Heroisme Anak Tapal Perbatasan

Saya bangga atas tindakan yang dilakukan Johny. Ia memiliki semangat nasonalisme dan patriotisme, yang diusianya terbilang sangat muda—Christian Tobing, Kapolres Belu.

Belu, 17 Agustus2018

Yohanes Gama Marchal Lau, empat belas tahun, pelajar Seorang pelajar SMP kelas VII SMPN Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, mendadak viral karena aksi heroisme-nya memanjat tiang bendera saat upacara peringatan HUT RI ke-73 di Pantai Mota’ain, Desa Silawan, Kabupaten Belu.

Johny—begitu saapaan akrabnya—menjadi terkenal karena tali tiang bendera yang putus. Johny yang memiki rasa peduli tinggi itupun langsung terjun ke lapangan—yang awalnya—ia di UKS karena sakit perut sehingga ia tidak bisa mengikuti upacara kemerdekaan. Namun, begitu mendengar tali tiang bendera putus,  spontan langsung keluar dari UKS menuju lapangan dan dengan cekatan memanjat tiang bendera untuk menyelamatkan prosesi upacara kemerdekaan yang sempat tersendat karena tali bendera yang putus itu.

Aksi Johny pun tak pelak menjadi konsumsi rekaman hingga kemudian disebarluaskan dan menjadi buah bibir di masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Johny pun menjadi terkenal karena berjuangannya dalam mengupayakan bendera merah putih tetap bisa berkibar.

Tentu anak-anak seperti Jhonny harus mendapatkan acungan jempol. Diumurnya yang masih menginjak empat  belas tahun ia telah memiliki patriotisme yang tinggi. Anak yang tinggal di perbatasan Republik Indonesia – Timor Leste itu memang memiliki rasa cinta Indonesia yang begitu apik. Ia juga megaku bahwa sejak kecil selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk mencintai NKRI. Itulah mengapa,  setiap HUT RI, meski kondisi sakit, seluruh keluarganya akan tetap berupaya menghadiri upacara HUT kemerdekaan negerinya.

Dibalik viral-nya video yang merekam aksi heroiknya,  rupanya terdapat kisah pilu dari Johnny. Ia hidup di keluarga yang memilliki keterbatasan ekonomi, tinggal di perbatasan yang jarang mendapatkan sorotan dengan baik oleh pemerintah. Johnny merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara; lima laki-laki dan empat perempuan. Satu saudaranya telah meninggal dan lima saudaranya telah berkeluarga dengan pekerjaan seadanya.

Sekarang, orangtua Jhonny sedang berjuang membiayai pendidikannya. Mirisnya lagi, ayah Johnny,  Bictorino Fahik Marchal, ternyata seorang Komandan Peleton salah satu organisasi Pasukan Pejuang Integrasi Besi Merah Putih (BMP) ketika di Balibo, Timor Leste, yang kini tengah tidak bekerja dikarenakan menderita  asma. Begitupun dengan ibu Johny, ia hanya bekerja ketika terjadi musim asam; memetik asam lalu dijual dan dari hasil itu dibelikan  kayu bakar dan bakar roti  yang dibantu oleh Jhony.

Aih, rupanya perjuangan Johny masih panjang.

Selain perjuangan menyelamatkan bendera merah putih yang talinya putus, Johny juga harus berjuang untuk menjadi tulang punggung keluarganya, kini maupun kelak. Namun, kendati kehidupannya terbilang kesusahan,  hebatnya lagi kedua orangtuanya tidak pernah menanamkan kebencian kepada negerinya. Justru, kedua orangtuanya—terutama ayahnya—sering memberikan pelajaran nasionalisme dan patriotik hingga ajaran itupun membuahkan hasil seperti aksi heroisme yang dilakukan Johny di kala negeri ini memperingati serta merayakan kemerdekaan ke-73.

