’at, tarekat, dan hakikat pada dirinya. Itulah mengapa, Abah Guru Sekumpul senantiasa berpesan untuk tidak mudah tertipu dengan segala yang aneh.  Mungkin, bila istilah orang Jawa, pesan itu dikenal dengan : ojo gumunan.

Selain ilmunya yang tinggi, hal yang membuat Abah Guru Sekumpul disegani dan dihormati, karena beliau tawadhu dan sederhana hingga masyarakat meyakini jika Abah Guru Sekumpul merupakan ulama bermaqom tinggi.

9-11 Maret 2019

Di hari itu, Martapura, Kalimantan Selatan, menyelenggarakan hari peringatan untuk Abah Guru Sekumpul ke-XIV. Meski haul diselenggarakan di Martapura, Kalimantan Selatan, tapi tamu yang berdatangan tidak hanya dari Kalimantan Selatan saja. Masyarakat dari luar Kalimantan Selatan, juga berdatangan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Haul Guru Sekumpul dibanjiri oleh manusia yang sangat mencintai perwaris para nabi itu.  Untuk mengantispasi serta menertibkan para tamu yang datang, maka persiapan haul itu diselenggarakan jauh-jauh hari. Jalur lalu-lintas dan hal-hal yang berhubungan dengan kelancaran haul, menjadi prioritas aparat keamanan di wilayah tersebut. Polda Kalimantan Selatan dan lintas instansinya—terutama Polres Banjar—yang merupakan satuan kerja wilayah Polda Kalimantan Selatan, harus mempersiapkan  pemolaan pengamanan dan penertiban agar Haul Abah Sekumpul ke-XIV itu berjalan lancar.

Guna memberikan keamanan dan kenyamanan yang berketertiban, AKBP. Takdir Mattanete, segera memulai persiapan. Jajaran dan anggota-nya disigapkan sejak jauh hari. Kapolres Banjar itu tak ingin acara memperingati wafatnya ulama kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga : AKBP. Takdir Mattanete, Kapolres Penggemar Buku

Memberikan pelayanan berupa keamanan dan kenyamanan, memang hal penting yang harus diupayakan selain acara itu sendiri. Pendek kata, jika masyarakat—tamu yang hadir nyaman—niscaya acara berlangsung dengan tertib.

Gelar pasukan pun diselenggarakan dan Kapolda Kalimantan Selatan, Inspektur Jenderal Polisi. Yazid Fanani, berlaku sebagai inspektur upacara. Turut hadir di gelar pasukan itu, Gubernur Kalimantan Selatan, H. Sahbirin Noor, dan Pejabat Utama Pemrov Kalimantan Selatan. Selain itu, terdapat juga Kompi Gabungan Peleton Perwira, Kompi Gabungan Peleton TNI, Sat Brimob dan Satpol Air, Kompi Gabungan Peleton Personil Polda Kalsel, Kompi Gabungan Peleton Dishub, Satpol PP, Senkom Mitra Polri, Damkar Kabupaten Banjar dan Relawan Haul Guru Sekumpul. Kompi Gabungan dan tanpa ketinggalan gabungan pleton Polres, Polda Kalimantan Selatan, antara lain : Polresta, Polres Batola, Polres Banjarbaru, Polres Banjar, Polres Tala, dan Polres dan Tapin. Sebelum acara ditutup dengan doa, AKBP. Takdir Mattanete, Kapolres Banjar, memimpin Tactical Floor Game.  

“Untuk menciptakan suasana aman dan kondusif, semua pihak harus terjun dan berkolerasi satu sama lain, saling bekerjasama agar acara lancar,” kata Kapolres Banjar saat berkesempatan memaparkan Taktical Floor Game.

Taktical Floor Game selain bertujuan menjaga ketertiban dan keamanan, juga untuk meminimalisir masyarakat yang berpotensi pingsan dikarenakan berdesak-desakan.

“Tahun lalu, tidak sedikit dari tamu haul yang jatuh pingsan karena berdesakan. Mereka kekurangan oksigen karena terhimpit tamu lainnya. Untuk itu, haul Abah Sekumpul kali ini, kita optimalkan agar jalan bisa lancar dan tidak terjadi desak-desakan seperti tahun lalu.” Pungkas Kapolres Banjar itu sebelum mengakhiri Taktikal Floor Game dalam rangka mengamankan dan menertibkan serta memberikan kenyamanan di Haul Abah Guru Sekumpul ke-XIV.

***

Tinggalkan Balasan