Kapolres Peduli Pesakitan Masyarakat Kecil

AKBP-Alfian Nurrizal – Kapolresiana.com

Upaya kepedulian untuk Rosalia tak berhenti sampai di situ saja. Setelah ketiga tawaran ditolak oleh pihak keluarga Rosalia, datanglah Kapolresta Probolinggo menawarkan hal yang sama.

Terus terang, saya sangat suka nonton film. Apalagi, kalau filmnya mengisahkan tentang perjalanan seseorang dalam hal pencapaian kesukesan.

Meski demikian—suka nonton film motivasi—saya tak menampik akan menonton bila disuguhi film tentang bencana ataupun musibah. Bukan karena saya suka akan penderitaan, akan tetapi dari film itulah saya bisa belajar dan mengambil suatu hikmah. Toh, bukankah demikian tujuan diciptakan film, lagu, hingga buku? Karya-karya tersebut diciptakan tak lain sebagai sarana untuk berbagi pengalaman, pelajaran, memotivasi, hingga hikmah yang bisa diambil oleh pembaca atau penonton.

Satu hal yang selalu menjadi pusat perhatian saya ketika menonton film musibah adalah adanya korban anak kecil ataupun orangtua. Meski itu hanya sebuah film, tetap saja saya menaruh kesedihan bahkan airmata tatkala melihat anak kecil ataupun orangtua yang menjadi korban musibah. Apalagi, bila anak kecil ataupun orangtua itu dijabarkan bagaimana mereka merasakan pesakitan hingga kemudian ajal menjemput.

Saya tak bermaksud me-review sebuah film. Apa yang saya uraikan semata-mata ingin menyampaikan tentang nurani kecil manusia tak bisa membohongi akan suatu kebenaran. Sejahat dan sesangar apapun manusia, kalau mau jujur pada nuraninya, pasti akan merasakan kesedihan bila melihat pesakitan di depan mata. Hanya saja, tak sedikit manusia yang ditutupi egosentrisnya ketika melihat musibah sehingga kejujuran nurani terhempas seiring kepongahan dan keapatisan akan penderitaan yang dialami sesamanya.

Saya juga mengakui. Saya bukanlah orang yang tanggap dan segera turun tangan tatkala melihat ataupun mendengar suatu musibah. Keapatisan saya masih sangat besar dalam hal ini dan masih perlu perjuangan untuk mengalahkan egosentris saya dengan melihat dan mengambil contoh dari orang-orang yang begitu peduli terhadap sesama. Terus terang, saya suka merinding bila melihat ada orang yang dapat meringankan beban oranglain meskiapa yang dilakukannya tidak dihargai dan ditanggapi.

Tak hanya di-film kita bisa melihat. Tak pula pada buku kita membaca kisah kepedulian mereka. Di sekeliling—kalau mengamati dengan seksama, masih banyak orang-orang yang melakukan aksi kepedulian guna meringankan penderitaan sesama manusia.

Di Jalan Masjid Alkaromah, RT 09/03 Kelurahan Kedopok, Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo, tersebutlah anak berusia tujuh tahun bernama Rosalia. Seharusnya, anak seusia Rosalia bisa menikmati keceriaan dalam masa anak-anaknya. Namun, suratan berkata lain. Bocah tujuh tahun itu harus mengalami Hidrosepalus—penumpukan cairan pada rongga otak. Hidrosepalus (hydrocephalus) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika cairan otak serebrospinal menumpuk di ruang tengkorak dan menyebabkan otak membengkak. Kondisi ini sering terjadi pada anak-anak bayi ketika ubun-ubun belum menutup sehingga penumpukan cairan bisa menyebabkan besarnya kepala melebihi ukuran normal—yang bila tidak segera ditangani akan merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak.[

Tahun 2011, orangtua Rosilia pernah ditawarkan bantuan operasi dari Walikota Probolinggo kala itu, Bapak Buchori. Agustus, 2017, tawaran bantuan untuk pengobatan Rosalia kembali datang dari Yayasan Sosial Lembaga Management Infaq kota Probolinggo. Di tahun yang sama di bulan Oktober, Ibu Rukmini, Walikota Probolinggo saat ini, kembali mengulurkan tangan untuk mengentaskan Rosalia dari pesakitan. Namun, ketiga bantuan yang ditawarkan, ditolak oleh pihak keluarga Rosalia. Alasannya, takut dengan dampak pasca operasi sehingga mereka lebih memilih pengobatan tradisional sebagai upaya penyembuhan sejak Rosalia lahir.