Baca Juga : AKBP. Christian Tobing Me-refresh Perwira Polres Belu

Sebagai anak yang langsung viral dalam hitungan jam, Johny mendapat banyak sorotan. Bahkan banyak yang mengapresiasi aksinya hingga diberikan beasiswa dari PLN dan Panglima TNI hingga jenjang S1. Tak sampai disitu saja. Melalui Menteri Pemuda dan Olah Raga, pemerintah pusat juga mengundang Johny beserta orangtuanya ke Jakarta untuk makan siang dan bertemu presiden Joko Widodo di istana Negara.

Selain itu, apresiasi juga diberikan Christian Tobing untuk Johny Gala. Kapolres Belu itu tak bisa menyembunyikan perasaan haru dan bangga saat melihat aksi heroisme Johny hingga Christian Tobing bersama Dandim 1605 Belu, Lektkol Czi I Gusti Putu Dwika, dan Danstagas Pamtas RI-RDTL  memutuskan untuk datang ke rumah Johny seusai upacara kemerdekaan. Kedatangan Forkompimda Plus di Belu itupun disambut hangat dan ramah oleh kedua orangtua Johnya; Beterino Fahik Marsal dan Ibu Lorensa Gama.

Di rumah yang jauh dari terbilang mewah, Johny menceritakan latarbelakang mengapa ia rela menahan sakit dan memilih untk bergegas menuju lapangan untuk menyelamatkan merah putih yang tersendat berkibar. Semua dilakukan spontanitas, begitu katanya. 

Saat mendengar tali bendera putus dan butuh pemanjat, Johny langsung tergerak untuk menajdi pemanjat. Tidak ada maksud apa-apa selain memang ingin menjadi penyambung tali yang putus. Melihat aksi heroisme pelajar SMP itu, semua yang hadir menaruh decak kagum tanpa terkecuali Christian Tobing.  Atas aksi heroisme anak di tapal batas itu, Johny pun mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk Christian Tobing, yang atas nama Polres Belu memberikan uang tunai dan perlengkapan sekolah.

Apa yang terjadi di dunia ini memang dipenuhi dengan misteri. Di balik kemustahilan, pasti ada kemungkinan. Niat baik pasti akan berbuah baik. Pun, sebaliknya. Hukum tabur tuai masih berlaku sampai kapapun kendati dunia ini telah digulung dengan fenonema kiamat.

Siapa sangka, niat tulus ingin menyelamatkan jalannya upacara kemerdekaan yang tersendat, Johny pun mendapatkan apresiasi serta membuka mata generasi bangsa yang selama ini masih gemar merendahkan negerinya.

Johny tidak hanya membuka mata bangsa ini tentang bagaimana seorang anak empat belas tahun yang nekad memanjat tiang bendera. Jauh dari itu, Johny dan keluarganya mengajarkan kepada kita semua bahwa kesusahan yang dialami  bukan lantas dijadikan alasan untuk menghujat dan memaki negerinya. Kepada Ayah Johny kita juga perlu belajar bahwa sesusah apapun hidup, tidak alasan untuk tidak memberikan pelajaran nasionalisme kepada anaknya sebagaimana mereka merupakan tunas dan generasi bangsa yang bertanggungjawab terhadap kelangsungan maupun kehancuran negeri ini kelaknya.

Siapa sangka, melalui aksi nekatnya, pendidikan Johny terjamin hingga S1 dan apresiasi atas heoirsmenya itupula ia bisa membantu perekonomian keduaorangtuanya dari lembah kesusahan.  Namun, satu hal yang pasti, seharusnya melalui Johny kita tersadar bahwa sebagai generasi bangsa tugasnya adalah meneruskan cita-cita para pahlawan dalam mempertahankan pancasila—bukan malah sebaliknya—berupaya mengubah ideologi bangsa dengan lainnya.

Semoga, yang kamu lakukan bisa menginspirasi anak-anak seusiamu dan bermunculan  tunas dan generasi bangsa yang memiliki rasa cinta tanah air dan patriotisme,” kata Christian Tobing seraya mengusap pundak Johny dengan penuh bangga.

***

Tinggalkan Balasan