Upaya kepedulian untuk Rosalia tak berhenti sampai di situ saja. Setelah ketiga tawaran ditolak oleh pihak keluarga Rosalia, datanglah Kapolresta Probolinggo menawarkan hal yang sama. Bersama Tim Medis dari Rumah Sakit Haji Sukolilo, Alfian Nurrizal memberikan pengertian dan pemahaman yang lebih mendalam kepada keluarga Rosalia dengan menunjukkan sebuah video yang berisi bagaimana operasi Hidrosepalus ditangani.

|Baca juga : Polisi Millenial : Aksi Sebuah Kepedulian

“Jadi, Ibu dan Bapak, tidak perlu khawatir. Tim medis akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk kesembuhan Dik Rosalia. Selebihnya, kita berdoa agar operasinya lancar,” ujar Kapolresta Probolinggo seusai mereka melihat video operasi Hidrosepalus.

Bu Enti, Ibunda Rosalia, akhirnya luluh setelah mendengar penjelasan AKBP. Alfian Nurrizal. Bu Enti sejutu dengan tawaran orang nomor satu di Polresta Probolinggo, yang bermaksud memboyong Rosalia dari kediamannya menuju Rumah Sakit Haji Sukolilo.

“Enggeh, Pak Kapolres, saya setuju.”

“Terima kasih, Ibu.” Alfian berbinar.

“Tapi …,” nada Bu Enti terdengar nanar.

“Tapi apa, Bu?”

“Pak Kapolres janji ya kalau operasi ini akan baik-baik saja,”

Alfian Nurrizal mengurai senyum. “Kita berdoa, Ibu. Sebelum Dik Rosalia di operasi, Tim Medis akan melakukan CT-scan. Dari hasil CT-Scan, nanti akan diambil langkah selanjutnya. Dioperasi atau kita lakukan terapi,” ujar Alfian.

“Terima kasih, Pak Kapolres. Saya hanya pasrah dan berdoa, semoga anak saya sembuh dan bisa tumbuh seperti anak lainnya,” ucap Bu Enti dengan derai air mata.

Seusai restu bulat didapat dari Bu Enti, Alfian Nurrizal pun segera membawa Rosalia ke Rumah Sakit Haji Sukolilo dengan menggunakan mobil ambulan milik Polres Probolinggo Kota.

Alfian Nurrizal, tentu bukan satu-satunya orang di negeri ini yang melakukan kepedulian dengan sesama. Namun, dari sosoknya kita bisa belajar bagaimana pengalaman atas kegagalan orang lain, tidak dijadikan patokan ketika ingin melakukan hal serupa. Kegagalan ketiga bantuan yang ditawarkan ke keluarga Rosalia, justru dijadikan sebuah wacana dan pemahaman akan tindakan yang mungkin tidak dilakukan oleh orang sebelumnya. Alfian Nurrizal tidak lantas menyurutkan niatnya kendati tahu alasan kegagalan orangnya sebelumnya yang hendak memberikan bantuan pengobatan kepada Rosalia. Dengan perjuangan penuh keyakinan, akhirnya keluarga Rosalia pun luluh dan memberikan restu atas bantuan yang ditawarkan Alfian Nurrizal.

Pada setiap kejadian kita dapat menempa diri. Melihat, mendengar, dan merasakan adalah cara menjadikan diri sebagai manusia sebenarnya.

Pada Dik Rosalia, kita belajar tabah dan tegar atas suratan yang telah dikuasakan Tuhan kepadanya. Dan, pada sosok Alfian Nurrizal, kita juga bisa belajar bahwa seragam dan jabatan bukan semata-mata untuk digadang-gadangkan akan tetapi untuk dibuktikan. Setidaknya, orang nomor satu di Polres Kota Probolinggo itu telah membuktikan bahwa Polri tak hanya mengurus kejahatan kriminalitas saja, akan tetapi juga mengurus kejahatan berupa penyakit yang menyerang generasi bangsa seperti Hedrosepalus yang menyerang Rosalia.

Tak hanya pada film saja kita bisa belajar dan mengambil suatu hikmah. Sejatinya, di sekeliling kita terdapat pelajaran yang dapat dijadikan wahana penggemblengan diri untuk menjadi manusia sesungguhnya—bukan manusia jadi-jadian—yang hanya bisa mencaci dan menebar kebencian.



Tulisan ini merupkan cuplikan dari buku Polisi Millenial : Sebuah Aksi Kepedulian, dengan judul Kecup Sayang untuk Rosalia, yang ditulis oleh Dien Albanna,

Tinggalkan Balasan